Paskalina Ikinresi, merantau dari Kepulauan Tanimbar demi kuliah gratis di Yogyakarta
Lina selalu bermimpi kuliah di Jawa demi mengembangkan ilmu meski harus merantau jauh dari Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Menempuh perjalanan ribuan kilometer menyeberangi lautan demi sebuah pendidikan tinggi bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Paskalina Ikinresi atau Lina, seorang mahasiswi asal Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, jarak tersebut adalah jembatan yang harus dilalui demi mewujudkan impian masa kecilnya.
Table Of Content
Kini, ia telah berada di Kota Pelajar, menjalani kuliah semester dua di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) ‘AAN’ Yogyakarta. Langkah kakinya ke tanah Jawa didorong oleh tekad kuat untuk menuntut ilmu tanpa memberikan beban finansial kepada keluarga.
“Sebenarnya, saya itu berasal dari Kepulauan Tanimbar, bukan Ambon, tapi biar gampang, saya sebut asal saya dari Ambon, karena belum banyak orang tahu tentang Kepulauan Tanimbar,” kata Lina kepada tim Nalacitra beberapa waktu lalu.
Kepulauan Tanimbar adalah gugusan pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan Australia.
Berpusat di ibu kota kabupaten, Saumlaki, kepulauan ini dapat dijangkau dengan penerbangan sekitar 1,5 jam dari Ambon. Kepulauan Tanimbar ini kaya akan potensi minyak bumi, warisan budaya, dan keindahan alam pesisir.
Perjalanan jauh penuh transit
Perjalanan dari Kepulauan Tanimbar menuju Yogyakarta menuntut perjuangan fisik dan waktu yang tidak sedikit.
Jika memilih jalur transportasi laut, Lina harus menaiki kapal selama dua hari satu malam terlebih dahulu untuk bisa mencapai Ambon
“Nah, kalau dari Ambon naik kapal laut ke Jawa, itu satu minggu penuh dan nanti sandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Baru dari Jakarta, saya sambung ke Yogyakarta,” katanya.
Meski demikian, Lina tidak menempuh jalur laut sepenuhnya. Untuk menginjak tanah Jawa, Lina memanfaatkan penerbangan dari Ambon ke Yogyakarta. Tiket yang ia beli pun hanya one-way.
Pilihan jalur udara ini memotong waktu perjalanan secara signifikan karena rutenya langsung, dengan titik transit yang dilakukan di Makassar sebelum akhirnya pesawat mendarat di bandara Yogyakarta.
Melalui jalur mana pun yang ditempuh, perjalanan tersebut menjadi saksi bisu bagi tekad bulat seorang anak daerah yang ingin merantau demi memperluas wawasan dan keluar dari lingkup wilayah Maluku saja.
Berburu informasi beasiswa di media sosial
Keberangkatan Lina ke Yogyakarta tidak lepas dari kejeliannya dalam memanfaatkan teknologi. Sejak kecil, ia sudah menanamkan impian untuk bisa berkuliah di Pulau Jawa demi mendapatkan wawasan yang lebih luas.
Namun, ia menyadari kondisi ekonomi keluarga dan tidak ingin bergantung pada tanggungan orang tua. Keinginan kuat untuk meringankan beban kedua orang tuanya membuat dia aktif mencari peluang beasiswa segera setelah ia menyelesaikan ujian kelulusan di bangku SMA.
Di saat sebagian besar remaja menggunakan media sosial hanya untuk sekadar menonton hiburan, Lina justru memanfaatkannya sebagai alat pembuka jalan.
Lewat platform Instagram, ia secara mandiri mencari berbagai informasi mengenai beasiswa kuliah.
“Saya sering cari (beasiswa) di media sosial. Kalau scroll Instagram itu biasanya sambil cari beasiswa,” paparnya.
Kegigihannya sempat membuahkan hasil ketika ia dinyatakan lolos dalam sebuah tes beasiswa di salah satu institusi. Namun, karena beasiswa tersebut tidak menutupi komponen biaya secara penuh alias hanya sebesar 76,7%, ia terpaksa mengambil keputusan berat untuk menolaknya.
Lina tetap teguh pada prinsipnya untuk tidak merepotkan orang tua, hingga akhirnya pencarian itu membawanya pada program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah di STIA ‘AAN’ Yogyakarta yang diambilnya dengan penuh keberanian.
Beasiswa itu memungkinkan Lina mendapatkan 100 persen beasiswa, lengkap dengan uang saku per bulan senilai Rp1,1 juta.
Dengan nilai segitu, Lina berupaya untuk menghemat di Yogyakarta agar tidak cepat habis sebelum akhir bulan.
Membangun relasi di kampus
Meskipun statusnya masih sebagai mahasiswa baru yang baru memasuki semester dua dan belum lama tinggal di Yogyakarta, anak dari pasangan petani itu merasa kehadirannya di kampus telah memberikan banyak nilai positif.
Menjadi perantau di lingkungan yang sama sekali baru memberikannya kesempatan besar untuk tumbuh, baik secara akademis maupun secara sosial melalui interaksi sehari-hari dengan lingkungan sekitar yang heterogen.
Di kampus barunya, ia tidak hanya fokus pada materi perkuliahan di dalam kelas, tetapi juga aktif membangun jaringan pertemanan.
Keputusannya merantau terbukti membuahkan hasil dalam hal pengembangan diri, di mana ia kini dapat menemukan relasi baru serta bertemu dengan teman-teman yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kadang juga teman-teman tanya, kapan bisa berkunjung ke tempat saya. Jujur, saya ingin sekali, tapi saya baru boleh pulang ke Tanimbar itu kalau sudah selesai kuliah, kata bapak,” ungkapnya tersenyum.
Ia pun berharap bisa menyelesaikan kuliah dengan baik, mendapatkan nilai yang tinggi, dan kembali ke kampung halaman untuk membangun daerahnya.
Simak kisah Lina selengkapnya di video ini:



No Comment! Be the first one.