Tidak hanya asal kokoh, ini prinsip keamanan bangunan modern
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) memberikan edukasi dan pelatihan untuk siswa mengenai desain bangunan yang aman.
Bangunan yang aman tidak sekadar berdiri tegak dan tidak roboh, tetapi harus memenuhi empat aspek utama, keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.
Table Of Content
Sayangnya, praktik pembangunan tanpa perhitungan teknis (non-engineering) masih marak terjadi dan kerap mengabaikan standar keselamatan mendasar tersebut.
Untuk itu, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) memberikan edukasi dan pelatihan mengenai desain bangunan yang aman serta pentingnya memenuhi aspek keselamatan dalam konstruksi.
Kegiatan bertajuk “Edukasi dan Pelatihan Desain Bangunan yang Aman dan Memenuhi Aspek Keselamatan dalam Upaya Mitigasi Praktik Konstruksi Non-Engineering” tersebut dilaksanakan pada Sabtu, (3/10/2026) di UINSA Kampus II, Gunung Anyar, Surabaya.
Peserta kegiatan ini melibatkan siswa dari SMK jurusan bangunan diantaranya SMKN 2, SMKN 3, SMKN 5, dan SMKN 7 Surabaya serta mahasiswa dan dosen Teknik Sipil UIN Sunan Ampel.
Kegiatan yang diketuai oleh Noverma, M.Eng. ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep desain bangunan yang aman, risiko praktik konstruksi non-engineering, pengenalan elemen struktur bangunan, serta pendampingan dalam desain struktur bangunan.
Kegiatan diawali dengan pretest untuk mengetahui pemahaman awal peserta. Setelah itu, peserta mengikuti beberapa sesi materi yang dikemas secara interaktif melalui pemaparan, diskusi, tugas terstruktur, tanya jawab, hingga simulasi menggunakan software.
Pekerjaan konstruksi bukan satu-satunya dasar keputusan teknis
Materi pertama disampaikan oleh Ir. Oktavi Elok Hapsari, M.T. dengan judul “Praktik Non-Engineering dan Keandalan Bangunan”.
Pada sesi ini, peserta diajak memahami bahwa pengalaman dalam pekerjaan konstruksi tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan teknis.
“Praktik non-engineering dapat muncul ketika perencanaan, pelaksanaan, maupun keputusan teknis bangunan dilakukan tanpa kompetensi, kewenangan, atau pengawasan profesional yang sesuai dengan tingkat risikonya,” kata dia.
Para siswa turut diajak melihat bahwa bangunan yang aman bukan hanya bangunan yang tidak roboh. Keandalan bangunan juga berkaitan dengan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.
Pemahaman tersebut kemudian diterapkan melalui tugas kelompok. Peserta diberikan beberapa contoh denah bangunan untuk dianalisis.
Mereka diminta menemukan berbagai permasalahan, seperti akses masuk yang sempit, ventilasi yang kurang, posisi tangga yang tidak jelas, akses evakuasi, hingga pemanfaatan lahan yang terlalu penuh oleh bangunan.
Memahami rancang bangunan yang baik
Materi kedua disampaikan oleh Noverma, M.T. dengan judul “Prinsip Desain Struktur banguan”.
Pada sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana sebuah bangunan dirancang agar mampu menerima dan menyalurkan berbagai beban dengan baik.
Pembahasan mencakup elemen struktur seperti pelat, balok, kolom, pondasi, hingga tanah, serta pentingnya perencanaan berdasarkan standar yang berlaku.
“Kami membahas apakah bangunan yang aman selalu identik dengan balok atau kolom yang berukuran besar. Biar peserta memahami bahwa ukuran elemen struktur tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan perkiraan, tetapi membutuhkan analisis dan perhitungan yang sesuai dengan kebutuhan bangunan,” jelasnya.
Pembahasan kemudian masuk pada prinsip Strong Column Weak Beam (SCWB).
Peserta diberikan pemahaman bahwa bangunan tidak dirancang sekadar agar tidak mengalami kerusakan, tetapi juga agar kerusakan yang terjadi dapat berlangsung secara terkendali dan tidak menyebabkan keruntuhan secara tiba-tiba.
Selain penyampaian materi, sesi ini juga diisi dengan tanya jawab. Peserta aktif menanyakan berbagai hal, mulai dari ciri-ciri bangunan yang aman, kesalahan yang harus dihindari dalam pembangunan, hingga bagaimana menyikapi pekerjaan konstruksi yang tidak sesuai dengan perencanaan.
Berkenalan dengan software ETABS
Setelah mendapatkan pemahaman mengenai praktik konstruksi dan keamanan bangunan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi ketiga, yaitu “Pengenalan Software dalam Desain Struktur Bangunan” yang disampaikan oleh M. Fadhel Maulana.
Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan ETABS sebagai software yang digunakan untuk membantu melihat dan memahami perilaku struktur bangunan.
Peserta mendapatkan gambaran mengenai kondisi bangunan aman dan tidak aman melalui simulasi struktur.
Pengenalan software ini menjadi bagian dari pendampingan agar peserta dapat menghubungkan konsep yang telah dipelajari sebelumnya dengan pemodelan struktur.
Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi dilanjutkan dengan pengenalan teknologi yang digunakan dalam analisis struktur.
Nilai post-test meningkat
Setelah seluruh materi dan simulasi selesai, peserta kembali mengerjakan post-test untuk mengetahui perubahan pemahaman setelah mengikuti kegiatan.
Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai pretest sebesar 69,33 poin, sedangkan rata-rata nilai posttest mencapai 92,09 poin. Artinya, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 22,76 poin setelah peserta mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan, pembagian sertifikat, serta foto bersama.
“Melalui kegiatan tersebut, UINSA berupaya memberikan pemahaman kepada siswa SMK bahwa keamanan bangunan tidak hanya ditentukan oleh kuat atau besarnya suatu elemen struktur,” tutup Noverma.
Perencanaan yang tepat, pemahaman terhadap keandalan bangunan, penggunaan material sesuai desain, penerapan standar, serta pemanfaatan teknologi dalam analisis struktur menjadi bagian penting dalam mewujudkan bangunan yang aman dan dapat diandalkan.



No Comment! Be the first one.