Billy Sibero, TikTok sebagai portofolio terbuka seorang music producer
Dari les piano singkat hingga belajar otodidak saat pandemi, Billy Sibero menemukan jalannya di TikTok. Aransemen lagu JKT48 membawanya ke FYP dan menjadi langkah membangun identitas kreatif.
Di sebuah kamar kost yang jaraknya cukup jauh dari kampus, seorang mahasiswa menatap layar ponselnya. Akun TikTok-nya saat itu hanya diikuti dua orang. Video yang hendak ia unggah hanyalah aransemen sederhana, lagu JKT48 yang diperkaya musik tambahan. Ia tidak yakin video itu akan dilihat siapa pun.
Table Of Content
Beberapa jam kemudian, notifikasi mulai berdatangan. Warganet mulai melihat karyanya.
Bagi konten kreator Billy Sibero (@alsibero), momen itu bukan sekadar soal masuk algoritma For Your Page (FYP). Itu adalah titik ketika waktu luang yang semula terasa hampa berubah menjadi ruang belajar, ruang eksperimen, sekaligus ruang publik.
Latihan otodidak
Ketertarikan Billy pada musik bermula sejak sekolah dasar. Ia sempat mengikuti les piano pop selama kurang dari dua tahun. Selebihnya, ia belajar secara mandiri.
“Aku merasa justru berkembang ketika latihan sendiri,” ujarnya yang juga merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Seni Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu.
Pengalaman itu membentuk satu pola: musik bukan sesuatu yang harus selalu hadir lewat ruang formal. Ia tumbuh lewat rasa ingin tahu dan keberanian mencoba. Ketika pandemi Covid-19 datang dan aktivitas luar ruang berhenti, pola itu kembali bekerja.
Merasa kebingungan mengisi waktu, Billy mulai mencoba membuat aransemen lagu. Ia membantu teman membuat soundtrack film, mengerjakan musik untuk perayaan Natal, dan bereksperimen dengan produksi secara otodidak. Tidak ada target besar. Hanya proses yang berjalan pelan.
Sejak SMA ia sudah mengunggah konten musik di Instagram, tetapi belum konsisten. Musik masih menjadi aktivitas sampingan, belum menjadi ruang yang benar-benar ia rawat.
Waktu jeda untuk riset
Memasuki semester dua perkuliahan pada 2024, Billy kembali berhadapan dengan waktu luang. Jarak kost yang cukup jauh dari kampus membuatnya jarang berkumpul dengan teman-teman.
Ada banyak jeda. Di situ ia teringat kebiasaannya membuat konten beberapa tahun sebelumnya.
Ia memutuskan mencoba kembali, tetapi kali ini melalui TikTok. Alasannya sederhana: algoritma TikTok terasa lebih cepat menjangkau audiens dibanding Instagram.
Sebelum menentukan arah kontennya, ia melakukan riset kecil-kecilan. Ia menemukan sebuah video TikTok yang memperlihatkan salah satu member JKT48 menyanyikan lagu mereka dengan ukulele. Klipnya pendek, tetapi Billy melihat kemungkinan.
“Kayaknya enak kalau ditambahin musik,” pikirnya.
Ia membuat aransemen tambahan untuk potongan video tersebut. Sebelum mengunggahnya, ia sempat ragu. Namun dorongan dari sang abang membuatnya akhirnya menekan tombol ‘post’.
Video itu menjadi awal konsistensi. Dari sana ia memutuskan bahwa lingkar besar kontennya akan berkisar pada lagu-lagu JKT48, grup yang terasa dekat karena ia pernah menyukai J-Pop.
Pilihan itu bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menemukan irisan antara selera personal dan potensi audiens.
Performa tak selalu lurus dengan penghasilan
Tingginya performa konten tidak serta-merta berarti pemasukan tetap. Billy menyadari sistem monetisasi TikTok berbeda dengan YouTube. Tanpa rutinitas live streaming, peluang mendapatkan gift pun terbatas.
Namun dari visibilitas itulah peluang lain muncul. Beberapa tawaran kerja sama datang melalui pesan langsung. Orang-orang yang mengenalnya lewat TikTok mengajaknya berkolaborasi. Baginya, itu sudah cukup untuk menjaga konsistensi.
“Kalau tidak dapat job mungkin sudah berhenti dari lama,” katanya. Di balik layar, tujuan utamanya sebenarnya sederhana, yakni membangun branding sebagai music producer. TikTok bukan hanya panggung, melainkan portofolio terbuka.
Algoritma TikTok sebagai ruang belajar
Kisah Billy menunjukkan bahwa proses kreatif generasi hari ini sering kali berlangsung di ruang yang tak terduga: kamar kost, masa pandemi, atau kolom komentar.
Waktu luang yang semula dianggap jeda berubah menjadi laboratorium kecil. Algoritma yang kerap dianggap misterius justru menjadi sistem distribusi yang membuka kemungkinan pertemuan dengan audiens baru.
Namun, yang paling menentukan tetap bukan algoritma, melainkan konsistensi dan keberanian untuk mengunggah karya pertama, bahkan ketika pengikut baru berjumlah dua orang.
Di tengah era serba digital, proses menjadi tidak selalu dimulai dari studio profesional atau institusi besar. Kadang ia bermula dari rasa penasaran pada satu potongan video, dari keberanian menekan tombol ‘unggah’, dan dari kesediaan menjadikan waktu luang sebagai ruang bertumbuh.
Artikel opini ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Gema Ratu Fatiha



No Comment! Be the first one.