Mengangkat derajat Topeng Batik Bobung lewat teknologi tepat guna
Tim dosen UNY dan UST mendampingi para perajin di Desa Wisata Bobung, Patuk, Gunungkidul untuk mengoptimalkan pembuatan topeng batik kayu khas Bobung.
Topeng batik kayu dari Desa Wisata Bobung, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, bukan sekadar komoditas kriya biasa. Ukiran kayu bermotif batik itu adalah identitas budaya, simpul sejarah, sekaligus napas penghidupan warga setempat yang diwariskan lintas generasi.
Table Of Content
Namun, merawat tradisi di tengah pusaran zaman selalu membawa tantangannya tersendiri. Kelompok perajin Bina Karya di Bobung kerap dihadapkan pada keterbatasan sarana produksi, efisiensi kerja yang lambat, hingga urusan pemasaran digital yang belum tergarap optimal.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen gabungan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) bergerak mendampingi para perajin melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) skema BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Mereka adalah Dr. Muhajirin, S.Sn.,M.Pd., Dr. Dwi Retno Sri Ambarwati, S.Sn.,M.Sn., Cholis Mahardhika, S.Pd., M.Pd., berkolaborasi dengan dosen dari Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa (UST) Noor Fatih Ario Wicaksono, S.Sn., M.Sn.
Pendampingan ini menyasar tiga pilar utama, yakni modernisasi alat produksi, pemanfaatan media digital, dan revitalisasi showroom edukasi.
Teknologi tepat guna dan inovasi ramah lingkungan

Untuk mempermudah tahapan pengerjaan awal kayu, tim pengabdi menyerahkan sejumlah peralatan teknologi tepat guna seperti rotary tool, bor duduk, dan gerinda. Sentuhan modernisasi ini dihadirkan bukan untuk menghilangkan nilai craftmanship, melainkan untuk efisiensi tanpa merusak karakter khas handmade.
Uniknya, inovasi juga lahir dari kesederhanaan. Para perajin diajak membuat canting cap berbahan limbah karton sebagai media alternatif pengetapan motif batik pada kayu.
Selain menekan biaya produksi, pemanfaatan bahan bekas ini mendorong kreativitas perajin dalam mengolah material di sekitar mereka.
Menjangkau pasar lewat narasi digital
Ketua Tim PPM UNY, Dr. Muhajirin, S.Sn., M.Pd. menjelaskan, kapasitas produksi yang makin efisien tentu menuntut akses pasar yang lebih luas. Melalui pelatihan fotografi produk, penyusunan narasi promosi, hingga tata kelola media sosial, para perajin Bobung kini diajak untuk lebih percaya diri menceritakan produknya ke ranah digital.
Ia menegaskan bahwa karya kriya bernilai tinggi membutuhkan strategi komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Produk yang baik perlu didukung dengan strategi komunikasi dan pemasaran yang tepat. Melalui pendampingan ini, kami berharap para perajin semakin mampu memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun hubungan dengan pasar yang lebih luas,” ujar Muhajirin.
Mengubah showroom jadi ruang edukasi budaya
Tak berhenti pada aspek produksi dan penjualan, program ini juga menata ulang fungsi showroom perajin di Desa Wisata Bobung.
Ruang pamer yang tadinya hanya menjadi tempat transaksi jual-beli, kini ditransformasikan menjadi ruang edukasi interaktif bagi para wisatawan.
Melalui penataan visual yang informatif, menampilkan dokumentasi sejarah, alur proses pembuatan, hingga pameran hasil inovasi, pengunjung tidak hanya membeli souvenir, tetapi juga membawa pulang cerita terhadap proses panjang sebuah kerajinan tangan.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan tim pengabdian UNY untuk menyebarluaskan manfaat teknologi tepat guna bagi kesejahteraan masyarakat.



No Comment! Be the first one.