Medelky Anouw, kembali ke Tanah Air dan bangun Papua
Menempuh pendidikan dan melanjutkan karier sebagai pendidik di Amerika Serikat mengetuk hati Medelky Anouw. Kenyamanan tinggal di negara mapan membuatnya sadar atas ketimpangan di tanah Papua.
Lulusan kampus ternama di Amerika Serikat, Arizona State University dan sempat ikut seleksi menjadi guru sains di New Jersey, justru membuat Medelky Anouw ingin kembali ke Papua, tanah kelahirannya.
Table Of Content
Padahal, sebagai teaching assistant di sekolah di New Jersey, apapun serba mudah. Laporan praktikum digital murid dikoreksi secara digital. Semua rapi, semua mudah.
Kehidupan yang mulai mapan di negeri Paman Sam mengingatkannya bahwa masih banyak anak di Papua tidak seberuntung dirinya. Mereka sekolah tanpa guru, laboratorium minim alat, dan tidak ada buku untuk menjadi jendela dunia.
“Di momen itu, Tuhan seperti memperlihatkan perbandingan langit dan bumi. Kamu mau kerja di sini, tapi di Papua masih sangat jauh, dan saya menangis,” kata Deky, begitu ia akrab disapa, mengutip laman LPDP.
Pendidik kontekstual
Deky kini menjadi Plt Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan di Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Sehari-hari, ia memiliki tugas untuk mengawal dan memastikan penyaluran dana pendidikan untuk anak-anak Papua agar mereka bisa bersekolah dengan baik.
Jauh sebelum menduduki jabatan itu, Deky berkarier sebagai guru di sekolah swasta. Ia jatuh cinta dengan bidang STEM dan mengajar kimia, mengusung gaya yang disebutnya sebagai pendidikan kontekstual.
“Kami langsung contohkan penjumlahan dengan apa yang biasanya mereka lihat sehari-hari. Misal dengan ubi, wortel, atau misalnya hal-hal lain yang mereka jumpai di kehidupan sekitar itu bisa kita pakai sebagai alat peraga” tutur Deky.
Lulusan S2 Kimia dari Arizona State University ini melihat proses pengajaran haruslah bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari dari anak didik. Mencontohkan dengan berbagai situasi yang dihadapi untuk dipadukan dengan pelajaran dinilai ampuh mendongkrak minat sekaligus pemahaman siswa.
Latar belakang Deky secara umum sama dengan anak-anak Papua pada umumnya. Hidup dalam keterbatasan akses dan kesederhanaan. Untungnya, ia punya orang tua yang sudah memahami bahwa pendidikan adalah jalan membuka masa depan lebih baik.
“Bapak saya itu sangat mendukung untuk pendidikan. Pulang kantor, langsung ajarin kami baca, tulis, hitung. Kadang kalau malas, ya dihajar,” katanya sambil tersenyum mengenang.
Tidak menyesal kembali ke Papua
Keputusannya pulang ke tanah Papua dengan bekal lulusan kampus top Amerika Serikat tak pernah membuatnya menyesal.
Hatinya begitu besar bertaut dengan tanah air yang masih butuh banyak pertolongan. Deky sekarang di garda terdepan turun dari kampung ke kampung bermedan ekstrim yang hanya bisa dijangkau pesawat kecil.
“Saya lihat sekolah-sekolah yang ada di daerah konflik, sekolah-sekolah yang terbakar, sekolah-sekolah yang tidak ada guru.” tuturnya.
Medelky dilahirkan di Beoga, sebuah distrik terpencil di Kabupaten Puncak, Papua Tengah.
Ia lima bersaudara dan merupakan anak keempat dari ayah yang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS), ibunya mengurus domestik membesarkan anak-anak. Ayahnya juga kadang mengajar di saat ada kekosongan di kelas meski tidak pernah tetap.
Lingkungan di sekitarnya tidak selalu ramah bagi pemimpi. Banyak teman sebaya yang putus sekolah. Lem dan mabuk lebih cepat dikenal daripada buku dan mimpi. Deky sadar jika ia tidak memelihara kehendaknya sendiri, lingkungan akan menelannya.
Deky menjadi generasi pertama di keluarganya yang menamatkan S1 dan S2. Sewaktu ayahnya meninggal saat Deky S1, pamannya datang memberikan support penuh hingga dirinya mampu menyelesaikan studi dan memulai karier menjadi guru.
Deky kemudian malang melintang di sejumlah kota Indonesia untuk mengajar, terakhir ia pulang dan mengajar kimia dan geografi di SMA Kristen Kalam Kudus, Jayapura.
