Turunan Batara: Ketika filosofi Baduy dipadukan dengan seriosa oleh Tenri Adhiza
Lagu 'Turunan Batara' memadukan filosofi Baduy dan aransemen seriosa. Tenri Adhiza menghadirkan pesan menjaga alam dan tradisi leluhur.
Lagu ‘Turunan Batara’ mengangkat filosofi masyarakat Baduy melalui aransemen yang memadukan nuansa Sunda dan sentuhan seriosa. Lagu ini diciptakan oleh Bangkit Prayitno dan dinyanyikan oleh Tenri Adhiza.
Dalam liriknya, terdapat ajaran Baduy yang dikenal dengan ungkapan “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”, yang bermakna segala sesuatu yang panjang tidak boleh dipotong dan yang pendek tidak boleh disambung. Filosofi tersebut menekankan prinsip menjaga tatanan alam sebagaimana adanya.
‘Turunan Batara’ tidak hanya hadir sebagai karya musik, tetapi juga memuat pesan tentang hubungan manusia dengan alam dan tradisi leluhur.
Tantangan teknik vokal seriosa
Tenri Adhiza mengaku langsung tertarik saat pertama kali mendengar demo lagu tersebut. Sebagai orang Sunda, ia tidak mengalami kesulitan dalam pelafalan bahasa. Namun, tantangan muncul pada sisi teknik vokal.
Lagu ini menggunakan sentuhan seriosa, terutama pada bagian klimaks:
“Sakabeh pikukuh teu meunang ngarobah alam nu aya,
Kabeh nu lojor teu meunang dipotong,
Kabeh nu pendek teu meunang disambung,
Tali karuhun Sunda Wiwitan kayakinanana,
Salaka Domas luluhur pangsucina,
Ngajaga endah alamna di dunya,
Jaga nyeungitan endah jagat raya.”
Bagian tersebut dinyanyikan dengan teknik pernapasan diafragma yang stabil. Nada tinggi dicapai melalui resonansi kepala (head voice) dan disertai vibrato yang menjadi ciri khas seriosa.
“Apalagi di bagian nada-nada yang agak tinggi, itu menantang dan aku masih perlu belajar lagi,” katanya.
Menurut Adhiza, penggunaan seriosa dalam lagu ini tidak dimaksudkan untuk mengubah karakter dasar lagu Sunda yang cenderung melankolis. Teknik tersebut digunakan untuk memperkaya ekspresi tanpa menggeser identitas lagu.
Ia menambahkan, meski seriosa identik dengan nuansa teatrikal, porsinya tetap diatur agar pesan dalam lagu tersampaikan secara utuh. Nuansa tersebut digunakan untuk mempertegas filosofi Baduy yang dianggap sakral, termasuk pesan tentang kejujuran dan menjaga tatanan yang sudah ada.
Jika dibandingkan dengan karakter vokal Sunda tradisional yang lembut dan minim vibrato, sentuhan seriosa menghadirkan resonansi yang lebih luas dan nuansa dramatik.
Proses dan respons publik
Meski bukan pencipta lagu, Adhiza terlibat dalam proses setelah revisi demo dilakukan. Ia mengaku diberi ruang untuk mengolah rasa dalam interpretasinya.
“Karena kalau soal rasa kan di luar teknik bernyanyi, jadi aku bebas kasih porsi rasaku biar pas sama pesan lagunya,” ujarnya.
Respons masyarakat terhadap lagu ini beragam. Selain apresiasi dari teman dan keluarga, lagu tersebut mendapat perhatian dari dinas pariwisata, penggiat seni, dan stasiun radio. Namun, ada pula kritik terkait penggunaan instrumen nontradisional yang dinilai membuat lagu ini tidak sepenuhnya tradisional.
Adhiza menyebut warna vokalnya dalam lagu ini berbeda dari karakter aslinya. Ia mengaku hal tersebut menjadi tantangan tersendiri.
“Setelah taklukin lagu ini, keinginanku buat eksplor dan belajar hal-hal baru jadi lebih meningkat,” katanya.
Melalui ‘Turunan Batara’, Tenri Adhiza membawakan filosofi Baduy dalam balutan aransemen seriosa, sekaligus menghadapi tantangan teknik vokal dan beragam respons publik terhadap karya tersebut.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Salsabila.



No Comment! Be the first one.