Ketika nada disusun seperti kartu: kisah di balik konser Carta Sonare
Konser Carta Sonare: Deck of Sounds oleh KKM Clavier ISI Yogyakarta tampilkan konsep kartu remi dengan repertoar piano solo dan duet, hasil latihan intensif serta persiapan panjang para musisi muda.
Lampu ruangan meredup saat konser dimulai. Para pemain memasuki panggung secara bergantian dan duduk di depan piano, menampilkan repertoar dalam format solo maupun four hands performance.
Di balik penampilan tersebut, para pemain telah melalui proses persiapan yang panjang, mulai dari latihan intensif hingga penguatan mental menjelang tampil.
Kelompok kegiatan mahasiswa (KKM) Clavier dari Jurusan Musik Institut Senin Indonesia (ISI) Yogyakarta menghadirkan welcome concert untuk angkatan 2025 bertajuk Carta Sonare: Deck of Sounds, Selasa (31/3/2026) di Concert Hall ISI Yogyakarta.
Konser ini mengusung konsep yang terinspirasi dari kartu remi, dengan alur pertunjukan yang menggambarkan permainan kartu yang dikendalikan oleh sosok ‘magician’. Setiap pemain dianalogikan sebagai kartu yang muncul secara bergantian mengikuti alur yang telah disusun.
Ketua pelaksana, Jeunessa Johana Tuaty Waang, menyampaikan bahwa konsep konser telah dirancang sejak awal Desember 2025. Persiapan kemudian dilanjutkan melalui rangkaian studio class yang dimulai pada Januari.
Tema Carta Sonare: Deck of Sounds dipilih sebagai upaya menghadirkan konsep pertunjukan yang berbeda, dengan mengadaptasi elemen kartu remi ke dalam alur musikal.
Dalam prosesnya, panitia menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait fasilitas dan teknis pelaksanaan sebelum konser berlangsung.
Tantangan tersebut mencakup peminjaman ruangan untuk studio class hingga penyediaan sarana dan prasarana, termasuk piano Steinway. Berbagai kendala tersebut diatasi melalui diskusi dan koordinasi antara pengurus inti dan panitia hingga konser dapat terlaksana.
Konsep kartu remi dalam konser ini tidak hanya menjadi tema visual, tetapi juga memengaruhi penyusunan repertoar.
Setiap penampilan merepresentasikan elemen tertentu, seperti simbol hati yang dikaitkan dengan tema perasaan. Seluruh rangkaian pertunjukan disusun mengikuti alur permainan, dengan sosok ‘magician’ sebagai pengendali yang divisualisasikan melalui tampilan videotron.
Karya yang sampaikan cerita
Proses latihan juga menjadi bagian penting dalam persiapan para pemain. Salah satu solois, Nadia Fibriani, mengungkapkan bahwa ia mulai mempelajari Waltz No. 2 karya Dmitri Shostakovich sejak 21 Januari 2026.
Ia kemudian mengikuti studio class pada 30 Januari dan menjalani latihan rutin setiap hari selama sekitar dua jam.
“Latihan dimulai dari fingering, tangga nada, lalu bagian per bagian dengan tempo pelan sebelum ke tempo sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Nadia, tantangan utama tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga menjaga kestabilan tempo serta memahami emosi dalam karya yang dimainkan.
“Kalau membawakan karya, itu seperti menyampaikan cerita. Jadi harus paham latar belakangnya, baru bisa disampaikan ke penonton,” katanya.
Saat tampil di atas panggung, rasa gugup tetap dirasakan. Nadia mengaku sempat merasa khawatir melakukan kesalahan ketika melihat jumlah penonton yang hadir. Namun, ia berusaha menenangkan diri sebelum tampil hingga akhirnya dapat memainkan repertoar dengan lebih percaya diri.
Bangun permainan selaras
Selain penampilan solo, konser ini juga menghadirkan kolaborasi four hands performance. Salah satu pasangan duet, Harmony Aulia Keisha dan Antares Ray Anjelo, menekankan pentingnya komunikasi dalam membangun permainan yang selaras.
“Kuncinya saling mendengarkan,” ujar mereka.
Keduanya menyebut tidak mengalami perbedaan interpretasi yang signifikan selama latihan. Kedekatan personal turut membantu membangun chemistry dalam permainan, meski mereka tetap menjaga profesionalitas selama proses latihan berlangsung.
Dalam penampilan, mereka juga memperhatikan aspek visual seperti gestur, keselarasan rasa, dan kekompakan untuk mendukung penyajian musikal di atas panggung.
Dari sisi penonton, konser ini dinilai menghadirkan variasi penampilan. Salah satu audiens menyoroti penampilan duet Keisha dan Antares yang dinilai selaras, baik dari segi tempo maupun ekspresi.
“Meskipun tidak memahami seluruh aspek teknis, emosinya tetap terasa,” ujar penonton tersebut.
Secara keseluruhan, Carta Sonare: Deck of Sounds menampilkan rangkaian pertunjukan yang disusun dalam konsep permainan kartu dengan alur yang terintegrasi.
Di balik pertunjukan tersebut, terdapat proses persiapan yang melibatkan latihan, koordinasi, serta pengembangan konsep oleh seluruh pihak yang terlibat.
Artikel ini merupakan kolaborasi Nalacitra dengan mahasiswa Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Salsabila.



No Comment! Be the first one.