Wuri Handayani dan upaya membangun kampus inklusif
Penghargaan ULD Terbaik I 2024 untuk UGM bukan sekadar prestasi institusi. Di baliknya, ada proses panjang, advokasi, dan pengalaman hidup Wuri Handayani.
Penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Pelaksana Pembentukan dan Penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Terbaik I Tahun 2024 yang diraih Universitas Gadjah Mada (UGM) di Anugerah Diktisaintek 2025 pada 19 Desember 2025 lalu bukan sekadar soal prestasi kelembagaan.
Table Of Content
Di baliknya, ada proses panjang, advokasi, dan pengalaman hidup yang membentuk cara kampus memahami inklusivitas secara lebih manusiawi.
Salah satu sosok kunci lahirnya kampus inklusif dengan ULD adalah Wuri Handayani. Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM ini kini memimpin ULD, unit yang memastikan mahasiswa penyandang disabilitas dapat belajar setara, bukan karena diberi keringanan, melainkan karena haknya dihormati.
Inklusivitas bukan sekadar fasilitas
Pembentukan ULD bukan ide yang lahir tiba-tiba. Itu merupakan amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang kemudian dipertegas melalui Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023.
Namun, bagi Wuri, payung hukum saja tidak cukup untuk memberikan rasa inklusivitas bagi penyandang disabilitas.
Mahasiswa penyandang disabilitas, menurutnya, menghadapi tantangan yang berlapis. Bukan hanya keterbatasan fisik atau sensorik, tetapi juga rendahnya kepercayaan diri, stigma sosial, hingga aturan yang belum sepenuhnya berpihak.
Secara individual, penyandang disabilitas memiliki kepercayaan diri yang rendah.
Sedangkan, secara sosial, penerimaan lingkungan dan stigma masyarakat masih memandang kemampuan disabilitas sebelah mata.
Kemudian, secara struktural, masih banyak peraturan yang tidak memberikan perlindungan bagi pemenuhan hak pendidikan mahasiswa.
“ULD hadir untuk memastikan tantangan-tantangan itu tidak menghalangi mereka menjadi versi terbaik dari dirinya,” kata Wuri.
Di ULD, pendekatan yang digunakan berbasis kebutuhan individual. Mahasiswa tidak diperlakukan seragam. Setiap ragam disabilitas memiliki kebutuhan yang berbeda dan itu perlu difasilitasi secara adil.
Berangkat dari pengalaman personal
Komitmen Wuri terhadap isu disabilitas tidak lahir dari ruang rapat, melainkan dari pengalaman hidupnya sendiri.
Ia pernah mengalami diskriminasi struktural, termasuk ditolak bekerja karena disabilitas. Saat menempuh studi magister di Inggris melalui beasiswa Chevening, Wuri merasakan perbedaan yang tajam.
Di kampus-kampus Inggris, layanan disabilitas sudah menjadi sistem. Sejak awal, mahasiswa ditanya dukungan apa yang dibutuhkan agar bisa belajar optimal, baik akademik maupun non-akademik.
Pengalaman belajar di bidang Disability and Social Policy, bersama mahasiswa dengan ragam disabilitas, termasuk fisik, netra, dan tuli, mengubah cara pandangnya. Inklusivitas, bagi Wuri, bukan soal belas kasihan, tetapi desain sistem yang adil.
Sepulang ke Indonesia di tahun 2019, gagasan itu ia bawa ke UGM. Wuri mulai melakukan advokasi agar layanan disabilitas tidak berhenti di kegiatan kemahasiswaan, tetapi masuk ke ranah kebijakan universitas.
Merintis kampus inklusif di tengah keraguan
Proses pendirian ULD UGM berlangsung bertahun-tahun. Mulai dari advokasi internal, penyusunan SOP, hingga naskah akademik. Tantangan utama pada fase awal adalah memastikan keberlanjutan unit.
Wuri, yang bergabung dengan UGM sejak 2018, ingin meyakinkan kampus bahwa ULD merupakan amanat undang-undang, sekaligus kebutuhan nyata mahasiswa.
Pandemi pun sempat memperlambat langkah.
Namun, momentum kembali menguat pada 2023, hingga akhirnya ULD resmi berdiri pada Mei 2024 dan diresmikan pada Desember 2024.
ULD, yang dibentuk melalui Peraturan Rektor UGM No. 19/2024 itu menempati kantor di Kompleks Bulaksumur, Jalan Mahoni No. C-18, Sagan, Sleman, DI Yogyakarta.
Kini, ULD UGM melayani puluhan mahasiswa penyandang disabilitas, dari disabilitas fisik, netra, tuli, hingga mental.
Layanan yang diberikan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga pendampingan, asesmen kebutuhan, serta rekomendasi pembelajaran inklusif kepada fakultas.
“Mahasiswa disabilitas yang diterima di UGM memiliki kapasitas intelektual yang tinggi dan relatif mandiri. Namun, pada kebutuhan tertentu, mereka tetap memerlukan dukungan sistemik agar dapat berkembang optimal,” ujar Wuri.
Berharap jadi pusat rujukan

Bagi Wuri, penghargaan nasional yang diterima ULD UGM adalah pengakuan bahwa upaya menjadi inklusif dan humanis itu mungkin dan layak diperjuangkan.
”Saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan penghargaan. Ini merupakan pengakuan bahwa upaya menjadi inklusif dan humanis diapresiasi,” bebernya.
Ia membayangkan ULD berkembang menjadi center of excellence, pusat rujukan riset disabilitas, pengembangan sistem pembelajaran inklusif, hingga inovasi produk yang ramah disabilitas.
“UGM adalah miniatur Indonesia. Kalau inklusivitas bisa tumbuh kuat di sini, dampaknya bisa jauh lebih luas,” tutupnya.



No Comment! Be the first one.