DtMF, sebuah lagu yang mengingatkan kita tentang kehilangan
DtMF membuktikan lirik yang kuat tidak selalu rumit. Mungkin satu kalimat sudah dapat menggambarkan perasaan, membuka luka, kenangan, dan kesadaran yang selama ini tersembunyi
Pernahkah kita tiba-tiba menyesal karena merasa kurang hadir di momen yang kini hanya tinggal kenangan? Perasaan ‘seandainya dulu…’ sering datang terlambat, ketika orang, tempat, atau waktu itu sudah berubah.
Perasaan inilah yang menjadi inti lagu DeBí TiRAR MáS FOToS milik Bad Bunny yang dirilis dalam album DtMF tahun 2025.
Lewat lagu ini, penyanyi asal Puerto Rico itu tidak sedang berbicara tentang kurangnya dokumentasi secara harafiah. Dalam video musik lagu tersebut, momen pembuka adalah seorang pria tua menyesali masa lalunya karena tidak cukup mengabadikan momen.
Dalam perjalanan membeli roti ke restoran langganan, ia menyadari, lingkungannya telah berubah, bahasa Inggris terdengar lebih dominan, turis berdatangan, dan ruang yang dulu akrab, kini terasa asing.
Adegan ini menjadi metafora tentang kehilangan, bukan hanya kehilangan orang, tetapi juga kehilangan rasa memiliki terhadap ruang hidup.
Bad Bunny atau yang bernama asli Benito Antonio Martínez Ocasio itu bernyanyi dalam bahasa Spanyol, tapi itu tidak memberikan batas bagi mereka yang tidak memahami bahasa tersebut.
Lirik ‘debí tirar más foto de cuando te tuve, debí darte más besos ya abrazos la veces que pude’ memiliki arti yang cukup dalam, yakni ‘seharusnya aku mengambil lebih banyak foto saat aku memilikimu, seharusnya aku memberimu lebih banyak ciuman dan pelukan saat aku sempat’.
Lagu ini terasa dekat dengan pendengar karena liriknya yang sederhana namun emosional membuat setiap orang yang mendengar lagu ini hanyut dalamnya.
Bad Bunny mengajak pendengar untuk mengaitkan diri sendiri dengan lagu ini, entah soal kehilangan orang tua, masa muda, atau bahkan kampung halaman.
DtMF juga diibaratkan sebagai kritik terhadap gaya hidup manusia modern dimana di era kamera selalu ada di genggaman, tapi tiada dokumentasi yang bermakna.
Bukan sekedar jumlah foto, namun kesadaran terhadap kehadiran untuk sepenuhnya hadir dalam momen. Lagu ini seolah menjadi tamparan untuk kita yang terlalu sibuk denganhidup sehingga sering mengabaikan momen-momen kecil yang kelak akan menjadi sesuatu yang dirindukan.
Setelah viralnya lagu ini, banyak yang mulai mengabadikan foto orang terkasih mereka dengan menggunakan lagu ini dan diunggah ke media sosial. Warganet
Hal paling menyakitkan dari lagu ini adalah fakta bahwa kebanyakan orang baru akan menghargai seseorang, setelah mereka pergi atau tiada. Lagu ini seolah memberi jeda kepada pendengar untuk berhenti sejenak, menoleh ke sekitar, dan mungkin lebih menghargai momen terkini sebelum berubah menjadi kenangan.
DtMF membuktikan lirik yang kuat tidak selalu rumit. Mungkin satu kalimat sudah dapat menggambarkan perasaan, membuka luka, kenangan, dan kesadaran yang selama ini tersembunyi.
Lagu ini terasa lebih seperti pesan hidup daripada hanya sekadar hiburan. Sebuah pengingat bahwa hidup itu rapuh dan momen bersama orang yang kita cintai lebih berharga dari yang kita sadari.
Artikel opini ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Bunga Era Efrina.



No Comment! Be the first one.