Kursi roda multifungsi karya Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, bisa ukur berat badan hingga status gizi
Kursi roda multifungsi M20 karya Poltekkes Kemenkes Yogyakarta mampu mengukur berat badan, tinggi badan, tekanan darah, hingga status gizi pasien dalam satu alat.
Bagi pasien yang tidak mampu berdiri, sekadar mengetahui berat atau tinggi badan sering kali menjadi hal yang sulit.
Table Of Content
Kondisi inilah yang mendorong lahirnya kursi roda multifungsi M20, inovasi dari Pranata Laboratorium Pendidikan Ahli Pertama Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Hernie Endah Widyawati yang mampu mengukur berbagai indikator kesehatan hanya dari kursi roda.
Hernie menjelaskan, inovasi ini berangkat dari kebutuhan mendapatkan data kesehatan pasien secara langsung atau data primer, terutama bagi pasien yang tidak mampu berdiri.
“Kursi roda M20 adalah kursi roda yang dilengkapi berbagai sensor. Ketika pasien atau responden duduk di kursi tersebut, sistem akan langsung mengestimasi berat badan, tinggi badan, suhu, tekanan darah, sekaligus menampilkan status gizi dan kebutuhan energi,” ujarnya kepada tim Nalacitra beberapa waktu lalu.
Alat ini dirancang untuk membantu pemeriksaan pada kelompok dengan keterbatasan mobilitas, seperti lansia, penyandang disabilitas, maupun pasien dengan kondisi khusus yang tidak dapat berdiri untuk pengukuran antropometri.
Berawal dari kebutuhan data primer pasien
Hernie mengatakan ide pengembangan kursi roda multifungsi muncul saat dirinya melakukan supervisi praktik kerja lapangan mahasiswa di rumah sakit.
Saat itu, ia menemukan mahasiswa kerap menggunakan data sekunder yang sudah dicatat sebelumnya oleh petugas kesehatan, tanpa melakukan pengukuran langsung kepada pasien.
“Ketika saya lihat secara visual, kondisi pasien berbeda dengan data yang ada. Berat badan dan tinggi badan yang tercatat tidak sesuai. Ternyata, mahasiswa hanya mendapatkan data sekunder dari petugas screening awal,” jelasnya.
Padahal, menurut Hernie, data primer seperti berat badan dan tinggi badan sangat penting bagi tenaga gizi untuk menentukan intervensi nutrisi yang tepat.
“Seorang analis gizi membutuhkan data primer itu untuk menghitung kebutuhan energi pasien, menentukan asupan makanan, dan mempercepat proses penyembuhan,” katanya.
Dari situ, ia kemudian berinisiatif mengembangkan alat yang memungkinkan pasien langsung terukur kondisinya saat pertama kali datang ke fasilitas kesehatan.
Dikembangkan sejak 2020
Pengembangan kursi roda M20 dimulai sejak 2020 dalam bentuk prototipe. Seiring waktu, alat ini terus disempurnakan dengan berbagai fitur tambahan.
Pada 2021, tim menambahkan fitur pengukuran tinggi badan selain berat badan. Setahun kemudian, alat ini dilengkapi sensor tekanan darah dan suhu tubuh.
“Di tahun 2023, sistemnya sudah dibuat lebih ringkas dengan layar digital yang terintegrasi. Kemudian pada 2024 kami mengajukan paten sederhana,” ujar Hernie.
Saat ini, pengembangan alat dilakukan bersama Universitas Amikom Yogyakarta dan telah memasuki tahap produksi terbatas.
Sebanyak 10 unit kursi roda M20 telah diproduksi dan diuji coba di berbagai layanan kesehatan masyarakat seperti klinik dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu).
Membantu lansia hingga pasien disabilitas
Dalam uji coba lapangan di Posbindu Sukunan, Yogyakarta, Hernie menemukan manfaat alat ini bagi lansia yang selama ini kesulitan memantau kondisi kesehatannya.
Ia menceritakan pengalaman seorang lansia yang sudah bertahun-tahun tidak mengetahui berat badan dan tinggi badannya karena tidak mampu berdiri.
“Saat beliau duduk di kursi itu dan datanya muncul di layar, beliau sangat antusias. Baru tahu kembali berat badan dan tinggi badannya,” katanya.
Selain lansia, kursi roda ini juga dapat digunakan untuk pasien rumah sakit yang tidak bisa berdiri, sehingga pengukuran kondisi dasar dapat dilakukan dengan lebih sederhana.
Potensi digunakan untuk monitoring program MBG
Ke depan, tim pengembang menargetkan kursi roda M20 dapat masuk tahap hilirisasi melalui kerja sama dengan industri agar bisa diproduksi lebih luas.
Salah satu potensi pemanfaatannya adalah untuk mendukung monitoring dan evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya bagi kelompok dengan kebutuhan khusus.
Menurut Hernie, alat ini dapat membantu memantau status gizi siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang sering kali sulit diukur dengan metode konvensional.
“Ketika kita ingin menilai apakah program MBG meningkatkan status gizi anak-anak di SLB, tentu kita membutuhkan alat ukur yang sesuai. Kursi roda ini bisa menjadi salah satu solusi,” jelasnya.
Selain siswa disabilitas, alat tersebut juga berpotensi digunakan untuk memantau kondisi gizi penerima MBG lain seperti balita dan ibu hamil dengan kondisi khusus.
Dengan fitur yang terintegrasi, kursi roda M20 diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan memperoleh data kesehatan pasien secara lebih akurat sekaligus mempermudah proses pelayanan di fasilitas kesehatan.



No Comment! Be the first one.