Perang: naluri manusia atau konstruksi sejarah? Ini penjelasan akademisi
Perang masih terus terjadi di berbagai belahan dunia. Akademisi menjelaskan apakah konflik merupakan naluri manusia atau hasil konstruksi sejarah dan sosial.
Konflik bersenjata masih menjadi fenomena yang terus muncul dalam kehidupan manusia.
Table Of Content
Sejak masa kolonial hingga era modern, perang kerap terjadi di berbagai wilayah dunia dan belum menunjukkan tanda benar-benar berakhir.
Ketegangan terbaru di Timur Tengah mencuat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi ini berlangsung di tengah konflik global lain seperti perang Rusia-Ukraina dan konflik di Gaza yang belum mereda.
Perdebatan: Naluri atau hasil konstruksi sosial?
Pertanyaan mengenai akar perang kembali mengemuka, apakah konflik merupakan sifat bawaan manusia atau hasil dari perkembangan sosial dan sejarah.
Dosen Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Satrio Dwicahyo, menilai perang lahir dari kombinasi berbagai dimensi dalam diri manusia.
“Ada aspek biologis, psikologis, dan juga interaksi sosial. Perang dan kekerasan pada umumnya adalah gabungan dari dimensi-dimensi tersebut, hanya derajatnya yang berbeda-beda,” jelasnya, Selasa (7/4/2026).
Dalam perspektif sejarah, faktor-faktor tersebut terus berkembang dan berkelindan dengan aspek lain, termasuk kemajuan teknologi dan perubahan struktur masyarakat.
Perkembangan ini, menurutnya, dapat memperbesar peluang terjadinya konflik, tetapi juga berpotensi menjadi penghambat.
Kekerasan dan mekanisme damai sejak awal manusia
Menanggapi perdebatan mengenai asal-usul agresivitas manusia apakah berasal dari nenek moyang primata seperti simpanse atau justru manusia purba hidup damai Satrio memandang kedua perspektif tersebut saling melengkapi.
Ia menilai manusia sejak awal telah mengenal kekerasan sekaligus mengembangkan mekanisme nirkekerasan.
“Manusia menggunakan kekerasan untuk bertahan hidup, tetapi pada saat yang sama juga mengembangkan mekanisme damai. Dalam banyak budaya, termasuk perspektif Timur, keduanya selalu berdampingan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa manusia kemungkinan tidak pernah sepenuhnya lepas dari potensi konflik, melainkan berupaya menekan kecenderungan tersebut.
Teknologi dan perubahan cara berperang
Dalam konteks modern, perkembangan teknologi turut mengubah cara perang dijalankan.
Menurut Satrio, kemajuan teknologi telah memangkas jarak dalam peperangan sehingga keterlibatan langsung di medan tempur semakin berkurang.
“Perang berubah menjadi aktivitas jarak jauh. Hal ini berpotensi menghilangkan unsur kemanusiaan, karena pelaku tidak lagi berhadapan langsung dengan lawannya,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti munculnya kecenderungan gimifikasi perang, yakni ketika konflik dijalankan seolah-olah seperti permainan sehingga dapat memengaruhi beban moral pelaku.
Upaya perdamaian dan batasannya
Selain teknologi, faktor identitas kelompok dan solidaritas juga turut memengaruhi konflik. Namun, menurutnya, faktor ini cenderung lebih dinamis dibandingkan kepentingan terhadap sumber daya alam.
Ia mencontohkan perubahan aliansi dalam sejarah, seperti hubungan antara Amerika Serikat dan Taliban yang berubah dalam beberapa dekade terakhir.
Di sisi lain, berbagai upaya untuk menekan konflik terus dilakukan melalui diplomasi, kerja sama antarnegara, hingga pembentukan organisasi internasional sebagai instrumen perdamaian.
“Organisasi internasional seperti PBB hadir sebagai upaya menahan laju perang melalui norma dan hukum internasional. Namun, solusi yang relevan di satu masa belum tentu efektif di masa lain,” jelasnya.
Satrio menekankan bahwa perang telah menjadi bagian dari sejarah panjang manusia sehingga sulit dihilangkan sepenuhnya.
“Arahnya bukan berhenti sepenuhnya, tetapi evolusi dalam cara pelaksanaannya. Bisa menjadi lebih baik, tetapi selalu ada kemungkinan juga menjadi lebih buruk,” pungkasnya.



No Comment! Be the first one.