Fenomena ‘downgrading’, respons masyarakat terhadap ketidakpastian ekonomi
Pertanyaan "In this economy, barang apa saja yang sudah kalian downgrade?" itu merupakan fenomena downgrading. Ini penjelasannya.
Di media sosial, ada pertanyaan: “In this economy, barang apa saja yang sudah kalian downgrade?”.
Table Of Content
Jawabannya pun bermacam-macam. Ada yang sudah downgrade ke produk lokal, yang biasanya pakai produk impor, ada juga yang telah mengurangi jatah makan agar bisa berhemat setiap hari.
Ini disebut fenomena downgrading atau perubahan pilihan konsumsi ke barang dan layanan yang lebih murah. Hal itu tersebut dapat dilihat dari perubahan gaya hidup, pengurangan angka konsumsi, hingga penyesuaian kepemilikan aset karena pendapatan yang relatif stagnan dan kebutuhan yang terus meningkat.
Apa penyebabnya?
Penyebab dari fenomena downgrading itu adalah ketidakpastian ekonomi yang terjadi belakangan ini. Masyarakat merasa perlu melakukan perubahan pola konsumsi, yakni mulai dari mengganti kendaraan dengan alternatif yang lebih murah, beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau, hingga mengurangi frekuensi makan dan rekreasi di luar rumah.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho Ph.D., menilai downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, dan bukan pilihan gaya hidup semata.
Menurutnya, rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel atau tersier ketika pendapatan mengalami tekanan atau ketidakpastian.
“Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup,” ujar Wisnu, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dalam teori ekonomi lebih dikenal sebagai consumption smoothing, yakni upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengorbankan konsumsi yang lebih fleksibel.
Masyarakat melakukan penyesuaian bukan karena sedang ingin berhemat, tetapi karena ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran kian terbatas.
Alarm bahaya bagi pemerintah
Wisnu menjelaskan, persoalan utama bukan terletak pada praktik downgrading, melainkan pada skala dan kelompok masyarakat yang melakukannya.
Dikatakannya, apabila hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, penyesuaian tersebut masih dapat dipandang sebagai hal yang bersifat sementara.
“Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” jelasnya.
Wisnu menambahkan, downgrading menjadi tanda tekanan ekonomi ketika rumah tangga usia produktif harus menurunkan kualitas konsumsi karena keterbatasan anggaran.
Idealnya, penyesuaian konsumsi dapat terjadi secara wajar ketika kebutuhan rumah tangga berubah, contohnya ketika anak telah mandiri atau seseorang memasuki masa pensiun.
“Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ, downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran,” jelasnya.
Dua faktor penyebab downgrading
Wisnu melihat adanya dua faktor yang saling memperkuat terjadinya downgrading.
Pertama, pendapatan riil yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi. Kondisi tersebut, sambungnya, membuat kemampuan belanja riil rumah tangga menyusut meskipun pendapatan nominal tidak mengalami perubahan.
Kedua, adanya ekspektasi ekonomi yang menurun. Masyarakat saat ini tengah menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan yang berkurang, tetapi juga karena muncul kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang, termasuk keamanan pekerjaan.
Akibatnya, pola belanja yang sebelumnya bersifat rutin berubah menjadi lebih menahan.
“Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas. Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu,” ungkapnya.
Wisnu mengingatkan, tekanan daya beli yang berlangsung lama dapat berdampak pada perekonomian secara lebih luas. Ketika masyarakat menahan konsumsi, aktivitas perdagangan dan jasa ikut melambat sehingga pelaku usaha dapat menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.
Apalagi, ketika masyarakat mulai menggunakan utang jangka pendek atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup,” tutupnya.



No Comment! Be the first one.