Eki Satria, dosen ISI Jogja yang tiba-tiba jadi konduktor Gita Bahana Nusantara
Ketika talenta tinggi bertemu dengan garis tangan yang jenaka, tidak pernah ambil jurusan konduktor saat kuliah, tapi malah berakhir memegang tongkat konduktor sakral di negeri ini.
Bagi sebagian orang, puncak karier musik adalah panggung yang riuh dengan tepuk tangan. Namun, untuk Eki Satria, musik adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai.
Table Of Content
Dosen Program Studi Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini tidak pernah sengaja mengetuk pintu Istana Merdeka dengan tumpukan berkas CV atau portofolio yang megah.
Alih-alih mengejar panggung besar, ia justru sibuk merawat rasa penasaran dan dedikasinya di ruang-ruang kelas. Hingga suatu hari pada tahun 2024, sebuah rekomendasi rahasia dari sang mentor membawanya langsung ke salah satu podium sakral di negeri ini: menjadi konduktor Gita Bahana Nusantara (GBN).
GBN merupakan kelompok paduan suara dan orkestra pelajar dan mahasiswa seluruh Indonesia yang tampil di Istana Merdeka pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI. GBN beranggotakan 191 putra-putri terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia.
Rasa penasaran di kampus
Perjalanan Eki menuju podium GBN sebenarnya adalah akumulasi dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Saat menempuh kuliah minat Penyajian di ISI Yogyakarta. jurusan yang saat itu belum menawarkan mata kuliah conducting formal, Eki tidak membiarkan keterbatasan kurikulum menghentikan langkahnya. Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, pada tahun 2009 ia berinisiatif mengambil les privat bersama dosennya sendiri.
“Waktu itu hanya sekadar belajar karena penasaran,” kenangnya. Namun, rasa penasaran yang dirawat dengan baik itu perlahan mewujud nyata.
Pada tahun 2012, ia mulai menguji kemampuannya dengan mendirikan orkes bersama rekan-rekannya, hingga puncaknya pada tahun 2019, ia dipercaya oleh Dinas Kebudayaan Yogyakarta untuk menggarap proyek Serenade Bunga Bangsa.
Ketika ia kembali mendalami ilmu conducting di bawah bimbingan maestro Budi Utomo Prabowo di Jakarta pada 2024, kejutan besar menantinya. Tanpa sepengetahuannya, sang mentor merekomendasikan nama Eki dalam sebuah rapat internal para dewan penentu GBN.
Sebuah tawaran yang awalnya ia iyakan tanpa tahu seberapa besar tanggung jawab yang akan dipikulnya.
Membangun kepercayaan di luar lembar partitur

Di balik kemegahan yang tersaji di layar kaca, ruang belakang GBN menyimpan tantangan tersendiri. Menariknya, tantangan terbesar yang dihadapi Eki bukanlah persoalan teknis musikalitas atau kerumitan partitur.
Ansambel besar yang mempertemukan ratusan anak muda dari seluruh penjuru Indonesia ini justru kerap menghadapi dinamika nonmusikal, yakni krisis kepercayaan.
“Bermusik itu otomatis meruntuhkan identitas pribadi, begitu bermusik bersama-sama kita pasti sudah tidak mempunyai kepribadian dan otomatis meruntuhkan ego karena harus bermain bersama di satu panggung yang sama,” jelas Eki.
Tidak semua pemain langsung menaruh percaya pada konduktor, dan sesama pemain pun belum tentu saling menaruh keyakinan pada petikan instrumen di sebelah mereka.
Di sinilah peran Eki meluas melebihi sekadar pengayun tongkat baton. Proses bonding atau pembentukan ikatan emosional menjadi menu wajib demi membangun jembatan rasa di antara manusia-manusia yang baru saling kenal.
Eki harus berpacu dengan waktu untuk meningkatkan keterikatan para pemain.
Waktu yang tersedia sangat ketat. Dari dua minggu masa karantina, latihan gabungan seluruh pemain praktis hanya bisa dilakukan sebanyak lima kali.
Polanya ketat. Hari pertama hingga kelima diisi dengan latihan per bagian (sectional). Tantangan logistik turut mengunci waktu, sebab lima hari sebelum hari upacara, seluruh instrumen berukuran besar sudah harus diangkut dan steril di area Istana Negara.
Seni menjadi manusiawi
Tekanan semakin memuncak dengan adanya tradisi konser publik di Kota Tua sebelum tampil di Istana. Eki dan timnya dituntut menyiapkan repertoar lagu yang berbeda hanya dalam waktu sepuluh hari.
Belum lagi dinamika menit-menit terakhir (last minute) dari pihak Istana, seperti perubahan permintaan lagu, pergantian penyanyi tamu karena kendala teknis, hingga penyesuaian tangga nada yang mendadak.
Beruntung, sistem seleksi GBN yang ketat memastikan seluruh pemain memiliki kemampuan membaca notasi balok secara spontan (prima vista) yang mumpuni.
Menyatukan ratusan kepala dari latar belakang budaya, suku, dan ras yang berbeda diakui Eki bukan sebagai beban. Baginya, musik memiliki mekanismenya sendiri untuk meruntuhkan ego individu. Begitu melangkah ke panggung yang sama, identitas personal melebur menjadi sebuah harmonisasi kolektif.
Proses intensif ini, ditambah dengan lokakarya kebangsaan selama karantina, secara alami menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat di hati para pemain yang setiap hari bergumul dengan lagu-lagu patriotik. Ketika ditanya mengenai beban memimpin pergelaran sakral ini, Eki menjalaninya dengan pembawaan yang tenang.
“Seni itu tidak bisa salah, jadi kita tidak masalah mau ngapain saja di panggung. Salah itu manusiawi, orkes profesional di Eropa saja masih sering salah. Jadi, tidak usah khawatir,” ucapnya.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Bunga Era Efrina



No Comment! Be the first one.