‘Bengkel Anak’: Di balik ruang kelas SD Islamiyah Warungboto yang merangkul murid disabilitas
Lebih dari sekadar sekolah, SD Islamiyah Warungboto adalah rumah bagi mereka yang 'berbeda'. Di sini, toleransi bukan lagi teori, melainkan aksi nyata guru-guru yang mendampingi anak-anak istimewa...
Di sudut Kalurahan Warungboto, Kemantren Umbulharjo, Yogyakarta, berdiri sekolah yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. SD tersebut tercatat hanya memiliki satu murid. Satu murid itu mampu membawa SD berada dalam peringkat pertama dalam Tes Pendalaman Materi (TPM) TKA-TKAD Tahap IV Tahun Ajaran (TA) 2025/2026.
Table Of Content
Nilai rerata yang diraih mencapai 81,11. Otomatis, SD yang terletak di Jalan Prof. Dr. Soepomo Blok S.H, No. 75-B, Warungboto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta itu mengalahkan sejumlah SD unggulan lain. Banyak warganet yang mempertanyakan, apa betul SD itu hanya memiliki satu siswa sejak kelas 1-6?
Kepala SD Islamiyah Warungboto, Pudji Wahyuni Buwono pun memaparkan bagaimana sistem bisa mencatat hanya satu anak yang ada di kelas VI SD itu.
“Sebenarnya, anak tersebut tidak sendiri. Tidak sendiri. Ada tiga. Yang dua ini merupakan anak istimewa dan yang satu ini adalah siswa reguler,” ujar Pudji ditemui tim Nalacitra beberapa waktu lalu.
Dua anak tersebut merupakan penyandang disabilitas intelektual dengan nilai di bawah dan pas rata-rata.
Sementara, dari regulasi yang ada, siswa yang masuk ke rerata TPM TKA-TKAD Tahap IV itu hanyalah siswa reguler. Dari situ, SD Islamiyah Warungboto mencatatkan hanya satu siswa yang mengikuti tes tersebut.
“Yang TPM pertama, semua boleh ikut masuk di rerata. Begitu juga TPM kedua, baru kemudian di TPM ketiga, ada regulasi-regulasi dari pusat. Akhirnya, dua siswa dengan disabilitas intelektual itu tidak masuk di rerata. Ceritanya begitu,” beber Pudji.
Cara memanusiakan manusia

“Kami tidak boleh menolak, karena mereka sudah berat untuk belajar. Kalau kita bicara toleransi, di sini bukan cuma soal agama, tapi soal bagaimana anak reguler dan anak berkebutuhan khusus saling mengisi,” ujar Pudji saat mengenang perjalanan sekolahnya.
Keputusan Pudji untuk tetap menyertakan anak-anak istimewa ini dalam TKA bukan tanpa alasan. Ia tak ingin anak-anaknya merasa ditinggalkan saat teman lainnya bersuka ria merayakan kelulusan.
“Jangan sampai anak ini kecewa. Jangan sampai ada suara, ‘Ibu, kok saya tidak boleh ikut?’ Kami melindungi perasaan mereka. Ini soal memanusiakan manusia,” tambahnya.
Biaya sekolah yang dibebankan kepada orang tua murid pun ditekan sedemikian rupa agar tidak ada yang merasa keberatan.
Orang tua hanya membayar maksimal Rp250 ribu untuk biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) per bulan. Kini, SD itu memiliki total 16 siswa dari kelas I-VI.
“Kami tidak menarik uang gedung. Itu sudah komitmen kami agar siapapun bisa bersekolah di sini,” jelasnya.
Dedikasi di hari libur
Proses pendidikan di SD Islamiyah Warungboto adalah potret nyata dari diferensiasi pengajaran.
Dalam satu ruang kelas yang sama di kelas VI misalnya, seorang guru harus memainkan peran ganda.
Saat satu siswa reguler mengerjakan soal melalui buku, dua siswa lainnya dibimbing secara visual. Para guru harus sabar mengajari dua siswa disabilitas tersebut.
“Anak-anak ini harus ditunjukkan langsung. Kalau tidak bisa lewat buku, kami ajak lihat kolam atau sungai di dekat sini. Nalarnya harus masuk ke sana,” jelas Pudji.
Bahkan, dedikasi guru-guru di sini melampaui jam kerja formal. Pada hari libur Ramadan sekalipun, para guru tetap masuk untuk membantu anak-anak istimewa ini belajar membaca.
“Di hari libur Ramadan, anak tetap wajib datang ke sekolah untuk membaca. Jadi, kalau di kelas VI itu ada tiga siswa, ya tiga itu datang, dengan penanganan berbeda. Biar tidak ada pertanyaan satu sama lain. Inilah yang kami sebut diferensiasi pendekatan,” terangnya.
Tujuannya sederhana namun mulia agar mereka memiliki bekal saat melanjutkan ke jenjang SMP nanti.
Selain diberi bekal akademik, para siswa juga diajarkan kemampuan hidup dasar, seperti setrika, mencuci baju, hingga membaca Al-Quran. Juga, mereka mengikuti ekstrakurikuler bermain karawitan.
Hidup dari gotong royong
Kemandirian SD Islamiyah Warungboto adalah buah dari sejarah panjang perjuangan para guru dan masyarakat.
Pudji menceritakan bagaimana sekolah ini pernah berpindah-pindah, hingga akhirnya ada guru menggadaikan Surat Keputusan (SK) Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk membeli tanah yang kini menjadi lahan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Alhamdulillah, selalu ada jalan. Saat itu, ada guru yang latar belakangnya memang PNS. Jadi, dia punya SK, tidak pernah hutang dan SK itu digadaikan,” ucap dia.
Tidak cukup sampai situ, bantuan selalu mengalir dari orang-orang baik, termasuk pembangunan masjid dan administrasi kepengurusannya.
Hingga kini, napas sekolah ini masih dijaga oleh warga sekitar. Karpet masjid yang nyaman hingga AC adalah sumbangan masyarakat yang merasa memiliki sekolah tersebut.
“Kita dilingkungi oleh orang-orang baik. Yakin saja Allah SWT itu Maha Kaya. Jadi, kami bisa kebeli ini itu,” kata Pudji dengan mata berkaca-kaca.
Sejak 2016, sekolah itu menerima semua karena telah menjadi sekolah inklusi.
Namun, sekolah membatasi disabilitas yang diterima adalah yang intelektual, bukan tuna netra ataupun tuli karena sarana yang belum memadai.
“Dari situ, kami sering disebut ‘bengkel anak’ atau ‘bengkel bocah’,” terangnya.
Meski sempat diterpa komentar, baik itu yang pedas maupun manis dari warganet terkait sekolahnya yang mampu menduduki peringkat satu di TPM TKA-TKAD Tahap IV, Pudji memilih tetap tegak.
Baginya, riuh rendah di media sosial adalah kesempatan agar pendidikan inklusif lebih didengar.
Di akhir percakapan, Pudji menegaskan bahwa sekolah bukan sekadar pabrik nilai, melainkan tempat persemaian karakter.
“Hasilnya seperti apa, biar Allah yang mengatur. Yang penting, jangan sampai ada anak yang merasa gagal sebelum mereka mencoba,” tutupnya.
Cerita lengkap tentang perjuangan SD Islamiyah Warungboto di video ini:



No Comment! Be the first one.