Thailand jadi Tailan, ini alasan Indonesia mengubah ejaan nama negara
Thailand jadi Tailan, ini merupakan bagian dari kebijakan resmi Indonesia memperbarui ejaan nama negara asing dalam bahasa.
Thailand jadi Tailan dalam bahasa Indonesia. Perubahan ejaan Thailand menjadi Tailan diterapkan Indonesia pada awal 2026, sebagai bagian dari pembaruan penulisan sejumlah nama negara asing dalam bahasa Indonesia.
Table Of Content
- Indonesia resmi memperbarui ejaan nama negara asing
- Tailan, Paraguai, dan Uruguai, ejaan baru yang menyita perhatian
- Apakah nama resmi negaranya ikut berubah?
- Proses panjang di balik perubahan ejaan
- Mengapa nama negara bisa disesuaikan?
- Dampak bagi pendidikan dan media
- Bahasa, identitas, dan cara kita melihat dunia
Kebijakan ini memang tidak diumumkan dengan gegap gempita. Ia hadir perlahan menyelinap ke dalam dokumen resmi, buku ajar, hingga naskah pemberitaan media dan baru terasa ketika publik mulai menemukannya dalam keseharian.
Di tengah dunia yang kerap memaknai perubahan sebagai peristiwa politik besar, penyesuaian ejaan ini justru terasa sunyi, namun dekat.
Perubahan penulisan Thailand menjadi Tailan menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan.
Bagi sebagian orang, ejaan baru ini terdengar janggal. Bagi yang lain, ia memantik rasa ingin tahu, mengapa negara yang sejak lama kita kenal tiba-tiba ditulis berbeda?
Indonesia resmi memperbarui ejaan nama negara asing
Perubahan ejaan Thailand menjadi Tailan adalah kebijakan resmi pemerintah Indonesia untuk menyesuaikan penulisan nama negara asing dengan kaidah fonologi dan ortografi bahasa Indonesia.
Pembaruan ejaan ini bukan keputusan mendadak. Pemerintah Indonesia mengajukannya melalui forum United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dokumen resminya tercatat dengan nomor GEGN.2/2025/122/CRP.122 dan dibahas dalam Sidang UNGEGN 2025 di New York.
Tujuan utama langkah ini adalah menyelaraskan penulisan nama negara asing dengan sistem bunyi dan ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia, bukan semata menyalin bentuk dari bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
Daftar lengkap nama-nama negara dalam ejaan bahasa Indonesia dapat dilihat dalam dokumen resmi UNGEGN.
Tailan, Paraguai, dan Uruguai, ejaan baru yang menyita perhatian
Dari sekian banyak penyesuaian, Tailan menjadi yang paling menonjol. Selain itu, Paraguay ditulis Paraguai, dan Uruguay menjadi Uruguai. Perubahan serupa juga berlaku pada Swiss yang kini ditulis Swis, serta Afghanistan menjadi Afganistan.
Polanya sebenarnya tidak asing. Bahasa Indonesia sejak lama melakukan penyesuaian serupa: Italia, Australia, Jepang, atau Filipina adalah contoh bagaimana nama negara diserap agar lebih sesuai dengan pengucapan penutur Indonesia.
Apakah nama resmi negaranya ikut berubah?
Jawabannya: tidak.
Di tingkat internasional, dunia tetap mengenal Thailand, Paraguay, dan Uruguay.
Di sini yang berubah hanyalah cara Indonesia menuliskannya dalam konteks bahasa Indonesia, terutama untuk dokumen pemerintahan, pendidikan, media, dan administrasi resmi.
Dengan kata lain, ini bukan soal diplomasi atau politik luar negeri, melainkan urusan bahasa tentang bagaimana Indonesia memilih merepresentasikan dunia melalui sistem bahasanya sendiri.
Proses panjang di balik perubahan ejaan
Dikutip Nalacitra dari berbagai sumber, standardisasi ini dipimpin oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai otoritas utama penamaan geografis nasional.
Dalam prosesnya, BIG bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Luar Negeri, perguruan tinggi, serta para pakar linguistik melalui berbagai forum resmi, termasuk Sidang Komisi Istilah.
Indonesia sejatinya sudah aktif mengajukan pemadanan nama negara sejak 2019. Daftar tersebut kemudian diperbarui kembali pada 2024 untuk memperbaiki inkonsistensi ejaan agar lebih akurat secara fonologis dan ortografis. Hasilnya baru benar-benar terasa di ruang publik pada awal 2026.
Mengapa nama negara bisa disesuaikan?
Dalam sejarah global, perubahan nama negara kerap berkaitan dengan identitas, kolonialisme, atau pergantian rezim seperti Swaziland yang menjadi Eswatini atau Burma yang kini dikenal sebagai Myanmar. Namun kasus Indonesia kali ini berbeda.
Hal yang berubah bukan identitas negara lain, melainkan cara bahasa Indonesia menyebut dan menuliskannya. Setiap bahasa memiliki hak dan logikanya sendiri dalam menyerap istilah asing. Bahasa Inggris, Prancis, atau Jepang pun memiliki sebutan berbeda untuk negara yang sama.
Dampak bagi pendidikan dan media
Perubahan ejaan nama negara ini membawa implikasi nyata, terutama bagi dunia pendidikan dan media.
Buku pelajaran, bahan ajar, ensiklopedia, serta naskah berita perlu menyesuaikan diri secara bertahap. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga akan memasukkan ejaan-ejaan baru ini dalam edisi pemutakhiran mendatang.
Bagi pelajar, guru, dan orang tua, momen ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa bahasa tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus bergerak, menyesuaikan diri, dan bernegosiasi dengan dunia yang berubah.
Bahasa, identitas, dan cara kita melihat dunia
Perubahan Thailand jadi Tailan barangkali tampak sepele.
Namun di baliknya tersimpan satu pesan penting: bahasa Indonesia sedang menegaskan dirinya sebagai bahasa hidup, yang tidak sekadar meniru, tetapi juga mengolah dan memaknai.
Dalam dunia yang semakin terhubung, cara kita menulis nama negara ternyata bukan hanya soal ejaan melainkan tentang bagaimana kita memosisikan diri, sebagai penutur bahasa, di tengah percakapan global.



No Comment! Be the first one.