Live shopping makin populer, apa artinya bagi literasi digital?
Meningkatnya popularitas live shopping dan video commerce mencerminkan kemampuan masyarakat dalam melakukan verifikasi nilai secara mandiri.
Fenomena shoppertainment atau belanja sambil menikmati hiburan kini bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan indikator baru bagi tingkat literasi digital masyarakat Indonesia.
Table Of Content
Hal itu bukan hanya mengubah cara masyarakat berbelanja, tetapi juga cara mereka mengakses, menilai, dan memverifikasi informasi produk. Dengan kata lain, meningkatnya popularitas live shopping memberi gambaran baru tentang sejauh mana literasi digital masyarakat berkembang.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa di tengah penetrasi internet yang telah mencapai 80,66% dari total populasi atau sekitar 229 juta jiwa, cara masyarakat berinteraksi dengan platform digital mengalami evolusi yang signifikan.
Data dari Jakpat Consumer & Commerce Outlook 2026 yang dirilis Jumat (19/12/2025) lalu menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap fitur live shopping melonjak hingga 85% pada semester pertama tahun 2025, dengan tingkat partisipasi konsumen yang mencapai 79%.
“Konsumen kini mengharapkan gabungan antara belanja dan hiburan (shoppertainment). Kehadiran video commerce (termasuk live shopping dan video pendek) terus mendominasi ekosistem e-commerce,” ujar Head of Research Jakpat, Aska Primardi.
Bagi dunia pendidikan dan literasi, angka ini menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar statistik transaksi.
Interaksi konsumen di sesi live shopping meningkat
Kepercayaan konsumen untuk berinteraksi dalam ekosistem ini juga meningkat.
Pada semester pertama 2024, sebanyak 74% konsumen mengaku pernah bergabung (ever join) dalam sesi live dan tumbuh menjadi 79% di semester kedua 2025.
Meskipun angka pembelian (purchase) mengalami sedikit fluktuasi dari 46% di paruh awal 2024 menjadi 44% di paruh akhir 2025, dominasi keterlibatan audiens yang konsisten selama setahun terakhir menegaskan bahwa live shopping akan tetap menjadi saluran favorit bagi konsumen untuk mengeksplorasi produk dan membangun koneksi dengan brand di masa depan.
“Awareness live shopping meningkat di paruh pertama 2025, dan diikuti juga oleh peningkatan persen keikutsertaan dalam live shopping,” simpul Aska.
Masyarakat mulai cakap riset dan verifikasi nilai
Meningkatnya popularitas live shopping dan video commerce mencerminkan kemampuan masyarakat dalam melakukan verifikasi nilai secara mandiri.
Konsumen digital saat ini tidak lagi pasif. Mereka menggunakan saluran online sebagai pusat riset mendalam sebelum memutuskan untuk mengeluarkan uang.
Buktinya, perilaku rasional konsumen meningkat tajam. Sebanyak 88% pengguna melakukan perbandingan harga di toko berbeda dalam satu aplikasi, dan 87% secara aktif membandingkan harga antar-aplikasi belanja yang berbeda.
Kemampuan melakukan riset silang tanpa batas, membandingkan harga, membaca ulasan, dan memeriksa keaslian produk dalam waktu singkat, merupakan bentuk dari kecakapan literasi digital yang semakin terasah.
Persepsi ekonomi sulit paksa masyarakat jadi pembelajar
Kondisi ekonomi pada awal 2025 yang diwarnai deflasi akibat lemahnya permintaan turut memaksa masyarakat menjadi pembelajar yang lebih cerdas.
Konsumen menahan diri dalam membeli barang. Pelemahan ini terkait dengan persepsi bahwa kondisi ekonomi sulit, pekerjaan sulit, dan masa depan tidak pasti. Persepsi itu kemudian mendorong orang untuk lebih berhemat, menunda pembelian besar, dan lebih banyak menabung.
Dengan 21 persen kelompok kelas menengah melaporkan pendapatan yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu, konsumen kini lebih mengutamakan nilai menyeluruh dibandingkan sekadar mengejar diskon.
Mereka kini lebih mengandalkan skor kepercayaan yang diperoleh dari ulasan video unboxing, rating, dan rekomendasi komunitas niche daripada iklan massa konvensional.
Literasi digital level baru melalui penggunaan AI etis
Lanskap tahun 2026 diprediksi akan membawa literasi digital ke level baru melalui penggunaan akal imitasi (AI) yang lebih etis dan layanan prediktif.
Masyarakat tidak lagi hanya dituntut tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memvalidasi data dan transparansi brand di tengah fragmentasi saluran yang semakin kompleks,.
Penyatuan pengalaman belanja dan konten edukatif ini menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia sedang bertransformasi dari sekadar kecakapan teknis menjadi kecakapan kritis dalam memilah informasi di ruang siber.



No Comment! Be the first one.