Jangan sembarangan melabeli NPD di media sosial, ini penjelasan psikolog
Label NPD kian marak di media sosial, psikolog UMY ingatkan bahaya stigma dan salah kaprah diagnosis. Pahamilah NPD dan narsisme itu beda.
Istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) semakin sering digunakan di media sosial untuk melabeli seseorang yang dianggap egois atau haus perhatian.
Table Of Content
Padahal, menurut psikolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, penggunaan istilah gangguan kepribadian secara sembarangan berisiko menimbulkan stigma dan dampak sosial yang serius.
Ia menjelaskan bahwa pelabelan gangguan mental secara serampangan bukan sekadar persoalan bahasa.
Ketika istilah klinis digunakan tanpa dasar ilmiah, dampaknya bisa merembet ke ranah sosial, membentuk stigma, melahirkan prasangka, dan perlahan menjauhkan seseorang dari lingkungannya, meski ia tidak pernah didiagnosis mengalami gangguan tersebut.
“Sekarang istilah NPD sering digunakan secara serampangan. Label seperti ini berbahaya karena menciptakan persepsi negatif terhadap seseorang bahkan sebelum dikenali lebih jauh,” ujar Cahyo saat ditemui di UMY, Jumat (7/11/2025).
Ia menjelaskan, cap semacam itu dapat membuat seseorang dijauhi, disalahpahami, bahkan kehilangan ruang untuk berinteraksi secara sehat.
Secara klinis, NPD merupakan salah satu bentuk gangguan kepribadian.
Kondisi ini ditandai dengan kebutuhan berlebihan untuk dikagumi serta keyakinan yang terus-menerus bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain. Penderitanya kerap hidup dalam fantasi tentang kekuasaan, kesuksesan, atau keistimewaan diri, dan menunjukkan kepekaan tinggi terhadap kritik.
“Mereka membutuhkan validasi dari orang lain dan sering kali tampak arogan. Ketika dikritik, bisa bereaksi berlebihan atau menolak tanggung jawab,” jelas Cahyo. Ia menegaskan, kondisi tersebut berbeda jauh dengan sekadar memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Namun, Cahyo menekankan bahwa perilaku narsistik tidak serta-merta dapat disebut sebagai gangguan kepribadian. Sebuah perilaku baru dapat dikategorikan sebagai gangguan ketika sudah menimbulkan kesulitan nyata, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Misalnya, ketika seseorang terlalu dominan hingga menghambat kerja tim, sulit menjalin hubungan dekat, atau tidak mampu menerima sudut pandang yang berbeda.
“Masalahnya, orang dengan NPD sering kali tidak sadar bahwa perilakunya justru merugikan dirinya sendiri. Ia cenderung menyalahkan orang lain, menganggap orang lain tidak kompeten atau toksik, padahal dirinya sendiri yang bermasalah,” ungkapnya.
Lebih jauh, Cahyo menjelaskan bahwa munculnya NPD tidak berdiri pada satu faktor tunggal. Ada peran faktor biologis dan genetik, namun pola asuh serta budaya sosial juga memberi pengaruh besar.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan pujian berlebihan atau selalu ditempatkan sebagai pusat perhatian berisiko mengembangkan rasa percaya diri semu yang sulit dikontrol.
“Dalam budaya yang menyanjung satu gender atau memberi perlakuan istimewa sejak kecil, anak bisa tumbuh dengan rasa superioritas yang berlebihan. Dalam beberapa kasus, perilaku orang tua yang narsistik pun bisa ditiru oleh anak,” tambahnya.
Oleh karena itu, Cahyo menegaskan bahwa memahami NPD tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan potongan konten viral di internet.
Diagnosis gangguan kepribadian membutuhkan proses panjang dan pemeriksaan profesional oleh psikolog atau psikiater dengan prosedur ilmiah yang terstandar.
“NPD adalah istilah klinis, bukan label sosial. Yang berhak menegakkan diagnosis hanyalah profesional di bidangnya,” kata Cahyo.
Ia mengingatkan, ketika masyarakat asal memberi cap, yang terjadi bukanlah diagnosis, melainkan labeling dan bagi individu yang rentan secara sosial, label semacam itu bisa berdampak sangat menghancurkan.
Apa itu narsisme dan narcissistic personality disorder (NPD)?
Dikutip dari berbagai sumber, dalam psikologi, narsistik dan NPD berdiri di wilayah yang berbeda.
Menyamakan keduanya bukan hanya keliru secara konsep, tetapi juga berisiko menjadikan istilah klinis sebagai alat stigma.
Perbedaannya bukan sekadar soal istilah, melainkan soal posisi: yang satu adalah sifat kepribadian, sementara yang lain merupakan diagnosis gangguan kesehatan mental.
Narsisme bagian dari kepribadian manusia
Dalam kerangka psikologi, narsisme tidak hadir sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing atau menyimpang.
Narsisme ini justru merupakan bagian dari spektrum kepribadian manusia. Rasa bangga pada diri sendiri, kebutuhan untuk diakui, hingga dorongan menunjukkan kemampuan adalah hal yang wajar dan hampir dimiliki setiap orang.
Sejumlah rujukan psikologi menyebutkan bahwa narsisme, dalam kadar tertentu, memiliki fungsi adaptif. Ia membantu seseorang membangun harga diri, menjaga batas personal, dan bertahan dalam lingkungan yang kompetitif.
Tanpa sedikit narsisme, seseorang justru bisa kehilangan kepercayaan diri dan arah.
Dalam situasi tertentu misalnya saat berada di bawah tekanan, tuntutan prestasi, atau konflik relasi seseorang juga bisa tampak lebih berpusat pada diri sendiri.
Selama sikap ini tidak menetap dan masih disertai kemampuan untuk refleksi serta empati, narsisme tersebut masih berada dalam batas yang sehat.
Dengan kata lain, memiliki sifat narsistik tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kepribadian.
NPD pola menjadi kaku dan menyakiti
Berbeda dari narsisme yang bersifat cair, NPD adalah kondisi klinis yang ditandai oleh pola perilaku yang menetap dan kaku.
Pola ini tidak muncul sesekali, melainkan terus berulang di berbagai aspek kehidupan dari relasi personal hingga dunia kerja.
Individu dengan NPD umumnya memiliki gambaran diri yang sangat superior, disertai kebutuhan ekstrem untuk dikagumi.
Namun di baliknya, terdapat kesulitan mendalam untuk memahami dan merespons emosi orang lain.
Relasi sering kali dijalani bukan sebagai ruang timbal balik, melainkan sebagai sarana mempertahankan citra diri.
Hal yang perlu digarisbawahi, NPD tidak ditentukan dari satu sikap atau satu konflik.
Diagnosis hanya dapat ditegakkan oleh profesional kesehatan mental melalui penilaian jangka panjang, termasuk sejauh mana pola tersebut mengganggu fungsi hidup dan kesejahteraan psikologis seseorang.



No Comment! Be the first one.