Rumah tak selalu aman: trauma kompleks dalam keluarga dan luka dewasa muda
Tidak semua rumah adalah tempat aman. Studi UGM mengungkap bagaimana trauma kompleks dalam keluarga memengaruhi kesehatan mental dewasa muda dan proses pemulihannya.
Rumah sering dibayangkan sebagai tempat pulang ruang yang menawarkan rasa aman.
Table Of Content
Namun, bagi sebagian orang, justru dari ruang inilah luka bermula.
Bukan dari satu peristiwa besar, melainkan dari relasi yang berlangsung terus-menerus dan perlahan membentuk pengalaman yang tidak selalu disadari sebagai trauma.
Trauma bisa datang dari mana saja, termasuk dari lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi tempat untuk berlindung. Meskipun trauma tidak selalu berakhir dengan gangguan psikologis, masih terdapat resiko bagi seorang penyintas sering kali masih mengalami distress pascatrauma atau menampilkan ilusi pertumbuhan.
Trauma kompleks: luka yang tumbuh dari relasi terdekat
Fenomena ini menjadi fokus riset Amalia Rahmandani, mahasiswa jenjang doktor di Fakultas Psikologi UGM.
Penelitiannya mengkaji dampak trauma pada fase emerging adult atau dewasa muda berusia 18–25 tahun.
Menurut Amalia, trauma kompleks merujuk pada pengalaman traumatis yang terjadi secara berulang dan bersifat kronis.
Dalam banyak kasus, pengalaman ini tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada relasi yang dekat terutama dalam keluarga atau sistem pengasuhan primer.
“Tuntutan kepada anak untuk memberikan hal istimewa sering kali menjadi salah satu faktor timbulnya trauma kompleks, disamping kekerasan baik fisik, psikologis, maupun seksual,” kata Amalia dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang berlangsung pada Jumat (6/3/2026) di Fakultas Psikologi UGM.
Trauma dalam konteks ini bukan sekadar peristiwa tunggal, tetapi akumulasi dari berbagai persoalan yang tidak terselesaikan.
“Hubungan struktural antara penyintas trauma kompleks menyebabkan luka mendalam bagi penyintas dan berpengaruh terhadap pertumbuhan pascatrauma,” ujarnya.
Penyintas trauma dan upaya memperbaiki diri
Di balik pengalaman yang berlapis, penyintas trauma kompleks tidak selalu berada dalam posisi pasif. Ada kesadaran untuk bertahan sekaligus memperbaiki diri, meskipun prosesnya sering kali berlangsung dalam diam.
Amalia menjelaskan bahwa penyintas trauma kompleks dalam keluarga cenderung berjuang untuk dirinya sendiri, alih-alih bergantung pada orang lain. Dalam kondisi ini, dukungan sosial menjadi elemen penting dalam proses pemulihan.
“Diperlukan upaya penyembuhan trust issue terlebih dahulu. Dengan kata lain bahwa penyintas memiliki kesempatan untuk tumbuh,” ujarnya.
Dukungan sosial tidak hanya berfungsi sebagai bantuan, tetapi juga sebagai ruang aman untuk membangun kembali kepercayaan yang sempat retak dalam relasi terdekat.
Pertumbuhan pascatrauma: antara luka dan harapan
Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pascatrauma bukanlah proses yang sederhana. Ia bersifat dinamis, multidimensional, dan bergerak secara spiral progresif.
Dalam proses tersebut, pertumbuhan dan distress termasuk gangguan stres pascatrauma kompleks dapat hadir secara bersamaan. Artinya, seseorang dapat tetap bertumbuh tanpa sepenuhnya lepas dari luka.
Pertumbuhan pascatrauma tidak muncul dari ketiadaan penderitaan, melainkan melalui proses refleksi mendalam dan upaya membangun kembali makna diri serta relasi.
“Namun pertumbuhan pascatrauma tidak muncul dari ketiadaan penderitaan, tetapi melalui refleksi mendalam, rekonstruksi makna diri dan relasi serta dukungan dari fleksibilitas koping (mengatasi masalah) yang bersifat proaktif, bersyukur, dan harapan realistis,” jelasnya.
Pada akhirnya, kemampuan individu dalam mengelola tekanan menjadi salah satu kunci penting dalam perjalanan tersebut.
“Kemampuan individu mengelola tekanan melalui fleksibilitas koping terbukti memainkan peran penting dalam proses Posttraumatic Growth,” pungkasnya.



No Comment! Be the first one.