Kesedihan yang tak perlu berteriak di lagu A Sorrowful Reunion milik Reality Club
Band Reality Club membuktikan, lagu sedih tidak hanya dimainkan dalam nada minor dengan tempo lambat. A Sorrowful Reunion justru dimainkan di nada mayor, tapi dengan lirik yang cukup dalam dan...
Tidak semua kesedihan harus hadir dalam nada minor dan tempo lambat. Reality Club membuktikan hal itu melalui lagu A Sorrowful Reunion dalam album What Do You Really Know?.
Alih-alih tenggelam dalam kemurungan pekat, lagu ini justru menggunakan tangga nada mayor dengan tempo sedang. Namun, di situlah letak paradoksnya. Kesedihan tak hadir sebagai ledakan, melainkan gema yang tenang dan menetap.
Melodi pada gitar elektrik yang repetitif tergambarkan seperti ingatan yang terus berputar. Sementara, string section berperan sebagai penguat emosi, seolah beban perasaan tentang dirinya tak pernah benar-benar hilang.
Lagu ini mengingatkan tentang kesedihan masa lalu yang menguar di saat pertemuan yang tidak direncanakan. Tak hanya momen fisik, tetapi juga pertemuan dengan diri sendiri di masa lalu dengan perasaan, harapan dan kenangan yang pernah hidup di dalamnya tapi sudah lama dilepaskan.
Penggalan lirik “the sorrowful reunion was inevitable” terasa seperti pengakuan pasrah, bukan marah, apalagi menuntut. Ada kesadaran dewasa bahwa beberapa hubungan memang selesai bukan karena kurang cinta, melainkan waktu.
Kalimat “living an illusion, oh we were so compatible” memperlihatkan benturan emosi dalam lagu ini. Ada kesadaran bahwa dulu semuanya terasa serasi, namun yang dipelihara hanyalah ilusi.
Kesedihan tidak hadir sebagai kemarahan, melainkan sebagai sesuatu yang datang terlambat.
Baris “and I miss all the Xs and Os” menjadi momen personal. Itu merujuk pada kerinduan terhadap kehangatan kecil yang dulu mungkin terasa biasa saja, tetapi kini justru paling dirindukan. Kesedihan dalam lagu ini dibangun dari detail sederhana yang pernah dianggap sepele.
Pertanyaan “do you regret the path you chose with me?” menjadi momen puncak pada lagu ini. Hal tersebut tidak diarahkan menjadi tudingan melainkan sebagai ajakan untuk merenung, lalu dibiarkan pada ruang penyesalan, penerimaan serta kenangan yang tidak dapat diulang kembali.
Melalui A Sorrowful Reunion, Reality Club yang terbentuk sejak 2016 itu tidak hanya menghidupkan kembali kenangan pahit, tetapi juga mengajak pendengar untuk menerima kesedihan sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Lagu ini mengingatkan bahwa pertemuan masa lalu meski menyakitkan, namun bisa dijadikan pelajaran berharga ditengah hiruk-pikuk kehidupan.
Artikel opini ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Salsabila.



No Comment! Be the first one.