Kawal ibu menyusui, kawal masa depan bangsa
Menyusui bukan sekadar urusan pribadi, melainkan kerja publik yang butuh dukungan nyata negara dan lingkungan. Negara harus hadir untuk memastikan ibu menyusui dengan aman.
Menyusui sering dianggap sebagai keputusan pribadi seorang ibu. Padahal, keberhasilan menyusui sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, fasilitas kesehatan, regulasi ketenagakerjaan, dan budaya tempat kerja.
Table Of Content
Seorang ibu dapat memiliki niat kuat untuk memberikan ASI eksklusif, tetapi niat tersebut mudah runtuh ketika ia kembali bekerja tanpa ruang laktasi, tanpa waktu memerah ASI, dan tanpa dukungan atasan.
Setelah cuti melahirkan habis, ia kembali ke kantor dengan membawa perlengkapan, seperti cooler bag, pompa ASI, botol/plastik penyimpanan, dan perlengkapan mencuci botol.
Pada awalnya, ia masih bisa memerah ASI dua sampai tiga kali sehari. Namun, lama-kelamaan waktu memerah ASI semakin sulit didapat. Ritme kerja, rasa tidak enak meninggalkan pekerjaan, dan keterbatasan fasilitas membuat proses menyusui menjadi perjuangantersendiri.
Belum lagi kalau harus berbagi ruangan dengan pekerja laki-laki yang satu ruangan denganpekerja laki-laki, memakai apron pun tetap menimbulkan rasa malu, dan tidak nyaman
Kisah ini memperlihatkan bahwa menyusui memang proses alami pada tubuh ibu, tetapi keberhasilannya ditentukan oleh lingkungan di sekitarnya. Karena itu, kebijakan menyusui tidak boleh berhenti sebagai anjuran ibu.
Negara harus pastikan ibu menyusui dengan aman
Negara harus memastikan bahwa setiap ibu memiliki ruang, waktu, informasi, dan dukungan yang cukup untukmenyusui aman, nyaman, dan bermanfaat.
Kebijakan menyusui di Indonesia perlu dibaca bukan hanya sebagai kebijakan kesehatan, melainkan juga sebagai kebijakan perlindungan anak, kesetaraan gender, dan pembangunan sumber daya manusia.
Menyusui bukan sekedar proses menyalurkan makanan bayi, melainkan kerja biologis yang luar biasa dari tubuh ibu. WHO dan UNICEF menyebutkan ASI merupakan perlindungan dan nutrisi kesehatan paling awal, paling alami, serta paling dekat dengan kehidupan anak.
Bayi yang tidak disusui, memiliki risiko kematian sebelum ulang tahun pertama hingga 14 kali lebih tinggi dibanding bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
ASI bekerja seperti vaksin pertama bagi bayi karena mengandung komponen penting untuk tumbuh kembang bayi, mulai dari asam lemak esensial untuk perkembangan otak dan mata, enzim lipase untuk mencerna lemak, hingga protein whey yang mengandung IgA dan laktoferin sebagai pelindung dari infeksi.
Tubuh ibu sistem alami kesehatan bayi
Tubuh ibu sesungguhnya telah memiliki sistem alami untuk menjaga kehidupan dan kesehatan bayi.
ASI diproduksi di dalam puluhan bahkan ratusan alveolus, bagian kecil dalam payudara yang dapat diibaratkan sebagai “pabrik ASI”. Dari sana, ASI mengalir melalui saluran-saluran kecil hingga sampai ke bayi.
Sayangnya, masih banyak anggapan bahwa ukuran dan bentuk payudara menentukan banyak atau sedikitnya ASI yang dihasilkan.
Padahal, anggapan tersebut tidak benar. Produksi ASI lebih ditentukan oleh seberapa sering bayi menyusu atau seberapa sering ASI dikeluarkan. Semakin sering bayi menyusu, semakin kuat pula sinyal yang diterima tubuh ibu untuk memproduksi ASI kembali.
Karena itu, menyusui secara rutin dan bergantian antara payudara kanan dan kiri menjadi penting untuk menjaga kelancaran produksi ASI.
Banyak ibu pernah mengalami ketika bayi menyusu pada payudara kiri, ASI dari payudara kanan ikut menetes, atau sebaliknya. Fenomena ini menjadi bukti bahwa tubuh ibu bekerja secara alami dan saling terhubung dalam proses menyusui.
Yang tak kalah menarik, komposisi ASI juga berubah selama proses menyusui. Pada awal menyusu, ASI yang keluar lebih encer untuk memenuhi kebutuhan cairan bayi. Setelah bayi menyusu lebih lama, ASI menjadi lebih kaya lemak sehingga membantu bayi kenyang dan mendukung pertumbuhan dan kenaikan berat badannya.
Maka dari itu, bayi sebaiknya diberi kesempatan menyusui hingga selesai pada payudara sebelum berpindah ke payudara lainnya agar memperoleh manfaat ASI secara optimal.
Ditengah mahalnya, biaya kesehatan, menyusui justru menawarkan jalan yang paling alami, praktis dan ekonomi. Menyusui bukan sekedar menempelkan bayi ke payudara ibu.
Ada pengetahuan, kesabaran, dan pendampingan di dalamnya. Edukasi menyusui harus bergerak dari sekedar anjuran “berikan ASI eksklusif” menjadi pendampingan yang lebih praktis dan manusiawi.
Pentingnya pengetahuan ibu tentang ASI
Ibu tidak hanya perlu diminta menyusui, tetapi juga perlu dibekali cara memahami aliran ASI, komposisi ASI, tanda bayi cukup ASI, posisi menyusui yang nyaman, serta pemantauan berat badan bayi.
Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai regulasi untuk mendukung pemberian ASI UU no. 17 tahun 2023, PP no. 28 tahun 2024, Permenkes no. 15 tahun 2013, UU no. 4 tahun 2024.
Kenaikan ASI eksklusif di Indonesia patut diapresiasi, namun capaian tersebut belum cukup menjadi alasan untuk berpuas diri.
Tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan angka ASI eksklusif, melainkan memastikan setiap ibu memiliki dukungan nyata untuk menyusui, baik enam bulanpertama maupun melanjutkan menyusui hingga dua tahun.
Persoalannya, regulasi yang baik belum otomatis menjamin ibu memiliki ruang, waktu, informasi, dan dukungan yang cukup untuk menyusui. Ruang laktasi masih belum sepenuhnya ramah laktasi. Akibatnya, menyusui sering kali menjadi perjuangan pribadi, padahal manfaatnya adalah kepentingan publik.
Menyusui adalah salah satu tindakan dengan dua manfaat besar, bayi tumbuh lebih sehat dan ibu memperoleh perlindungan kesehatan yang berharga.
Namun, manfaat ini tidak akan tercapai jika ibu berjuang sendirian. Negara harus hadir bukan hanya melalui aturan, tetapi melalui pelaksanaan yang nyata, yakni ruang laktasi yang layak, waktu memerah ASI dihormati, konseling yang mudah diakses, dan lingkungan sosial yang mendukung. Sebab, mendukung ibu menyusui adalah investasi bangsa.
Opini ditulis oleh Luluk Fajria Maulida
Dosen Pendidikan Profesi Bidan FK dan
Mahasiswa S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Sebelas Maret



No Comment! Be the first one.