Bagaimana proses ‘slow cooking’ menjaga otensitas kuah ramen?
Haraku Ramen membawa tradisi ekstraksi sari kolagen ayam 8 jam ke Jogja, menghadirkan kuah gurih yang otentik, adaptif dengan selera lokal, dan terjamin kualitasnya.
Di tengah gempuran tren kuliner modern yang menuntut segalanya disajikan secara serba cepat, produk ramen justru tetap mempertahankan tradisi lama yang membutuhkan kesabaran tinggi.
Table Of Content
Salah satu gerai ramen yang baru saja buka di Pakuwon Mall Yogyakarta, Haraku Ramen, mengunggulkan kekuatan utama dari semangkuk mi Jepang itu.
Kekuatan sebenarnya tidak terletak pada mi atau hiasan topping-nya, melainkan pada keutuhan rasa kuah yang disajikan.
Di tengah ketatnya persaingan antar-tenan food and beverage yang saling berdekatan, konsistensi rasa kuah menjadi benteng utama untuk menjaga otentisitas sekaligus memikat hati para pencinta kuliner.
Rahasia ekstraksi kolagen ayam delapan jam
Otensitas kuah ramen sangat bergantung pada bagaimana saripati bahan dasar diekstraksi secara sempurna.
I Dewa Gede Ari selaku Cluster Brand Marketing Manager Ismaya Group, yang menaungi brand Haraku Ramen, menjelaskan bahwa fokus utama dalam menciptakan produk berkualitas ada pada proses pengolahan kuahnya.
“Untuk menghasilkan tekstur yang kental dan gurih alami tanpa bergantung pada bahan instan, kuah ramen diolah menggunakan sari kolagen ayam asli yang dimasak secara perlahan selama delapan jam penuh,” katanya, Senin (3/8/2026).
Proses slow cooking dalam durasi waktu tersebut memungkinkan seluruh nutrisi, lemak baik, dan rasa gurih alami dari tulang serta daging ayam keluar secara maksimal, sehingga menghasilkan konsistensi kuah yang rich, lembut, dan melekat sempurna saat diseruput bersama mi.
Adaptasi variasi rasa tanpa menghilangkan karakter
Meskipun mempertahankan teknik slow cooking yang otentik dari tradisi Jepang, pengembangan variasi rasa tetap disesuaikan dengan dinamika lidah masyarakat Indonesia.
“Basis kuah kolagen yang dimasak lama tersebut menjadi fondasi utama untuk berbagai inovasi menu, mulai dari varian klasik yang cocok sebagai pintu masuk bagi pengunjung awam, hingga varian pedas seperti Bara Ramen yang memadukan rasa gurih-creamy dengan sensasi pedas membara,” paparnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa otensitas teknik memasak dapat berjalan beriringan dengan riset pasar berbasis keinginan konsumen, di mana rasa pedas yang dihadirkan tidak menutup gurihnya sari kolagen ayam, melainkan melengkapinya dari gigitan pertama hingga akhir.
Jaminan kualitas dan standar keamanan pangan
Proses perebusan yang memakan waktu panjang ini juga berkaitan erat dengan standar kebersihan dan pemilihan bahan baku yang ketat.
Penggunaan sari kolagen ayam asli yang diproses secara bertahap menuntut pengawasan mutu yang tinggi dari awal hingga disajikan di meja pelanggan.
Aspek ini sejalan dengan komitmen penerapan sertifikasi halal, di mana setiap tahapan mulai dari pengadaan bahan dasar, proses memasak yang memakan waktu berjam-jam, hingga penyajikan akhir harus memenuhi standar kelayakan dan kebersihan tertinggi.
Dengan menjaga ketelitian dalam proses produksi, sajian ramen tidak hanya menawarkan kelezatan otentik yang menenangkan hati, tetapi juga memberikan kepastian kualitas serta rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat yang menikmatinya.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan Haruku Ramen.



No Comment! Be the first one.