Sebenarnya, dimana Warmindo Mie Nyemek Bu Siti Yogyakarta?
Singkat saja, tanpa bertele-tele, warmindo satu ini berada di Jalan Sisingamangaraja No. 36, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta
Sempat bikin orang berhenti saat scroll media sosial, beberapa bahkan nyaris lari ke warung, ketika beredar kabar ada varian Indomie baru bernama Mie Nyemek Bu Siti.
Table Of Content
Bagi warga Yogyakarta, namanya familiar, rasanya kebayang, dan langsung memicu reaksi kolektif: “Lho, ini serius?”
Rasa itu memang lahir dari satu warung makan Indomie (Warmindo) Mie Nyemek Bu Siti yang ada di Kota Yogyakarta. Nama warung legendaris itu sudah lebih beredar dari mulut ke mulut.
Bukan lewat iklan besar-besaran, tapi melalui obrolan malam, rekomendasi setengah berbisik, dan rasa penasaran yang terus menular.
Sebenarnya, dimana Warmindo Mie Nyemek Bu Siti?

Singkat saja, tanpa bertele-tele, warmindo satu ini berada di Jalan Sisingamangaraja No. 36, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta. Bukanya dari jam 15:00 sampai jam 03:00 WIB.
Makan di Warmindo Mie Nyemek Bu Siti ini butuh satu bekal utama, yaitu sabar. Bukan karena pelayanannya lama, tapi karena setiap mie itu dimasak satu per satu, menggunakan tungku dengan arang, dan ritme yang tidak bisa dipercepat meski antrean mengular.
Saat memesan, kamu bisa memilih. Mau level pedas berapa? Mau dimasak rebus, kering, atau nyemek?
Mie rebus akan datang dengan kuah yang hangat dan ringan, mie kering tanpa kuah dan tetap berbumbu, sementara mie nyemek, favorit banyak orang, hadir dengan kuah tipis yang membuat masakan jadi lebih kental.
Soal rasa, Bu Siti menambahkan bumbu andalan yang justru menguatkan lezatnya bumbu asli dari bungkus Indomie.
Berjualan sejak tahun 2000
Di balik ramainya warmindo, ada cerita yang berjalan jauh lebih panjang dari antreannya.
Usaha itu bermula sejak tahun 2000, dirintis bukan oleh Siti Artani, sang pemilik terkini, melainkan oleh kakak iparnya, Siti Fatimah, seperti yang Artani ceritakan di akun Instagram @indomie.
Warung pun dinamai Mie Nyemek Bu Siti dan pelan-pelan mulai dikenal pelanggan setianya.
Dari situlah racikan mie nyemek ini menemukan penggemarnya sendiri dan menjadi legenda bagi warga Jogja.
Tahun 2014 menjadi titik yang berat. Siti Fatimah meninggal dunia dan bersama kepergiannya, ada risiko bahwa warung kecil ini ikut berhenti.
Di momen itu, cerita berlanjut. Siti Artani, yang selama ini ada di lingkaran usaha tersebut, memilih untuk meneruskannya, bukan sekadar menjaga nama, tapi juga rasa.
Sejak saat itu, warmindo ini berjalan di bawah tangan Siti Artani. Resepnya dijaga, cara memasaknya tetap sama, dan ritme berjualannya tidak berubah, yakni pelan, konsisten, dan setia pada cara lama.
Mungkin itu yang membuat Mie Nyemek Bu Siti bertahan di tengah gempuran variasi mie kekinian di Yogyakarta. Tren boleh datang dan pergi, tapi rasa yang terjaga terus diwariskan, diteruskan, mangkuk demi mangkuk.
Harga berpijak pada bumi
Soal harga, Warmindo Mie Nyemek Bu Siti tetap berpijak pada bumi.
Seporsi mie di sini dibanderol mulai dari Rp13 ribu hingga Rp20 ribu, tergantung varian dan pilihan olahannya. Tidak ada lonjakan harga karena embel-embel viral.
Dengan rentang harga itu, wajar kalau warung terus terisi. Mahasiswa, pekerja malam, sampai pemengaruh yang sengaja datang karena penasaran, duduk sejajar menunggu mangkuknya masing-masing.



No Comment! Be the first one.