Strategi ‘Sorting Hub’ di Kampung Amanah Makassar, pilah-pilih sampah cegah penyakit
Tim Pengabdian Politeknik Indonesia menghadirkan fasilitas Sorting Hub dan model Eco-Community di Kampung Amanah, Makassar agar warga bisa pilah-pilih sampah.
Penumpukan sampah yang tidak terkelola kerap menjadi akar masalah lingkungan dan muncul berbagai penyakit. Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Indonesia menghadirkan program berbasis pemberdayaan bertajuk “Adaptasi Model Pengelolaan Limbah Eco-Community” di Kampung Amanah, Kota Makassar, Sabtu (19/9/2026).
Berlokasi di Posko Yatim selaku pengelola Masjid Kampung Amanah, program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Pendekatan Eco-Community yang diterapkan menempatkan warga setempat bukan sekadar sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai aktor utama dalam mengelola lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.
Ketua Tim PkM Politeknik Indonesia, Risnawati Anwas, S.K.M., M.Kes., menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa dilepaskan dari perilaku hidup bersih dan kesehatan masyarakat. Tim terdiri dari empat orang, diantaranya Tri Fira Yuniza, S.E.,M.Ak., Ir. Junardin Djamaluddin, S.P.,M.Si.,IALI., Raihan Nurzahid, dan Nabil.
“Pengelolaan sampah yang buruk berpotensi menciptakan tempat berkembangnya vektor penyakit. Pendekatan kami tak cuma soal membuang sampah, tetapi bagaimana warga membangun kebiasaan hidup yang bersih, sehat, dan aman,” ujar Risnawati.
Memilah sampah dari sumber
Sebagai wujud nyata dari program ini, tim PkM Politeknik Indonesia membangun fasilitas Sorting Hub Eco-Community Kampung Amanah. Pusat pemilahan berbasis komunitas ini dirancang untuk mengedukasi warga agar membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah.
Masyarakat diarahkan untuk mengenali dan memilah sampah sejak dari sumber, terutama menjadi sampah organik, anorganik, dan residu. Pemilahan tersebut diharapkan dapat membuat pengelolaan sampah menjadi lebih mudah sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Melalui Sorting Hub, sampah yang telah dikumpulkan dapat ditangani sesuai karakteristiknya. Sampah organik dapat diarahkan untuk pengolahan, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai dapat disalurkan melalui mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan yang sesuai.
Sementara itu, sampah residu diarahkan untuk penanganan lebih lanjut sesuai sistem pengelolaan sampah yang berlaku.
“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Dengan pemilahan yang benar, sebagian sampah dapat dimanfaatkan kembali, nilai ekonominya meningkat, sementara sampah yang tidak dapat dimanfaatkan (residu) dapat ditangani secara lebih tepat,” jelas Risnawati.
Pendampingan berkelanjutan

Penyediaan fasilitas Sorting Hub tidak berdiri sendiri. Untuk memastikan perubahan perilaku yang menetap, tim pengabdian turut meluncurkan modul edukasi bertajuk “Cerdas Pilah Sampah, Lingkungan Bersih-Sehat-Aman” yang disajikan dengan bahasa sederhana dan aplikatif.
Tim PkM juga membagikan Alat Pelindung Diri (APD) dasar kepada 30 kepala keluarga di lokasi untuk mendukung aspek keselamatan kerja dan higienitas lingkungan.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar fasilitas fisik. Indikator keberhasilan kami diukur dari perubahan pengetahuan, keterampilan, dan tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola sampahnya sendiri,” tegas Risnawati.
Ke depan, pendampingan akan diarahkan pada penguatan pemanfaatan perlengkapan K3, Sorting Hub, peningkatan kapasitas mitra, monitoring praktik pemilahan, evaluasi keberdayaan masyarakat serta penguatan jejaring pengelolaan sampah.
“Kami berharap masyarakat Kampung Amanah dapat menjadi contoh bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu memilah sampah dari sumber. Ketika pengetahuan, fasilitas dan partisipasi masyarakat berjalan bersama, pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang bersih, sehat dan aman,” tutup Risnawati.
Program pengabdian ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat di tingkat komunitas.



No Comment! Be the first one.