Sarjana pertama dari keluarga petani, Kirmanto kini jadi analis korporasi global
Sebagai satu-satunya sarjana dari delapan bersaudara di keluarga petani, Kirmanto membawa beban harapan yang besar. Ia membuktikan ijazah adalah tiket mengangkat derajat orang tua.
Bagi Kirmanto, ijazah sarjana bukan sekadar selembar kertas tanda lulus. Di pundaknya, gelar itu adalah harapan besar dari keluarga petani di Desa Belik, Pemalang, Jawa Tengah.
Table Of Content
Sebagai satu-satunya sarjana dari delapan bersaudara, ia membawa misi besar, yakni memutus rantai ekonomi keluarga yang selama ini bergantung pada hasil bumi yang tak menentu.
Kirmanto lahir dari orang tua tamatan sekolah dasar (SD) dan merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Seluruh saudaranya tak ada yang melanjutkan ke jenjang studi yang lebih tinggi.
Di situasi yang serba terbatas, mimpi Kirmanto justru tidak main-main. Dia ingin menjadi Menteri Pertanian atau setidaknya pengusaha pertanian yang mampu berdampak bagi masyarakat banyak.
Langkah Kirmanto mengenyam bangku kuliah pun penuh dengan ganjalan, termasuk pupusnya harapan kuliah di kampus negeri lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di tahun 2019.
Ia cukup gigih untuk masuk ke kampus negeri agar tidak membebani orang tuanya dengan biaya-biaya yang acapkali selangit.
Belum sempat mencoba lagi, pandemi Covid-19 datang menghantam pada 2020. Mobilitas masyarakat dibatasi, dan rencana kuliah di kampus negeri buyar seketika karena larangan sang ayah yang khawatir akan keselamatan anaknya.
“Waktu itu Bapak melarang saya pergi-pergi karena masih Covid-19,” kenangnya.
Beasiswa penuh
Namanya juga rezeki, itu akan datang ke orangnya di waktu yang tepat. Kirmanto mendengar kabar dari seorang teman bahwa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dengan beasiswa penuh atau 100 persen melalui skema Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Skema itu memungkinkan Kirmanto mendapatkan uang saku Rp700 ribu per bulan. Menurutnya, ini bisa menjadi peluang baru meraih gelar sarjana meski tak kuliah di PTN.
Ia pun memberanikan diri untuk merantau ke Yogyakarta.
Namun, uang saku ratusan ribu tentu jauh dari kata cukup untuk menutup seluruh kebutuhan hidup di perantauan.
Sadar akan kondisi ekonomi orang tuanya di Pemalang, Kirmanto memutar otak. Ia tak ingin beasiswa itu hanya membuatnya berpangku tangan.
Di sela kesibukan kuliah daring yang kala itu masih dibatasi pandemi, ia memutuskan bergabung sebagai relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta.
Di sana, alumni SMA Negeri 1 Belik itu tak sekadar mencari tambahan honor dari kegiatan part-time. Ia berada di garda depan, menerima laporan kecelakaan hingga terjun langsung ke lokasi bencana saat situasi genting. Ritme hidupnya terbagi antara tugas kampus dan panggilan kemanusiaan di lapangan.
“Kadang kalau kondisinya benar-benar genting, saya juga harus ke lapangan,” ujarnya singkat, menggambarkan masa-masa ia menempa mental di Yogyakarta.
Kerja sebelum lulus

Di sela keterbatasan pandemi, Kirmanto memantapkan pilihannya pada Program Studi (Prodi) Teknologi Hasil Pertanian (THP).
Dua tahun pertama ia habiskan di depan layar, menyerap teori secara daring dari rumah.
Baru pada semester tiga dan empat, ia benar-benar menginjakkan kaki di laboratorium untuk berhadapan dengan mikroskop dan tabung reaksi.
Meski sempat terhalang jarak, ia berhasil menuntaskan masa studinya tepat waktu dalam delapan semester.
Bagi Kirmanto, masa kuliah bukan hanya mengejar nilai di atas kertas. Ia sadar betul bahwa persaingan di luar sana jauh lebih keras.
Sebelum toga disematkan, ia sudah mulai mencuri start dengan mengasah keterampilan teknis yang dibutuhkan industri, mulai dari cara menyusun CV yang menjual, teknik menghadapi wawancara kerja, hingga membangun portofolio profesional di media sosial.
Persiapan matang itu teruji ketika ia berhadapan langsung dengan para perekrut dari berbagai perusahaan besar. Kirmanto tak sekadar membawa ijazah, dia membawa pemahaman teknis yang mendalam.
“Sewaktu wawancara dengan user, saya mampu menjelaskan analisis susu secara detail, persis seperti yang pernah saya praktikkan di laboratorium mikrobiologi. Bekal itu yang membuat saya percaya diri,” kenangnya.
Strateginya membuahkan hasil manis. Tak tanggung-tanggung, lamarannya tembus di tiga korporasi besar sekaligus.
Namun, pilihannya jatuh pada PT Nestlé Indonesia, sebuah raksasa industri pangan global yang memiliki fasilitas pengolahan modern. Di sana, ia kini bergelut dengan standar kualitas industri yang ketat, sembari terus beradaptasi dengan teknologi yang berkembang cepat.
Kembali ke kampung
Di balik seragam analisnya, Kirmanto tetaplah anak laki-laki dari Desa Belik yang rindu pulang. Penempatannya di Batang menjadi berkah tersendiri.
Kirmanto hanya perlu menempuh perjalanan singkat untuk kembali ke Pemalang setiap kali hari libur tiba. Baginya, pulang adalah cara untuk menjaga semangat kerjanya tetap menyala.
Setiap Rupiah yang ia hasilkan kini memiliki tujuan yang jauh lebih mulia daripada sekadar kesenangan pribadi.
Dengan kedua orang tua yang kini telah menginjak usia 70-an dan tak lagi mampu bekerja, Kirmanto mengambil alih tonggak ekonomi keluarga. Sebagian besar gajinya ia tabung dan kirimkan ke kampung halaman.
“Bapak dan Ibu sudah sepuh. Sekarang giliran saya yang menjaga mereka,” ujarnya dengan suara bergetar.
“Mimpi saya sederhana saja sekarang: ingin melihat mereka berangkat umrah dari hasil keringat saya sendiri,” tutupnya.
Konten ini merupakan hasil kolaborasi Nalacitra dengan UNU Yogyakarta dalam mendokumentasikan jejak sukses sarjana pertama untuk menginspirasi anak muda Indonesia.



No Comment! Be the first one.