SMA Sanjaya XIV Nanggulan menjemput asa hingga Papua
Di SMA Sanjaya XIV Nanggulan, pendidikan bukan sekadar ruang kelas, tetapi perjalanan panjang menjemput anak yang nyaris putus sekolah, bahkan dari ujung timur Indonesia.
Di Kabupaten Kulon Progo, SMA Sanjaya XIV Nanggulan merupakan satu-satunya SMA Katolik. Jumlah siswanya tidak banyak, tapi cerita yang tumbuh di dalamnya sering kali lebih besar.
Table Of Content
Misalnya, kisah tentang anak-anak yang nyaris putus sekolah, perjalanan jauh siswa dari Papua, Sumatra, hingga Kalimantan, dan para guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga ikut menjaga agar murid tetap bertahan.
Di tahun 2025, SMA Sanjaya XIV Nanggulan meluluskan enam dari tujuh siswa dan di tahun 2026 ini, ada peningkatan jumlah siswa untuk kelas X, yakni 15 siswa. Sementara, kelas XI 16 siswa, dan kelas XII diisi 18 siswa.
Jemput siswa dari Kalimantan hingga Papua
Mereka tak menutup mata pada kenyataan. Tidak semua keluarga mampu mengakses pendidikan dengan mudah.
Untuk itu, sekolah menjalankan strategi jemput bola bukan semata promosi, melainkan upaya memastikan anak yang membutuhkan tidak kehilangan kesempatan belajar.
“Kami biasanya menjemput bola melibatkan jejaring yang lebih luas, seperti susteran, romo, donatur, dan mitra pihak ketiga. Kami tanya dulu ke susteran terkait tempat tinggal atau asrama. Kalau mereka bersedia memfasilitasi asrama dan keberangkatan siswa menuju Yogyakarta, bisa bersekolah di tempat kami. Kalau tidak, ya tidak kami lanjutkan,” kata Kepala SMA Sanjaya XIV Nanggulan, Tutik Widiastuti kepada tim Nalacitra, Kamis (8/1/2026).
Komposisi siswa saat ini sekitar 50% lokal dan 50% dari luar daerah. Dari luar daerah, ada siswa dari Papua, Kalimantan, hingga Nias, Sumatra. Sementara, dari wilayah sekitar, ada pula siswa dari Purworejo, Jawa Tengah yang pulang-pergi setiap hari.
Sekolah yang ikut mengurus ‘hidup’ murid
Di SMA Sanjaya XIV Nanggulan, urusan anak tidak berhenti di kelas. Contohnya, ketika ada murid yang kesulitan transportasi, sekolah mengupayakan antar-jemput. Tak jarang, para guru juga melakukan home visit untuk mengecek kondisi siswa.
“Kami tidak hanya berkunjung ke rumah. Kadang ke tempat tongkrongannya. Kami pernah telusuri salah satu siswa ada di sekolah lamanya karena sedang mengawasi pacar. Ya, kami segera bawa dia kembali ke sekolah,” timpal Paulina Khrisna Dewi yang merangkap sebagai guru bimbingan konseling (BK) di sekolah tersebut.
Pada situasi tertentu, pendampingan sekolah bahkan meluas ke urusan administrasi dan kesehatan.
“Ya, termasuk mengurus BPJS, pindahan kos, ke puskesmas, rumah sakit, itu semua kadang kami lakukan,” jelasnya lagi.
Tak jarang, Tutik juga melakukan antarjemput salah satu siswa yang berdomisili searah dengan rumahnya. Di pagi hari, Tutik akan menjemput siswa tersebut. Siang hari, ia akan mengantarkannya pulang.
Bukan karena kewajiban tertulis, tapi, tanpa itu, sebagian dari mereka mungkin tak sampai ke ruang kelas.
“Kalau memang anaknya tidak punya transportasi dan keluarganya kesulitan, ya kami usahakan juga biar anaknya sampai ke sekolah,” kata dia.
Beasiswa dari pemerintah, yayasan, hingga jejaring gereja
Sekolah itu tak mungkin menggantungkan biaya dari orang tua semata. Maka, SMA Sanjaya XIV Nanggulan mengandalkan beberapa sumber dukungan, dari pemerintah, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan skema bantuan daerah, serta dari jejaring mitra.
Salah satu kolaborasinya adalah dengan Domus Cordis, yang disebut memberi beasiswa untuk anak Katolik dengan program pendampingan berkelanjutan, mulai dari dukungan biaya pendidikan, kegiatan retret, hingga pembinaan.
Akademik penting, tapi karakter jadi napas utama
Di SMA Sanjaya XIV Nanggulan, rapor tetap dibuka, nilai tetap dihitung, dan kelulusan tetap punya standar. Akademik tidak diabaikan. Sekolah tetap tidak meluluskan siswa apabila ia tidak memenuhi standar yang sudah ditetapkan.
Akan tetapi, sekolah ini memilih untuk tidak menjadikan akademik sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Anak-anak di SMA itu datang dari latar belakang beragam. Ada yang sejak kecil terbiasa belajar dengan pendampingan keluarga, ada juga yang tumbuh nyaris sendirian, berpindah tempat tinggal, kehilangan orang tua, atau hidup tanpa kontrol belajar yang memadai.
Dalam kondisi itu, mendorong semua anak untuk berlari dengan kecepatan yang sama, menurut mereka, justru tidak adil.
Maka, sekolah menaruh napas utama pada pembentukan karakter, yakni kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan menempatkan diri.
Nilai-nilai itu memang tidak terlihat di selembar kertas ujian, tapi justru menentukan apakah seorang anak bisa bertahan hidup setelah lulus.
“Untuk SMA ini, kami lebih menekankan pada nilai-nilai karakter seperti kejujuran, disiplin karena daya jualnya di dunia kerja maupun universitas selain akademik juga karakter,” katanya.
Pendekatan ini juga berarti sekolah tidak memaksakan ambisi yang tak sejalan dengan kemampuan siswa.
Mereka diarahkan untuk mengenali diri. Jika ingin kuliah, pilih jurusan yang realistis dan bisa dijalani hingga tuntas. Jika memilih bekerja, jadilah pekerja yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
Sekolah kecil, pekerjaan yang besar
Dengan 10 guru, 3 karyawan, SMA Sanjaya XIV Nanggulan bekerja dengan sumber daya terbatas, tetapi di banyak bagian cerita, tampak satu hal, yakni sekolah ini tidak hanya mencoba mempertahankan diri sebagai ‘satu-satunya SMA Katolik di Kulon Progo’, melainkan juga mempertahankan anak-anak agar tidak kehilangan masa depan.
Di tempat seperti ini, pendidikan sering berarti hal-hal yang jarang tercatat di rapor, seperti dijemput agar tidak bolos, ditemani ke layanan kesehatan, dibantu mengurus administrasi, hingga diyakinkan bahwa hidup mereka tetap layak diperjuangkan.



No Comment! Be the first one.