Merawat potensi kopi dan narasi di Desa Wisata Tinalah
Tim pengabdian UPN "Veteran" Yogyakarta mendampingi warga Desa Wisata Tinalah, Kulon Progo untuk meningkatkan kapasitas menyambut wisatawan.
Perbukitan Menoreh tidak hanya menyembunyikan bentang alam yang asri, tetapi juga potensi cerita dan komoditas lokal yang menarik untuk diulik.
Menangkap peluang itu, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta menggelar program penguatan kapasitan warga di Desa Wisata Tinalah, Kulon Progo, DI Yogyakarta, 22-23 Agustus 2026 lalu.
Mengusung tema “Penguatan Pilar Ekonomi Desa Wisata Tinalah melalui Pengelolaan Homestay, Ekonomi Kreatif, dan Pemandu Wisata”, pengabdian ini berfokus pada dua pilar utama, yakni peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan optimalisasi potensi lokal dari hulu ke hilir.
Minimalisasi batas bahasa pemandu lokal
Sebagai garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan pelancong, para pemandu wisata dan pengelola homestay dibekali pelatihan Bahasa Inggris kontekstual.
Tim UPN “Veteran” Yogyakarta merancang materi agar warga tidak sekadar fasih berkomunikasi, tetapi juga mampu menarasikan kebudayaan, kehangatan kehidupan lokal, serta daya tarik Tinalah kepada wisatawan mancanegara.
Langkah ini diambil mengingat peran pemandu dan pemilik homestay vital dalam merajut pengalaman serta kesan mendalam bagi siapa pun yang berkunjung.
Kopi Menoreh: Dari kebun hingga pengalaman eduwisata
Tak berhenti pada aspek pelayanan, program ini melangkah lebih jauh ke lereng-lereng hijau Tinalah melalui pelatihan “Potensi Kopi: Teknik Budidaya, Panen, dan Pengolahan Pascapanen”.
Menghadirkan Agus Sulistyo, pendiri Trajumas Java Coffee sekaligus penggerak kopi kawasan Menoreh, warga diajak melihat tanaman kopi dengan kacamata baru, yakni bukan sekadar hasil tani, melainkan aset ekonomi kreatif dan pariwisata.
Kawasan Menoreh memiliki keistimewaan tersendiri. Kondisi geografisnya yang berbukit dengan naungan vegetasi alami sangat ideal bagi tumbuh suburnya tiga varietas kopi sekaligus, yakni Robusta, Arabika, dan Liberika.
Melalui pelatihan ini, warga didorong untuk membenahi proses produksi, mulai dari petik merah, pemilahan (sortasi), hingga pengolahan pascapanen yang lebih terukur. Nilai tambah ini diharapkan tidak hanya menaikkan kualitas rasa, tetapi juga daya jual hasil bumi masyarakat.
Lebih dari itu, lanskap kebun kopi Tinalah kini disiapkan menjadi ruang eduwisata. Wisatawan nantinya tak hanya menyeduh kopi di cangkir, tetapi juga diajak menyusuri rute tur panen, belajar proses pengolahan, hingga sesi uji cita rasa (cupping).
Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya membeli produk, tetapi memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai proses di balik produk lokal yang mereka nikmati.
“Kopi yang baik tidak hanya berbicara tentang rasa di lidah, tetapi juga tentang cerita pelestarian alam dan kesejahteraan tangan-tangan yang merawatnya,” tegas Agus Sulistyo di sela-sela materi.
Melalui kegiatan pengabdian ini, UPN “Veteran” Yogyakarta mendorong agar pengembangan Desa Wisata Tinalah tidak hanya bertumpu pada daya tarik alam, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dan kemampuan mengolah potensi lokal menjadi produk serta pengalaman wisata yang bernilai ekonomi.
Program tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdi yang terdiri atas Dr. Eny Endah Pujiastuti, S.Sos., M.Si.; Dr. Retno Hendariningrum, S.IP., M.Si.; Dr. Antik Suprihanti, S.P., M.Si.; Cahyo Adi Jati Nugroho, S.IP., MBA; Panji Dwi Ashrianto, M.I.Kom.; dan Dr. June Cahyaningtyas, S.IP., M.Si.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan tim pengabdian UPN “Veteran” Yogyakarta untuk menyebarluaskan pengabdian akademisi kepada masyarakat



No Comment! Be the first one.