Seniman Digie Sigit soroti hilangnya ruang publik anak dan epidemi perundungan melalui baliho kota
Ruang kota digerus modal, perundungan menjamur. Lewat baliho jalanan Yogyakarta, Digie Sigit tampar kesadaran orang dewasa yang gagal lindungi masa depan anak.
Lanskap visual jalanan protokol di Kota Yogyakarta, tepatnya di area eks Bioskop Permata, Jalan Sultan Agung, Pakualaman, menyuguhkan pemandangan berbeda.
Table Of Content
Ruang vertikal kota yang biasanya didominasi iklan komersial dan baliho politik artifisial, kini diintervensi melalui sebuah pameran seni jalanan (street exhibition) tunggal bertajuk “Sayangi Teman” karya seniman street art, Digie Sigit, Senin (25/5/2026).
Digie Sigit sengaja membajak fungsi baliho kota untuk dijadikan ruang pamer sekaligus ruang gugatan terbuka. Aksi ini menyoroti realitas sosial anak-anak yang kian terpinggirkan dari ekosistem perkotaan saat ini.
Alarm darurat lewat karya stensil
Karya yang dihadirkan berbasis teknik stensil khas Digie Sigit. Visualnya menampilkan sosok monokromatik anak kecil berambut sebahu dan bertelanjang kaki yang sedang mendekap erat bola sepak berwarna kuning menyala.
Sorot mata anak tersebut tampak tajam sekaligus rapuh, menatap langsung ke arah warga kota dan pengguna jalan yang melintas. Di bawah figur tersebut, tertera sebuah kalimat berwarna merah menyala: “aku cuma mau maen.. (kenapa kamu bully aku?)”.
Karya ini bertindak sebagai alarm darurat atas dua krisis krusial yang saling berkelindan hari ini, yakni komersialisasi ruang bermain anak dan maraknya epidemi perundungan.
Menggugat ekosistem orang dewasa
Dalam keterangannya, Digie Sigit menjelaskan bahwa karya ini lahir dari keresahan mendalam melihat anak-anak hari ini yang kehilangan ruang publik yang aman dan inklusif untuk tumbuh utuh.
Lahan-lahan kosong dan lapangan kampung yang dahulu menjadi pusat kegembiraan anak-anak, kini terus digusur dan beralih fungsi menjadi ruko, hotel, maupun area parkir beton.
Akibatnya, anak-anak kian terasing dan terpaksa mengadopsi ruang-ruang sisa yang berbahaya, seperti bermain bola di atas aspal jalanan sempit atau di sela-sela kendaraan yang penuh polusi.
Tidak hanya menyoroti krisis fisik tata ruang, kalimat penggugat dalam karya Sigit juga membuka kotak pandora realitas kelam epidemi perundungan di dunia anak-anak.
Sigit menegaskan bahwa lingkaran setan kekerasan tersebut tidak terjadi di ruang hampa, melainkan merupakan replikasi dari perilaku dunia orang dewasa sendiri.
“Pola asuh yang represif di rumah, sistem pendidikan yang menuntut kepatuhan buta di sekolah, hingga kebebalan etis panggung politik yang dipertontonkan di media, menjadi produsen utama yang diserap dan dipraktikkan kembali oleh anak-anak terhadap teman sebaya mereka,” ungkap Sigit dalam siaran persnya.
Seni jalanan sebagai pendidikan massa
Melalui format pameran jalanan ini, proyek “Sayangi Teman” bertindak sebagai bentuk pedagogi publik yang memintas sekat eksklusif dinding galeri konvensional. Seni ditarik langsung ke jalanan untuk mencegat kesadaran massa di tengah kemacetan kota.
Gerakan ini mendorong proses edukasi massal dan otokritik kolektif bagi para orang tua, institusi pendidikan, hingga para pemegang kebijakan tata kota agar segera memutus mata rantai kekerasan serta menghentikan syahwat komersialisasi ruang hidup anak.
Melalui sorot mata anak kecil bertelanjang kaki di atas papan baliho ini, Digie Sigit mengingatkan bahwa jaminan atas lahirnya sebuah bangsa yang merdeka, maju, dan berperadaban tinggi di masa depan ditentukan dari bagaimana masyarakat memperlakukan anak-anak hari ini.
Tanggung jawab kolektif tersebut kini berada sepenuhnya di pundak orang-orang dewasa yang menguasai kota.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan seniman Digie Sigit.



No Comment! Be the first one.