Uang pinjaman kampus yang menjaga asa mahasiswa perantau di Yogyakarta
Pinjaman kampus di Yogyakarta membantu mahasiswa perantau dari keluarga kurang mampu menutup biaya awal kuliah sambil menunggu pencairan KIP Kuliah, menjaga mimpi tetap hidup.
Mimpi untuk kuliah di Yogyakarta tak selalu berjalan mulus bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, terutama mereka yang datang dari luar daerah.
Table Of Content
Namun, di tengah keterbatasan itu, skema pinjaman dari kampus menjadi jembatan awal yang menjaga asa mereka tetap hidup.
Ketua STIA ‘AAN’ Yogyakarta, Happy Susanto, mengungkapkan bahwa hampir separuh mahasiswa baru di kampusnya berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bahkan banyak yang datang dari luar Pulau Jawa seperti Sumatera Barat hingga Nusa Tenggara Timur.
“Mereka punya semangat besar untuk kuliah di Jogja, tapi terkendala biaya awal. Untuk itu, kampus memfasilitasi pinjaman agar mereka bisa berangkat,” ujarnya.
Pinjaman untuk berangkat dan bertahan
Pinjaman yang diberikan kampus tidak hanya untuk biaya transportasi menuju Yogyakarta, tetapi juga untuk kebutuhan hidup awal, seperti uang kos dan biaya makan di bulan pertama.
Besarannya bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga Rp5 juta, tergantung kebutuhan mahasiswa. Skema ini menjadi solusi konkret bagi mahasiswa yang belum menerima bantuan biaya hidup dari program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
“Banyak mahasiswa baru yang meminta pinjaman untuk biaya perjalanan, biaya kos, hingga kebutuhan hidup satu bulan pertama. Semua kami fasilitasi,” kata Happy.
Langkah ini dinilai penting karena pencairan uang saku KIP Kuliah tidak diterima di awal masa perkuliahan. Mahasiswa baru umumnya baru menerima dana tersebut setelah tiga hingga empat bulan.
Menunggu dana KIP, menjaga mimpi tetap hidup
Keterlambatan pencairan dana KIP Kuliah menjadi tantangan tersendiri. Dengan uang saku sebesar Rp1,1 juta per bulan, mahasiswa baru baru bisa mengakses dana tersebut dalam bentuk akumulasi satu semester, yakni sekitar Rp6,6 juta, setelah bulan ketiga atau keempat.
Di masa jeda itulah pinjaman kampus menjadi penopang utama.
“Jangan sampai mimpi mereka terhalang hanya karena biaya di awal. Kami percaya mereka serius kuliah, jadi kami bantu dulu,” tutur Happy.
Setelah dana KIP cair, mahasiswa kemudian mengembalikan pinjaman tersebut. Sisa dana digunakan untuk melanjutkan kebutuhan hidup di bulan-bulan berikutnya.
Harapan, uang saku naik, mahasiswa lebih fokus
Menurut Happy, skema pinjaman ini terutama dimanfaatkan oleh mahasiswa dari luar daerah.
Sekitar separuh mahasiswa baru berada dalam kondisi membutuhkan bantuan tersebut, sementara mahasiswa yang berasal dari DIY dan sekitarnya umumnya tidak memerlukan pinjaman.
Praktik ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir, seiring dengan kebijakan penyaluran KIP Kuliah yang lebih tepat sasaran sejak tahun ajaran 2023/2024.
Di balik keberhasilan skema ini, kampus juga menyoroti perlunya peningkatan dukungan dari pemerintah.
Salah satunya adalah kenaikan uang saku KIP Kuliah yang sejak 2021 masih bertahan di angka Rp1,1 juta per bulan.
Menurut Happy, jumlah tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mahasiswa di Yogyakarta, yang biaya hidupnya jauh lebih tinggi.
“UMR Jogja sudah di atas Rp2,5 juta. Dengan Rp1,1 juta, mahasiswa masih harus berpikir untuk bekerja sambilan. Harapannya, ke depan uang saku bisa ditingkatkan agar mereka bisa fokus belajar,” ujarnya.
Menjaga asa, bukan sekadar angka
Lebih dari sekadar bantuan finansial, pinjaman kampus ini menjadi simbol keberpihakan pada mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Di tengah sistem yang belum sepenuhnya ideal, kampus hadir sebagai penguat agar mimpi pendidikan tidak berhenti di ongkos keberangkatan.
Bagi banyak mahasiswa perantau, pinjaman itu bukan sekadar uang. Ia adalah kesempatan kedua untuk tetap melangkah.



No Comment! Be the first one.