Menunggu debat isu HAM Zainal Arifin Mochtar vs Natalius Pigai
Guru Besar FH UGM, Zainal Arifin Mochtar menjawab tantangan debat terbuka terkait isu HAM ajakan dari Menteri HAM, Natalius Pigai.
Jagad media sosial cukup heboh pada Rabu (25/2/2026) lantaran Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai membalas cuitan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM), Zainal Arifin Mochtar atau Uceng berkaitan dengan isu HAM.
Table Of Content
Pigai mengatakan dirinya ingin mengajari Uceng tentang HAM dan menyebut Uceng adalah guru besar yang dibesar-besarkan.
Ditemui awak media di FH UGM, Jumat (27/2/2026) sore, Uceng mengapresiasi Pigai apabila ia tidak keberatan untuk menghadiri diskusi tersebut.
“Saya pikir, bagus kalau mau hadir, lagipula menurut saya, ini bukan debat,” papar Uceng.
Upaya transparansi akuntabilitas
Uceng menyebut, adanya forum terbuka itu penting agar publik memahami capaian nyata pemerintah dalam penegakan HAM dalam dua tahun terakhir.
Ia menilai, skor penegakan HAM dua tahun belakangan cukup berantakan dan masyarakat perlu tahu alasannya.
“Itu supaya menjadi semacam pertanggungjawaban terhadap kinerja dia,” jelas Uceng.
Dalam cuitannya, Pigai menyetujui diskusi HAM tersebut perlu digelar secara langsung di televisi nasional. Uceng pun setuju dengan ide tersebut.
“Banyak banget yang sudah kontak. Dari Kompas TV, Bocor Alus Tempo, Tempo TV, Mojok, itu ngajakkin. Paling banyak dari pusat studi, teman-teman BEM juga mengajak,” jelasnya.
Meski demikian, dia memilih fasilitas media yang multiplatform agar pembahasan itu bisa disimak lebih banyak masyarakat.
Bukan bahas teori
Uceng menambahkan, dirinya tidak ingin membahas HAM secara teori karena pembahasan teori sebaiknya di kampus saja.
“Saya sih berharap, ini bukan, kalau debat teoritik sih ngapain. Itu urusan debat teoritik datangi kampus saja. Kalau publik, kan barangkali, yang dia berharap itu, adalah apa yang sebenarnya sudah dilakukan,” terangnya.
Uceng menjelaskan, pejabat publik sebaiknya tidak menjawab jargon. “Seakan-akan, tenanglah, saya sudah menguasai ilmunya. Pokoknya saya bisa. Enggak bisa begitu. Negara pasti melakukan yang terbaik untuk warganya. Tidak, demokrasi tidak seperti itu,” ungkapnya.
Jargon-jargon itu, kata Uceng, hanya dilakukan masa kampanye, bukan saat pejabat sudah menduduki kursi pejabat publik.
“Maka, saya mewakafkan diri dan waktu saya untuk menagih itu,” tukasnya.
Menuju forum terbuka
Kejadian saling balas cuitan itu bermula ketika Uceng menjawab pernyataan Pigai.
“Saya setuju dengan bapak, seringkali profesor itu dibesar-besarkan saja. Saya izin, mau belajar memahami HAM dari bapak. Saya mau diskusi dan debatkan satu per satu kasus HAM di Indonesia yang katanya bapak sudah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan dimana saya bisa belajar,” tulisnya pada Rabu.
Natalius Pigai kemudian membalas dengan menyatakan kesediaannya berdebat secara langsung di televisi nasional dengan format siaran langsung.
“Saya setuju di TV Nasional dan Live. Anda yang undang maka saya minta anda yang siapkan. Kita bicara dalam tataran ilmiah. Saya benar-benar mau ajari anda soal HAM agar paham. Tapi nonton ini dulu untuk sekadar tambahan ilmu HAM anda sebelumnya debat dengan saya. Jujur saya sangat mau biar rakyat Indonesia nonton seberapa hebat ilmu HAM seorang Profesor,” tulis Pigai.
Uceng mengatakan, hingga Jumat, Pigai belum memberikan jawaban lanjutan terkait rencana pembahasan HAM tersebut.
Case closed
Pada Sabtu (28/2/2026), Pigai menjawab ajakan debat terbuka Uceng di Instagramnya @natalius_pigai. Dia menyebut Uceng sebagai profesor yang takut akan debat ilmiah dan mencantumkan salah satu video dari Pandangan Jogja, media di Yogyakarta.
“Video ini saya ambil dari Instagram terbaru beliau setelah jam 11:16 kemarin, Kompas TV, dan saya setuju debat secara debat secara live di tanggal 5 Maret 2026. Setelah beliau diberitahu Kompas TV bahwa Pigai setuju dan siap debat, eh tiba-tiba video ini muncul. Beliau tidak mau debat ilmiah, debat ilmu pengetahuan,” katanya.
“Sampai di sini, kadar kualitas seorang profesor. Jangan pernah nantang orang yang hidup di dunia HAM. Case closed!” tutupnya.
Update 1 Maret 2026:
Rencana debat HAM tersebut batal digelar. Diduga, pembatalan terjadi karena perbedaan fokus pembahasan. Pigai menginginkan debat ilmiah soal konsep dan teori HAM, sementara Uceng menilai pembahasan perlu mengarah pada evaluasi kinerja dan kebijakan.
“Kemarin, saya terima kabar resmi dari Pak Natalius Pigai membatalkan kehadirannya di Kompas TV. Apa alasan? Versinya banyak yang sampai ke saya. Hanya mau bilang, sebagai pejabat publik harus jaga mulut. Anda bukan kitab suci yang pasti benar dan butuh tafsir untuk dimengerti. Case closed! Thanks. Tabik,” ujar Uceng dalam cuitannya di X, Minggu (1/3/2026).



No Comment! Be the first one.