Kuliah di prodi tentang darah Poltekkes BSI, Ghufran Mudzaky bisa langsung kerja
Ghufran Mudzaky alumni D3 Prodi Teknologi Bank Darah Poltekkes BSI bisa mendapatkan pekerjaan sebelum diwisuda pada Sabtu (17/10/2026) di JEC.
Menjelang hari kelulusan, bayang-bayang persaingan dunia kerja kerap menyelimuti mahasiswa. Namun, cerita berbeda datang dari Ghufran Mudzaky.
Table Of Content
Belum sempat memegang ijazah dan mengenakan toga wisuda, mahasiswa D3 Program Studi (Prodi) Teknologi Bank Darah (TBD) Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia (Poltekkes BSI) ini sudah lebih dulu mengamankan posisi di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bogor.
Langkah mulusnya ke dunia kerja terbuka lebar lewat program rekrutmen langsung yang digelar PMI di kampusnya. Ghufran bisa menduduki posisi di PMI Kota Bogor bersama dua teman lainnya, Theo Sinarta Nababan dan Agung Nugroho yang juga berasal dari D3 Prodi TBD.
“Jadi ceritanya itu ada stakeholder dari PMI Kota Bogor yang datang langsung untuk merekrut mahasiswa yang menjelang waktu wisuda,” ungkap Ghufran mengenai proses rekrutmen tersebut kepada Nalacitra usai prosesi wisuda di Jogja Expo Center, Sabtu (17/10/2026).
Ghufran diwisuda bersama dengan 223 mahasiswa Poltekkes BSI lain.
“Itu merupakan salah satu kesempatan yang sangat baik menurut saya. Jadi saya coba untuk ikut dan alhamdulillah langsung diterima oleh PMI Kota Bogor tersebut,” tambahnya.
Bekerja di ranah pelayanan darah tak memberi ruang sedikit pun untuk kesalahan. Ghufran sadar betul akan hal itu.
Selain ilmu medis yang mumpuni, tempaan kedisiplinan dan ketelitian ekstra yang ia dapatkan di bangku kuliah menjadi kunci utama penentu.
Kematangan karakter itulah yang akhirnya mencuri perhatian instansi perekrut, membuktikan bahwa dirinya tak sekadar paham teori, tetapi juga siap terjun ke lapangan.
“Ya tentu, saya diminta untuk mengambil darah puluhan orang dan memang lama-lama terbiasa,” jelas Ghufran yang berasal dari Solok, Sumatera Barat itu.
Prospek luas dan fasilitas laboratorium lengkap
Pilihan Ghufran untuk menekuni Prodi Teknologi Bank Darah didasari oleh potensi karir yang besar serta dukungan fasilitas kampus yang memadai.
Selama masa perkuliahan, mahasiswa TBD dibekali berbagai keahlian praktis yang dibutuhkan di lapangan, mulai dari teknik pengambilan darah yang benar, pemeriksaan golongan darah, uji kompatibilitas (cross match), hingga prosedur pengamanan darah agar aman saat ditransfusikan kepada pasien.
Pengalaman belajar di Poltekkes BSI tak sekadar berkutat di atas kertas atau teori di dalam kelas. Di laboratorium berfasilitas lengkap, Ghufran dan rekan-rekan terbiasa mengasah jam terbang secara langsung, mulai dari melatih kepekaan jemari saat melakukan penusukan donor hingga teliti menguji sampel Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD).
Pengalaman praktis inilah yang diperkuat oleh regulasi pemerintah, membuat peluang karir di bidang ini makin terbuka lebar.
“Dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tahun 2014 nomor 83 tentang unit transfusi darah dan Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) menyatakan untuk setiap rumah sakit itu harus mempunyai BDRS,” jelas Ghufran.
“Jadi untuk peluang kerjanya itu lebih banyak atau lebih besar pada pelayanan darah tersebut. Menurut saya, prodi ini perlu dipertimbangkan bagi adik-adik SMA yang mau masuk ke dalam bidang kesehatan,” tuturnya.
Dukungan keluarga dan keputusan tepat orang tua
Keberhasilan Ghufran langsung mendapatkan pekerjaan tak lepas dari dorongan sang ibu, Wismayeni.
Yeni, begitu ia kerap disapa, yang memiliki latar belakang pekerjaan di bidang kesehatan, sejak awal telah melihat peluang besar dari prodi ini. Ia merekomendasikan Ghufran untuk berkuliah di Poltekkes BSI karena jumlah perguruan tinggi yang menyelenggarakan Prodi Teknologi Bank Darah di Indonesia masih sangat terbatas.
“Yang mencetuskannya saya sendiri. Saya ini kan background-nya juga orang kesehatan. Jadi, Prodi TBD ini baru dan langka, lalu lapangan pekerjaannya masih banyak dan masih besar peluangnya untuk beberapa tahun ke depan,” papar Yeni.
Pilihan ini terbukti meyakinkan bagi keluarganya, bahkan kini dua adik Ghufran turut menempuh pendidikan di kampus dan program studi yang sama di Poltekkes BSI.
Meski harus merantau ke Jawa Barat untuk memulai karirnya di PMI Kota Bogor, keluarga memberikan restu penuh.
Yeni mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian sang anak yang diraih melalui perjuangan keras, doa, serta bimbingan dari para dosen dan pihak yayasan.
Kebutuhan nasional yang tinggi

Di tengah sengitnya pasar kerja, para mahasiswa Poltekkes BSI justru kerap ‘diintai’ oleh instansi kesehatan sejak masih berada di bangku kuliah. Fenomena ini diakui langsung oleh Wakil Direktur I Poltekkes BSI, apt. Artha Woro Utami, S.Farm., M.Sc.
Menurutnya, ketimpangan antara tingginya permintaan fasilitas kesehatan dan terbatasnya kampus, khususnya penghasil teknisi pelayanan darah di Tanah Air menjadi alasan utama mengapa lulusan prodi ini begitu diburu.
“Memang kebutuhannya sampai saat ini masih cukup tinggi ya, karena produksi teknisi pelayanan darah itu masih cukup sedikit. Tidak semua kampus, hanya beberapa kampus terutama di Jawa yang baru bisa menghasilkan teknisi pelayanan darah. Sementara demand-nya masih cukup tinggi secara nasional, baik di PMI maupun di rumah sakit yang mulai wajib membuka bank darah,” jelas Artha.
Untuk merespons kebutuhan industri tersebut, Poltekkes BSI secara rutin menggelar campus recruitment bekerja sama dengan berbagai stakeholder.
Selain memfasilitasi perekrutan langsung, pihak kampus terus memperkuat kompetensi soft skill mahasiswa serta memperbarui sarana prasarana. Laboratorium Teknologi Bank Darah di Poltekkes BSI telah dilengkapi dengan peralatan medis canggih mutakhir, seperti alat Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (Elisa) dan Laminary Air Flow (LAF) hasil hibah, guna memastikan seluruh mahasiswa siap pakai dan berdaya saing tinggi saat memasuki dunia kerja.
“Kami juga mohon doa restu karena Poltekkes BSI akan membuka Prodi D4 Manajemen Informasi Kesehatan,” tutup Artha.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan Poltekkes BSI untuk mengenalkan ragam prodi di dunia kesehatan.



No Comment! Be the first one.