Di balik kelir wayang kulit, peran dalang kerap identik dengan sosok laki-laki yang memainkan puluhan wayang semalaman dengan suara lantang. Siti Rohkayati, mahasiswi Program Studi Pedalangan ISI Yogyakarta, hadir mematahkan anggapan tersebut. Dengan naskah lakon ciptaannya sendiri dan jam terbang yang terus bertambah, Siti menunjukkan bahwa dunia wayang tidak mengenal batas gender.
Ketertarikan Siti bermula dari keinginannya menjadi penulis cerita. Saat duduk di bangku SMP, ia terpikat setelah menonton pertunjukan wayang.
“Saya penasaran dengan alur cerita perwayangan yang rumit,” ujar Siti.
Rasa ingin tahu itu mendorongnya menelusuri kisah-kisah wayang dan mencoba menulis lakon sendiri. Kini, ia juga kerap diminta membantu pembuatan naskah lakon oleh dalang lain.
Meski sempat ragu, tawaran bergabung dengan sebuah sanggar seni menjadi titik balik perjalanannya. Dari sana, Siti mulai mendalami dunia pedalangan, melanjutkan pendidikan ke SMKI Yogyakarta, lalu menempuh studi di ISI Yogyakarta. Lingkungan yang didominasi mahasiswa laki-laki tidak membuatnya kesulitan beradaptasi, meski ia menjadi satu-satunya perempuan di jurusan tersebut.
Tanpa latar belakang keluarga dalang, langkah Siti sempat diragukan.
“Banyak yang bilang perempuan tak cocok jadi dalang,” katanya.
Keraguan itu ia jawab dengan berbagai penampilan di sejumlah acara sanggar. Berbeda dengan dalang laki-laki yang biasanya tampil semalaman, Siti umumnya memainkan wayang berdurasi satu hingga empat jam. Setelah beberapa kali tampil, kepercayaan dirinya mulai tumbuh.
Ia juga pernah berkolaborasi dengan dalang laki-laki dalam Residensi Surakarta melalui pertunjukan lakon Wayang Sri Mulih.
Perkembangan tersebut tidak lepas dari latihan rutin yang dijalaninya, mulai dari mengulik sabetan, bergabung dengan beberapa sanggar, hingga mengisi waktu luang dengan ilustrasi naskah. Tantangan tetap ada, terutama dalam menyeimbangkan dinamika pergaulan di jurusan serta melatih vokal yang identik dengan karakter maskulin dalang.
“Saya masih mencoba teknik suara seperti dalang laki-laki pada umumnya,” ujar Siti. Di lingkungan kampus, ia mengaku mendapat perlakuan setara dalam materi perkuliahan maupun praktik pedalangan.
Ke depan, Siti berkeinginan menghadirkan inovasi dengan mengembangkan wayang klasik menjadi wayang kontemporer. Ia berencana memadukan gamelan dengan musik modern populer agar lebih mudah diterima kalangan muda.
“Saya sudah mendapat ide naskah dan aransemennya. Pernah dicoba saat latihan, dan saya pikir ini bisa menjadi kolaborasi yang bagus jika terealisasi,” katanya.
Siti juga menyampaikan pesan bagi perempuan yang ingin menjadi dalang agar tidak ragu untuk terus berlatih dan mengasah keterampilan.
Ia berharap Program Studi Pedalangan ISI Yogyakarta semakin diminati generasi muda sehingga kebudayaan wayang kulit tetap lestari di Indonesia.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Cahya Maharani Retnaningrum.



No Comment! Be the first one.