Geunira, rumah 6×6 meter yang hidupkan kembali martabat warga Aceh
Rumah Geunira, hasil kolaborasi tim lintas ilmu UGM dan Rumah Zakat, menjadi salah satu hunian sementara dibangun untuk masyarakat korban bencana di Aceh Utara
Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh dan Sumatra di akhir tahun 2025 tak hanya menyisakan genangan, tetapi juga tanda tanya, kemana warga akan pulang setelah semuanya hilang?
Table Of Content
Di tengah kabar duka dan data statistik kerusakan, Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih turun tangan dengan satu prinsip sederhana, yakni pemulihan harus menyentuh martabat manusia.
Salah satu langkah nyata yaitu hadir dalam bentuk rumah papan sederhana, berukuran 6×6 meter.
Ukurannya tampak kecil, tapi dalam desainnya terkandung gagasan besar, diantaranya hunian yang cepat dibangun, mudah dipahami, aman dari risiko bencana berulang, dan bisa dirancang serta dibangun sendiri oleh warga.
Namanya ‘Rumah Geunira’

Hunian itu dinamakan Rumah Geunira.
Itu bukanlah produk instan dari perusahaan konstruksi, melainkan hasil kolaborasi tim UGM lintas disiplin dan mitra kemanusiaan seperti Rumah Zakat untuk masyarakat Desa Geudumbak, Aceh Utara,
Tim Ketua UGM, Ashar Saputra menyebut, pendekatan ini dirancang partisipatif.
Warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga pelaku utama pembangunan. Pelatihan keterampilan konstruksi pun disediakan agar penyintas mampu membangun hunian mandiri menggunakan material lokal yang tersedia.
Pelatihan sudah dilakukan sejak 31 Desember 2025, melibatkan tim ahli konstruksi dan kebencanaan dan diikuti 14 warga setempat.
“Rumah papan berukuran 6×6 meter tersebut memungkinkan proses pengerjaan berjalan cepat, efisien, dan aman bagi penyintas,” ujar dia.
Denah Rumah Geunira tidak asal, meski sifatnya hanya sementara. Ashar mengatakan, rumah itu sudah dilengkapi dua kamar, ruang multifungsi, dan teras.
“Denah itu agar dapat menunjang aktivitas keluarga serta interaksi sosial warga,” bebernya.
Tujuh batch pelayanan kesehatan dari UGM
Pada sektor kesehatan, UGM secara berkala mengirim tim medis ke Aceh dan wilayah terdampak lainnya di Sumatra melalui jejaring Academic Health System (AHS) UGM.
“Tim ini melibatkan tenaga kesehatan lintas disiplin dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat,dan Keperawatan, Rumah Sakit Akademik dan jejaring layanan kesehatan akademik UGM,” beber Rektor UGM, Ova Emilia.
Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan kesehatan, pengobatan rawat jalan dan darurat, layanan spesialis, serta kunjungan mobile clinic dan home visit.
Pendekatan berlapis ini dilakukan untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan sejak fase darurat hingga transisi pemulihan.
Berdasarkan data respons AHS UGM hingga 2 Januari 2026, tim telah diturunkan dalam 7 batch pelayanan di Aceh Utara dan Bener Meriah dengan rata-rata 17 tenaga kesehatan per batch.
Nakes layani 4.000 lebih warga terdampak
Selama masa tugas tujuh hari per batch, layanan menjangkau sedikitnya 4.127 warga terdampak dengan cakupan 50 hingga 100 pasien per hari di Aceh Utara dan Bener Meriah.
Petugas memberikan layanan kesehatan di beberapa lokasi diantaranya pos pengungsian, RSUD Muchtar Hasbi, 9 wilayah puskesmas terdampak di Aceh Utara, dan 3 Puskesmas terdampak di Bener Meriah.
Selain layanan klinis, tim AHS UGM juga mendukung penguatan sistem kesehatan
melalui perbaikan sarana penunjang seperti listrik dan genset, sanitasi, serta koordinasi logistik medis dan Emergency Medical Team (EMT).
Pendekatan ini menegaskan peran AHS UGM dalam mengintegrasikan layanan klinis, kesehatan masyarakat, dan penguatan sistem kesehatan pascabencana.
Dukungan psikososial menjadi bagian penting dari respons UGM dalam penanganan dampak bencana.
Melalui tim psikologi dan relawan terlatih, UGM memberikan layanan pendampingan dan trauma healing bagi warga terdampak, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Mahasiswa turut dilibatkan melalui pelatihan khusus agar mampu mendukung pemulihan mental secara bertanggung jawab. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat pascabencana.
Konten ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan UGM untuk mendokumentasikan penanganan bencana berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi warga.



No Comment! Be the first one.