Gen Z bertanya pada tarot ketika masa depan terasa kabur
Tarot kini hadir di layar ponsel anak muda, menawarkan narasi yang menenangkan di tengah ketidakpastian hidup. Mengapa generasi yang rasional justru mencari tenang dari kartu?
Di sela tugas kuliah yang menumpuk dan kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti, Alia Rahman (22) sering merasa pikirannya berjalan lebih cepat daripada dirinya sendiri. Tentang masa depan, relasi, karier, bahkan tentang hal-hal kecil yang ia takutkan berlebihan.
Table Of Content
Suatu malam, ia membuka siaran langsung pembacaan tarot di media sosial. Awalnya hanya iseng. Namun kalimat pembaca kartu itu terasa seperti sedang berbicara langsung kepadanya.
“Rasanya bukan karena aku percaya ramalan,” katanya kepada tim Nalacitra, Selasa (24/2/2026). “Tapi kayak ada yang ngerti perasaanku tanpa menghakimi, kayak ada kepastian di masa depan,” tambahnya.
Ia bertahan menonton selama beberapa waktu. Satu kartu dibuka, lalu kartu berikutnya.
Kalimat-kalimat yang diucapkan pembaca kartu terdengar sederhana, bahkan umum. Namun di tengah sunyi kamarnya, kalimat itu seperti menemukan tempatnya sendiri.
Alia tidak menampik, dirinya juga pernah menggunakan jasa peramal tarot untuk menjawab segala kegundahan yang melanda hatinya. Paling tidak, ia bisa memberikan kepastian pada hati yang sedang dilanda kecemasan.
Fenomena tarot semakin ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan Generasi Z. Media spiritual yang dulu dianggap mistis kini hadir dalam format yang lebih kasual, seperti live TikTok, Instagram, hingga aplikasi daring.
Peramal tarot pun kerap menawarkan jasanya dengan harga yang cukup terjangkau, mulai dari Rp50 ribu, konsumen bisa melontarkan 1-2 pertanyaan yang membuat diri mereka gelisah.
Kemudian, peramal tarot akan menjawab kegelisahan tersebut sesuai dengan kartu yang terbuka.
Bagi sebagian anak muda, tarot bukan lagi sekadar soal takdir, melainkan ruang jeda.
Narasi tarot yang menenangkan
Bima (24), pekerja lepas di bidang kreatif, mengaku mulai tertarik tarot saat merasa hidupnya stagnan.
Ia mengalami kecemasan ketika proyek tak kunjung pasti, sementara media sosial dipenuhi kabar pencapaian teman-temannya.
Tak jarang, dia harus menahan diri untuk membuka media sosial agar rasa iri tak melanda hati.
“Aku cuma butuh reassurance,” ujarnya. “Kadang kita cuma pengin dengar kalau semuanya bakal baik-baik saja,” terang dia.
Baginya, tarot seperti ruang aman. Tidak ada tuntutan untuk langsung kuat, tidak ada nasihat panjang tentang harus bagaimana. Hanya narasi yang terasa menenangkan.
Perempuan cenderung percaya tarot
Berdasarkan riset Pew Research Center tahun 2024, jumlah orang Amerika yang mempercayainya tampaknya tidak banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam survei terbaru, 27% orang dewasa di Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka percaya pada astrologi (posisi bintang dan planet dapat memengaruhi kehidupan seseorang).
Angka ini tidak berbeda signifikan dibandingkan hasil survei serupa pada 2017, yang menunjukkan angka 29%.
Walaupun hasil survei yang lebih lama mungkin tidak sepenuhnya bisa dibandingkan karena perbedaan metode, jajak pendapat Gallup pada 1990 hingga 2005 secara konsisten menemukan bahwa sekitar 23% hingga 28% warga Amerika percaya pada astrologi.
Dalam banyak pertanyaan terkait praktik-praktik ini, terlihat perbedaan mencolok berdasarkan usia dan gender. Orang dewasa yang lebih muda, terutama perempuan muda, cenderung percaya pada astrologi dan lebih sering membaca atau berkonsultasi dengan horoskop.
Misalnya, 43% perempuan berusia 18 hingga 49 tahun mengatakan mereka percaya pada astrologi. Angka itu lebih tinggi dibandingkan perempuan usia 50 tahun ke atas (27%), laki-laki usia 18 hingga 49 tahun (20%), serta laki-laki usia 50 tahun ke atas (16%).
Namun demikian, sebagian besar warga Amerika yang terlibat dalam astrologi, tarot, atau praktik peramalan mengaku melakukannya sekadar untuk hiburan, bukan untuk mendapatkan wawasan atau panduan dalam mengambil keputusan hidup.
Secara keseluruhan, 20% orang dewasa di AS mengatakan mereka melakukan setidaknya satu dari praktik tersebut terutama hanya untuk bersenang-senang, sementara 10% mengatakan mereka melakukannya karena percaya praktik tersebut memberi wawasan yang bermanfaat.
Tarot jadi coping mechanism
Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair), Dian Kartika Amelia Arbi menyebut tarot bukanlah suatu hal baru, melainkan sudah ada dari beberapa generasi sebelumnya.
“Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu, termasuk Gen Z ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” jelasnya, seperti dikutip dari laman resmi Unair, Selasa (24/2/2026).
Lebih lanjut, ia menggambarkan bahwa pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan atas individu untuk bisa memprediksi atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
Sehingga, hal tersebut dapat mengurangi kecemasan dan menjadi salah satu coping mechanism pada individu tersebut.
“Misalnya karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka prediksi, mereka mengalami kecemasan. Sehingga tarot ini menawarkan sesuatu atau narasi-narasi tentang diri mereka tanpa judgement atau apa pun yang bisa dianggap menenangkan,” imbuhnya.
Hadapi stres secara mandiri
Dian menambahkan, jika tarot dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah.
“Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tuturnya.
Pemikiran itu bisa membuat individu tidak berusaha memperbaiki situasi dirinya karena merasa bahwa apa yang terjadi sudah ditakdirkan.
Dari perspektif psikologi, ia menyebut itu adalah self-fulfilling prophecy. “Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi. Tapi, memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya.” ungkapnya.
Dian memberikan tips menghadapi stres secara mandiri, yakni dengan belajar untuk mengelola stres dengan beberapa cara. Seperti journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan yang bergizi dan berolahraga secara rutin.
Namun, dalam menghadapi krisis emosional, ketika individu tidak mampu menangani sendiri, maka hal terbaik adalah mendatangi psikolog maupun psikiater untuk mendapatkan penanganan secara profesional.



No Comment! Be the first one.