Cerita Banditoz Yaow 86 rawat anak autis: “Kita tidak bisa memilih, tapi kita bisa terpilih”
"Kita tidak bisa memilih, tapi kita bisa terpilih." Begitulah prinsip Banditoz Yaow 86 merawat Tama, putra istimewanya. Ini kisah sang rapper Jogja membagi waktu.
Di balik kesuksesan besar lagu “Kicau Mania” yang menggema hingga ke berbagai belahan dunia, terdapat sosok ayah dengan komitmen kuat pada keluarganya.
Table Of Content
Musisi hip-hop asal Yogyakarta, Anindito Adhi Rahman a.k.a Banditoz Yaow 86 atau yang akrab disapa Dito ini mengungkapkan bahwa lonjakan karier yang dirasakan saat ini bukanlah sebuah kebetulan semata.
Bagi Dito, popularitas ini merupakan buah manis dari kekuatan spiritual yang selalu ia bawa dalam setiap langkahnya, yaitu doa dari sang istri dan putra tercintanya yang istimewa.
Putra sulungnya, Tama (12), didiagnosis menyandang autisme ringan setelah sebelumnya sempat didiagnosis mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan keterlambatan bicara (speech delay).
Kondisi tersebut tidak membuat Dito berkecil hati. Sebaliknya, kehadiran Tama menjadi motor penggerak utama dan sumber inspirasi terbesar dalam kehidupannya, baik sebagai seorang kepala keluarga maupun sebagai seorang seniman independen.
Berdamai dengan keadaan melalui karya
Sebelum demam “Kicau Mania” mewabah di tahun 2026, Dito telah menuangkan seluruh pergolakan batin dan rasa cintanya kepada sang anak melalui sebuah karya yang sangat personal.
Pada awal tahun 2025, ia merilis lagu yang diberi judul “Autism”. Lagu tersebut lahir dari pengalaman empirisnya sebagai seorang bapak yang mendampingi tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus (ABK) dari lahir hingga menginjak bangka sekolah.
Dito menceritakan bahwa proses penulisan lirik lagu tersebut berlangsung sangat cepat, yakni hanya memakan waktu sekitar satu minggu karena ditulis langsung dari lubuk hatinya yang terdalam.
Melalui lagu “Autism”, ia ingin memberikan ruang penguat bagi sesama orang tua yang memiliki nasib serupa agar tetap tegar dalam mendidik buah hati mereka.
“Lagu ‘Autism’ itu sebenarnya juga buat teman-teman juga yang memiliki kesamaan dengan saya, yang dikaruniai anak istimewa itu biar tambah semangat gitu,” ujar Dito saat diwawancarai tim Nalacitra beberapa waktu lalu.
Menurutnya, penerimaan penuh terhadap takdir yang telah digariskan membantunya menjalani hari.
“Anak adalah titipan dari Tuhan. Jadi ya kita harus berdamai dalam keadaan karena kita tidak bisa memilih, tapi kita bisa terpilih,” tambahnya.
Makna perjuangan di undangan manggung
Sebagai musisi yang kini kerap mendapatkan undangan manggung di berbagai kota, Dito menghadapi tantangan dalam membagi waktu demi mengawal pertumbuhan Tama.
Alih-alih meninggalkan keluarga di rumah, Dito kerap mengambil keputusan untuk memboyong istri dan putranya ikut serta dalam perjalanan ke luar kota jika situasi dan akomodasi memungkinkan.
Langkah ini ia lakukan bukan tanpa alasan. Selain memberikan kesempatan bagi Tama untuk menyegarkan pikiran dan mengenal suasana baru di luar Yogyakarta, seperti berenang di hotel atau melihat suasana kota, Dito ingin mengenalkan realitas perjuangan seorang ayah secara visual kepada anaknya.
“Saya manggung tuh saya ajak sama istri saya. Jadi gini loh, biar ngerti loh “bapakmu golek duit angelnya (cari uangnya susah) sampai ke luar kota,” jelas Dito dengan dialek Jawa yang kental.
Bagi dia, hal ini penting agar anak dan istrinya dapat merasakan langsung dinamika perjalanan dari kota ke kota. “Setidaknya perjuangan seorang ayah itu biar benar-benar maksimal kan gitu. Seorang bapak itu mau enggak mau harus jadi pekerja keras gitu karena ya buat keluarga,” jelasnya.
Harapan sederhana untuk masa depan Tama
Meskipun saat ini namanya kian melambung di industri musik, Dito mengaku tidak memiliki ambisi atau tuntutan yang muluk-muluk mengenai masa depan sang anak meski ia sudah memberi alias Tamanos untuk Tama.
Ia tidak ingin membebani Tama dengan target-target kaku yang umumnya diterapkan oleh sebagian orang tua kepada anak-anak mereka.
Dito memilih untuk berserah diri dan mempercayakan masa depan putranya kepada ketetapan Yang Maha Kuasa.
Kebahagiaan dan kemandirian Tama di masa depan jauh lebih berharga daripada pencapaian material atau status sosial. Ia hanya berharap putranya dapat tumbuh menjadi pribadi yang berdikari saat dirinya sudah beranjak dewasa kelak.
“Sekarang kalau kita target, kalau kita harus, anak saya jadi ini, saya enggak model begitu,” tegas Dito mengakhiri penjelasannya.
“Harapannya satu, Tama bisa mandiri, bisa bekerja dengan sendiri, punya keluarga sendiri, kan begitu. Tidak muluk-muluk sih harapannya. Mau tak seleh-semeleh (saya pasrahkan semuanya), biar Gusti Allah yang ngatur,” tutupnya.



No Comment! Be the first one.