6 Fakta harga emas terus naik, apa yang terjadi dengan ekonomi global?
Harga emas melonjak akibat faktor global, menjadi peringatan ketidakstabilan ekonomi dunia. Apa yang sebenarnya terjadi?
Harga emas dunia terus menunjukkan tren penguatan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Data Antam per 28 Januari 2026 mencatat harga emas mencapai Rp2,968 juta per gram. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan permintaan investor terhadap emas sebagai aset aman (safe haven).
Table Of Content
Bahkan pada Kamis (29/1/2026), harga emas Antam tercatat mengalami kenaikan harian sebesar Rp165.000. Lonjakan tersebut dinilai bukan sekadar fenomena pasar, melainkan mencerminkan kondisi ekonomi global yang tengah berada dalam fase tidak stabil.
Faktor global kenaikan harga emas
Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Salah satunya adalah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve yang berdampak pada melemahnya nilai Dolar AS.
“Pasar memperkirakan penurunan suku bunga AS, yang melemahkan Dolar dan sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven,” ujar Wisnu, Jumat (30/1/2026).
Selain faktor moneter, ketidakpastian geopolitik global turut menjadi pendorong utama. Ketegangan militer, konflik antarnegara, hingga sanksi ekonomi membuat emas dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik.
Peran bank sentral dan investor institusi
Wisnu juga menyoroti meningkatnya permintaan emas dari bank sentral dan investor institusi.
Bank-bank sentral di negara berkembang tercatat aktif menambah cadangan emas. Di sisi lain, investor institusional semakin agresif membeli emas melalui Exchange Traded Fund (ETF).
“Inflasi dan ketidakpastian pasar saham membuat emas menjadi pilihan utama sebagai pelindung nilai jangka panjang,” jelasnya.
Selama kondisi ekonomi dan politik global belum menunjukkan stabilitas, tren kenaikan harga emas diperkirakan masih berlanjut.
Namun, Wisnu mengingatkan bahwa penguatan dolar AS atau kenaikan suku bunga secara signifikan berpotensi menekan harga emas ke depan.
Emas sebagai instrumen investasi dan respons pasar
Menurut Wisnu, ada sejumlah alasan mengapa masyarakat memilih emas sebagai instrumen investasi. Di antaranya adalah stabilitas nilai, fungsi lindung inflasi, likuiditas tinggi, serta perannya sebagai aset safe haven. Emas fisik juga dinilai tidak memiliki risiko pihak ketiga, berbeda dengan obligasi atau aset digital.
Secara historis, harga emas cenderung stabil dan meningkat dalam jangka panjang karena relatif terlindungi dari inflasi, deflasi, dan krisis ekonomi.
Namun dalam jangka pendek, pergerakan harga emas tetap dapat berfluktuasi mengikuti kebijakan suku bunga dan nilai mata uang utama dunia seperti dolar AS, euro, dan pound sterling.
Early warning ekonomi global tak stabil
Pandangan serupa disampaikan dosen Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ayif Fathurrahman.
Ia menilai lonjakan harga emas saat ini merupakan early warning system bahwa ekonomi global sedang menghadapi ketidakpastian serius.
Ayif menjelaskan bahwa kenaikan harga emas berkorelasi dengan melemahnya kepercayaan terhadap instrumen keuangan konvensional, khususnya bunga dan mata uang global.
“Selama ini orang lebih memilih bunga. Tapi hari ini bunga global fluktuatif dan cenderung rendah karena ekonomi Amerika Serikat juga tidak sedang baik-baik saja. Ketika bunga tak lagi menarik, orang mencari aset paling aman, dan emas selalu menjadi pilihan,” ujarnya.
Tiga pemicu utama lonjakan permintaan emas
Ayif menyebutkan tiga faktor utama yang mendorong meningkatnya permintaan emas saat ini. Pertama, ketidakpastian ekonomi global pasca-pandemi COVID-19 yang diperparah oleh konflik geopolitik seperti perang Rusia–Ukraina, konflik Israel–Palestina, serta meningkatnya ketegangan antarnegara besar.
Faktor kedua adalah tekanan inflasi dan penurunan daya beli masyarakat, yang membuat menyimpan dana di perbankan tidak lagi cukup melindungi nilai kekayaan. Faktor ketiga adalah kekhawatiran terhadap dominasi dolar AS sebagai mata uang global di tengah konflik geopolitik internasional.
“Ketika dunia takut pada dolar, yuan, atau mata uang lain karena konflik geopolitik, maka emas menjadi rasionalitas ekonomi yang paling logis,” ungkap Ayif.
Dampak makroekonomi dan tantangan kebijakan
Meski menjadi aset aman, Ayif mengingatkan bahwa lonjakan harga emas juga memiliki implikasi makroekonomi.
Jika terlalu banyak dana masyarakat terserap ke emas, perputaran uang di sektor riil berpotensi melambat, yang dapat berdampak pada peningkatan pengangguran dan kemiskinan.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga emas mencerminkan persoalan ekonomi yang lebih mendasar. Pemerintah, menurutnya, perlu berfokus pada pengendalian inflasi dan pengurangan ketergantungan impor.
“Masalahnya bukan emasnya yang naik. Justru emas naik karena ekonomi sedang bermasalah,” tegasnya.
Ayif menekankan pentingnya intervensi strategis pemerintah, khususnya dalam memperkuat swasembada pangan dan energi, agar ekonomi nasional lebih tahan terhadap guncangan geopolitik global.



No Comment! Be the first one.