8,2 Juta orang diprediksi ke Yogyakarta saat Lebaran 2026, wisatawan diminta jaga lingkungan
Lonjakan wisata Lebaran 2026 di Yogyakarta diprediksi capai 8,2 juta perjalanan. Wisatawan diimbau tidak buang sampah demi menjaga lingkungan.
Lonjakan kunjungan wisata diprediksi terjadi selama libur Lebaran Idul Fitri 2026, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu destinasi favorit.
Table Of Content
Tingginya mobilitas wisatawan ini berpotensi mendorong ekonomi daerah, namun juga menimbulkan risiko peningkatan volume sampah di kawasan wisata.
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, sebanyak 8,2 juta orang diperkirakan melakukan perjalanan ke Yogyakarta selama periode libur Idul Fitri 2026.
Angka ini jauh melampaui jumlah penduduk DIY yang hanya sekitar 3,7–3,8 juta jiwa, menandakan tingginya arus wisatawan dan pemudik yang masuk ke wilayah tersebut.
Lonjakan Kunjungan Wisata Lebaran 2026 di Yogyakarta
Dilansir dari laman ugm.ac.id, Peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Destha Titi Raharjana, memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan ke DIY mencapai sekitar 1,46 juta orang.
Kota Yogyakarta dan Sleman disebut sebagai wilayah yang paling ramai dikunjungi wisatawan.
“Tahun ini ada lonjakan yang diduga akibat akses jalan tol yang semakin mendekati pusat kota, jalur utara via Tempel dan jalur timur via Prambanan,” ujarnya di Kampus UGM, Selasa (17/3/2026).
Destha memprediksi puncak arus kedatangan terjadi pada H-5 hingga H-3 Lebaran. Sementara itu, puncak kunjungan wisata diperkirakan berlangsung pada 22 Maret 2026. Tingginya jumlah wisatawan ini, menurutnya, perlu diimbangi dengan perhatian terhadap isu lingkungan dan komitmen pariwisata berkelanjutan.
Dampak lingkungan dan imbauan tidak buang sampah sembarangan
Ia mengingatkan bahwa lonjakan hingga 8,2 juta orang berpotensi menambah beban lingkungan secara signifikan.
Oleh karena itu, pengelola destinasi dan wisatawan diimbau memperkuat komitmen menjadikan DIY sebagai destinasi pariwisata yang bertanggung jawab.
“Jangan sampai euforia nostalgia di Jogja justru meninggalkan masalah sampah yang mencemari citra estetik Yogyakarta. Penting untuk diperhatikan terkait dampak lingkungan dari ledakan jumlah pengunjung ini. Kita sama-sama menjaga agar lonjakan kunjungan tidak meninggalkan lonjakan volume sampah di titik-titik keramaian,” tegasnya.
Baca juga: Tips mudik menggembirakan untuk anak
Yogyakarta tetap jadi destinasi favorit wisata lebaran
Destha menilai DIY tetap menjadi magnet wisata saat libur Lebaran karena menawarkan beragam alternatif destinasi wisata yang mudah dijangkau.
Selain itu, konektivitas transportasi yang semakin baik, terutama melalui Tol Trans Jawa, memudahkan akses wisatawan yang menggunakan jalur darat.
Berbagai wilayah di DIY juga dikenal memiliki harga kuliner yang relatif terjangkau.
“Jogja dikenal sebagai destinasi wisata murah. Selain itu, Jogja menyimpan sejuta kenangan bagi mereka yang pernah menempuh pendidikan atau bekerja di kota ini. Libur Lebaran menjadi momen yang tepat untuk bernostalgia,” jelasnya.
Sejumlah destinasi wisata populer seperti Malioboro, Titik Nol, Tugu Yogyakarta, kawasan Keraton, Tamansari, serta pantai-pantai di Kabupaten Bantul diperkirakan tetap menjadi tujuan utama wisatawan. Selain itu, kawasan Gunungkidul dengan berbagai destinasi instagramable juga diprediksi mengalami peningkatan kunjungan wisata.
Tidak hanya itu, kampung wisata dengan fasilitas homestay serta desa-desa wisata di Bantul, Sleman, dan Kulon Progo turut berpeluang besar menarik wisatawan. Baik melalui daya tarik destinasi maupun paket aktivitas berbasis desa wisata.
Perilaku wisatawan Lebaran 2026 cenderung lebih hemat
Meski jumlah kunjungan wisatawan meningkat signifikan, Destha memperkirakan hal ini tidak serta-merta berdampak pada tingginya pengeluaran wisatawan. Dari sisi perilaku ekonomi, wisatawan diprediksi akan lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
Ia menilai kondisi saat ini menunjukkan daya beli wisatawan cenderung rendah. Banyak wisatawan diperkirakan memilih aktivitas wisata gratis di ruang publik, menggunakan akomodasi budget seperti hotel murah atau homestay, serta melakukan perjalanan singkat (one-day trip).
“Intinya, wisatawan tahun ini nampaknya akan lebih selektif dalam berbelanja. Meski demikian, tetap ada sebagian yang mengalokasikan anggaran lebih untuk kuliner dan oleh-oleh,” pungkasnya.



No Comment! Be the first one.