LPDP 2026 dorong talenta industri lewat beasiswa STEM dan SHARE
Kebutuhan jumlah lulusan STEM berkualitas bukan berarti meninggalkan bidang ilmu lainnya. Keduanya harus berjalan bersinergi dalam gerbong menuju kemajuan bersama.
Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2026 telah dibuka sejak 22 Januari hingga 23 Februari.
Tahun ini, LPDP membagi dua formasi program, yakni beasiswa STEM Industri Strategies dan SHARE yang merupakan singkatan dari Social, Humanities, Art for People, Religious Studies, dan Economics.
Kedua kelompok ini adalah hasil pengerucutan arah baru prioritas penguatan sektor industri dengan tanpa menghilangkan variabel pendukung lainnya di bidang sosial humaniora.
Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mengungkap bahwa hanya 18,47% mahasiswa Indonesia yang lulus dari Bidang STEM.
Jumlah ini berbeda dengan Malaysia yang mencapai 37,19%, Singapura dengan 34,30%, dan India dengan 31,41%.
Ada kesamaan di mana negara maju cenderung memiliki rasio lulusan STEM yang tinggi dan berkelindan dengan kesiapan ekosistem industri maju.
Format baru ini mengubah program beasiswa LPDP yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir seperti program Beasiswa Reguler, Targeted, dan Afirmasi.
Namun, Beasiswa LPDP 2026 tidak menghilangkan sepenuhnya berbagai skema lama yang ada. Kemudahan kelompok afirmasi, prioritas kampus terbaik dunia tetap hadir tersedia. Terdapat pula program beasiswa skema co-funding, non-degree, kerjasama khusus, jalur double degree dan joint degree.
Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso menjelaskan bahwa pengembangan talenta di bidang industri ini tidak lain dalam rangka mengejar Indonesia Emas 2045 yang waktunya kian dekat. Sektor industrialisasi diharapkan menjadi pemain kunci penggerak kemajuan Indonesia.
Meski demikian, ia memastikan, kebutuhan jumlah lulusan STEM berkualitas bukan berarti meninggalkan bidang ilmu lainnya. Keduanya harus berjalan bersinergi dalam gerbong menuju kemajuan bersama.
“Industri kalau mau tumbuh berkembang dia harus disupport juga oleh ekosistem pendukung yang tentunya di luar masalah teknologi saja. Dia bisa berupa pelayanan publik, sistem law enforcement, policy yang dihasilkan perangkat negara. Tentunya semuanya memberikan arahan untuk kemajuan industri” ujar Dwi Larso dalam podcast LPDP RI, Senin (26/1/2026).
Tidak hanya itu, pada akhir tahun 2025, LPDP resmi mendapat suntikan Dana Abadi sebanyak Rp25 triliun. Maka, total saat ini, LPDP mengelola Rp180 triliun
Selain itu, skema beasiswa co-funding akan didorong lebih masif guna memaksimalkan cakupan penerima beasiswa baik jenjang master maupun doktor.
Beasiswa ini sebagian telah tersedia pada Seleksi Beasiswa LPDP Tahap 1 yang sedang berlangsung, dan akan terus bermunculan di sepanjang 2026.
“Dana LPDP terhematkan oleh program ini (co-funding). Karena kita hanya membayar kira-kira setengahnya dari program ini. Bahkan ada kerja sama dengan beberapa universitas di suatu negara, LPDP hanya membayar sepertiganya.” ujar Dwi Larso.
Beasiswa Kemitraan tentunya membuka peluang lebih besar karena memiliki jalur spesifik yang terpisah dengan progam beasiswa skema utama.
Jurusan maupun kampus tujuannya juga lebih spesifik sehingga memberikan keuntungan bagi penerima beasiswa yang menekuni bidang terkait.
Lebih lanjut, Direktur Utama LPDP Sudarto menyebut bahwa transformasi Beasiswa LPDP 2026 tidak terhindarkan.
Menurutnya, terdapat konsolidasi seluruh jenjang Beasiswa S1, S2, dan S3 kini dalam satu sistem layanan terintegrasi mulai dari proses pendaftaran, pembiayaan, hingga pengelolaan talenta pasca studi.
“LPDP menegaskan pergeseran paradigma dari educationsentric menuju impact driven. Fokus LPDP tidak lagi semata pada pembiayaan pendidikan atau jumlah lulusan, tetapi pada dampak nyata kontribusi alumni terhadap prioritas pembangunan nasional.” ujar Sudarto.



No Comment! Be the first one.