Di ruang kelas sederhana itulah Deky menemukan petunjuk pengajaran, bahwa anak-anak Papua bisa mencintai sains jika sains bicara dengan bahasa mereka sendiri. Namun ia juga sadar, pengetahuannya belum cukup.
“Saya merasa harus S2,” ujarnya.
Informasi LPDP kala itu belum semasif sekarang. Deky mengetahuinya dari jejaring Facebook dan pengumuman Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Papua. Ia mendaftar, berjuang di pengayaan bahasa Inggris hingga sembilan bulan, jatuh bangun mengejar skor yang disyaratkan.
“Yang paling penting adalah saya tidak menyerah,” katanya. Sebelum berangkat ke Amerika, Deky mengikuti program pengayaan bahasa yang merupakan paket beasiswa. Enam bulan pengayaan belum cukup, skor IELTS belum tembus. Ia bisa menyerah, tapi memilih tidak. Ia memperpanjang tiga bulan lagi dan berhasil.
Arizona State University akhirnya menyambut Deky. Ia belajar kimia, terlempar ke bidang Hydrothermal Organic Geochemistry karena pandemi menutup jalur pendidikan kimia murni.
Laboratorium Amerika memperlihatkan dunia yang lain, alat lengkap, budaya bertanya tanpa rasa sungkan, dan profesor yang berkata, there is no stupid question paling ia ingat.
Terjun ke medan konflik
Ia kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan ASN di Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah. Jabatan resminya lt Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan.
Tugasnya mengurus ratusan beasiswa: Siswa Unggul Papua, kerja sama perguruan tinggi, lebih dari lima ribu mahasiswa penerima bantuan. Angka-angka besar, tapi medan kerjanya justru sangat personal.
Terdapat program bergulir bernama Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang mengintegrasikan pendidikan formal, pembentukan karakter, dan kegiatan ekstrakurikuler untuk meningkatkan disiplin dan mutu akademik. Ada juga program Sekolah Berpola Asrama yang terintegrasi dari tingkat SD, SMP, dan SMA di satu lokasi.
Program ini terkhusus diprioritaskan untuk Orang Asli Papua (OAP). Deky mendapat bagian tugas untuk terjun langsung ke lapangan mengawal berlangsungnya SSH. Seluruh daerah harus dijangkau tanpa terkecuali lokasi-lokasi yang kerap menjadi medan konflik seperti di Puncak, Intan Jaya, Puncak Jaya.
Ada sekolah yang empat tahun tidak beroperasi karena sering terjadi ketegangan dan kontak senjata. Guru-guru tidak ada yang berani beraktivitas di sana. Sementara, di pihak masyarakat mereka ingin kehadiran pendidikan.
“Hati saya hancur ketika lihat anak-anak harus naik turun gunung, jalan kaki tanpa alas, ke sekolah yang bukan sekolah mereka,” kata Deky saat berada di sana.
Mereka sangat antusias mendapati rombongan Deky datang. Ia menyapa mereka. Merekam perkenalan sederhana dan hangat bersama anak-anak itu. Memberi uang jajan dan tak kuasa menahan sedih.
Deky langsung berkoordinasi dengan perangkat setempat untuk menghimpun segala kondisi dan melakukan tindakan.
Sebelum menjadi ASN, ia dan teman-temannya mendirikan Yayasan Pusat Sains Papua. Mereka mengajar matematika yang kontekstual. Misalnya ubi, wortel, hasil kebun menjadi alat hitung.
Kini di dinas, terobosan itu meningkat menjadi kebijakan. Ia menyusun kurikulum sains kontekstual, misalnya menggunakan media buah merah dan terong Belanda sebagai indikator asam-basa saat menjelaskan reaksi kimia.
Ditanya berkali-kali terkait keputusannya pulang ke Papua, Deky konsisten menjawab tidak menyesal. Panggilan hati untuk membangun tanah airnya sudah begitu keras. Ia menikmati setiap proses perubahan dan rencana-rencana besar yang akan digapai.
Pemerataan pendidikan di Papua adalah hal mutlak yang dicita-citakan Deky. Mimpi besarnya ingin melihat dalam 10 sampai 20 tahun lagi para anak-anak Papua ini bisa menjadi versi terbaik dengan kemampuan mereka masing-masing.
“Dengan keputusan yang saya ambil, hari ini saya balik ke Papua saya tidak menyesal dengan apa yang saya lakukan. Turun ke kampung-kampung sampai dari pelosok hati saya bergetar. Saya bisa lakukan hal-hal kecil saja buat anak-anak ini, itu udah kepuasan terbesar sih buat saya. Itu sudah kehormatan yang besar buat saya, itu sih yang paling utama. Bukan nilai uangnya,” tutup Deky.



No Comment! Be the first one.