Keroncong Gadis Gendhis hadirkan warna baru musik tradisional untuk generasi muda
Keroncong Gadis Gendhis membawa nafas baru bagi dunia musik Indonesia. Mereka mengaransemen ulang lagu pop ke dalam bentuk keroncong agar bisa didengar anak muda.
Musik keroncong yang identik dengan nuansa nostalgia kini tampil lebih segar lewat kelompok musik Keroncong Gadis Gendhis, grup beranggotakan delapan mahasiswi Jurusan Musik ISI Yogyakarta.
Table Of Content
Mereka menghadirkan aransemen keroncong modern dengan sentuhan pop yang ramah bagi generasi muda.
Grup ini memadukan vokal lembut Callista dengan permainan flute Cantik serta instrumen keroncong lainnya menjadi sajian musik yang ringan dan menyenangkan.
Kehadiran grup Keroncong Gadis Gendhis menjadi bukti bahwa musik tradisional Indonesia masih relevan di tengah perkembangan zaman.
“Kami ingin punya ruang untuk bermain musik bersama dan mengeksplorasi keroncong dengan cara yang lebih santai,” ujar Lilo Liris Lituhayu, salah satu penggagas sekaligus pemain keyboard Keroncong Gadis Gendhis.
Berawal dari kejenuhan belajar musik klasik
Terbentuknya Keroncong Gadis Gendhis bermula dari rasa jenuh sejumlah anggota terhadap musik klasik yang selama ini mereka pelajari. Liris bersama Desi, pemain cuk, kemudian berinisiatif membentuk kelompok musik keroncong sebagai wadah eksplorasi musikal baru.
Mereka mengajak rekan-rekan sesama mahasiswa untuk belajar keroncong bersama hingga akhirnya terbentuk formasi delapan personel, yakni Callista (vokal), Liris (keyboard), Jenet (bass), Swara (cello), Desi (cuk), Rara (cak), Oyen (violin), dan Cantik (flute).
Nama Gadis Gendhis sendiri dipilih melalui diskusi bersama para anggota. Kata ‘Gendhis’ berasal dari bahasa Jawa yang berarti manis, sedangkan penambahan kata ‘Gadis’ menegaskan identitas mereka sebagai kelompok musik perempuan.
Membawa keroncong populer di kalangan anak muda
Keroncong Gadis Gendhis tidak hanya membawakan lagu keroncong klasik, tetapi juga mengaransemen ulang lagu pop serta karya legendaris Waldjinah agar lebih mudah diterima pendengar muda.
Masuknya Swara sebagai pemain cello sekaligus arranger menjadi salah satu titik perkembangan musikal grup ini. Aransemen musik mereka menjadi lebih tertata dan dinamis sejak Swara bergabung.
Selain aransemen musik, Gadis Gendhis juga memiliki ciri khas penampilan melalui permainan “Singkup”, yaitu gerakan lucu yang dilakukan di tengah lagu untuk menambah interaksi dengan penonton.
Bentuk kolaborasi dan karya orisinal
Dalam proses kreatifnya, Keroncong Gadis Gendhis juga berkolaborasi dengan Yordan sebagai arranger tambahan serta adik Callista sebagai penulis lirik.
Kolaborasi tersebut melahirkan karya orisinal berjudul Intro Gendhis dan Single Gendhis yang telah beberapa kali dibawakan dalam berbagai penampilan meski belum dirilis secara resmi.
Menurut Liris, proses penciptaan lagu orisinal tersebut menjadi pengalaman penting bagi perjalanan musikal mereka.
“Single Gendhis justru muncul secara spontan saat kami tampil di Pameran Sowan Studio Kalahan. Itu menjadi tantangan sekaligus pengalaman yang sangat berkesan,” ungkapnya.
Pengalaman panggung yang bentuk karakter grup
Setiap personel memiliki pengalaman panggung yang berkesan selama perjalanan Keroncong Gadis Gendhis. Callista misalnya, mengingat penampilan perdana mereka di acara Weekend Market Hyatt sebagai awal perjalanan grup tersebut di tahun 2025.
Sementara Desi, Rara, dan Cantik mengaku penampilan di acara Keroncong Pesisiran menjadi momen penting karena merupakan panggung besar pertama mereka bersama penyanyi Fanny Soegi pada tahun 2025.
Penampilan tersebut juga bertepatan dengan perayaan ulang tahun Cantik.
Manfaatkan media Sosial untuk promosi musik keroncong
Di era digital, Keroncong Gadis Gendhis memanfaatkan media sosial sebagai sarana utama untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas.
Platform digital dinilai efektif untuk menjangkau pendengar baru sekaligus membuka peluang ekonomi bagi musisi muda.
“Sekarang musisi harus memaksimalkan platform digital karena peluang berkarya dan mendapatkan penghasilan juga ada di sana,” kata Liris.
Keroncong sebagai ruang ekspresi perempuan muda
Kehadiran Keroncong Gadis Gendhis menunjukkan bahwa musik tradisional dapat berkembang menjadi ruang ekspresi yang inklusif, khususnya bagi perempuan muda.
Mereka membuktikan bahwa keroncong dapat dikemas lebih modern tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Dengan semangat eksplorasi dan kreativitas, Keroncong Gadis Gendhis berharap dapat terus memperkenalkan musik keroncong kepada generasi muda dan membawa warna baru bagi perkembangan musik tradisional Indonesia.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Cahya Maharani Retnaningrum.



Trimakasih saya jdi lebih mengetahui tentang musik kroncong