Apa perbedaan Prodi Teknik Biomedis dan Ilmu Biomedis? Cari tahu letak perbedaannya
Apa perbedaan teknik biomedis dan ilmu biomedis? Simak penjelasan tentang pendekatan, fokus kajian, hingga perannya dalam dunia kesehatan.
Perbedaan teknik biomedis dan ilmu biomedis masih sering membingungkan banyak orang. Padahal, keduanya merupakan bidang keilmuan yang berbeda, baik dari segi pendekatan, fokus kajian, maupun perannya dalam dunia kesehatan.
Table Of Content
Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Biomedis Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Rini Dharmastiti, menjelaskan bahwa perbedaan utama antara kedua bidang tersebut terletak pada pendekatan keilmuan yang digunakan.
Menurutnya, ilmu biomedis lebih berfokus pada kajian kedokteran dan biologi yang berkaitan langsung dengan penyakit maupun sistem tubuh manusia.
Sementara itu, teknik biomedis merupakan bidang yang memadukan ilmu teknik dengan kebutuhan medis.
“Kalau ilmu biomedis itu monodisiplin yang terkait dengan biomedis atau kedokteran. Sementara teknik biomedis adalah aplikasi dari engineering atau keteknikan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di bidang medis,” ujar Rini kepada Nalacitra beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, dalam praktiknya teknik biomedis menggunakan berbagai prinsip keteknikan, seperti fisika, matematika, hingga desain teknologi, untuk mengembangkan berbagai solusi di bidang kesehatan.
Secara umum, perbedaan teknik biomedis dan ilmu biomedis dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:
• Teknik biomedis berfokus pada pengembangan teknologi dan alat kesehatan menggunakan ilmu teknik.
• Ilmu biomedis lebih fokus pada penelitian biologi dan kedokteran yang berkaitan dengan penyakit dan sistem tubuh manusia.
• Teknik biomedis bersifat multidisiplin, sedangkan ilmu biomedis lebih monodisiplin.
Perbedaan pendekatan tersebut membuat teknik biomedis berkembang seiring kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan kemandirian di sektor alat kesehatan.
Baca juga: 98% alat kesehatan Indonesia masih impor, ilmu teknik biomedis jadi kunci kemandirian
Menjawab ketergantungan alat kesehatan impor
Rini menilai pengembangan teknik biomedis menjadi penting karena Indonesia masih sangat bergantung pada alat kesehatan impor.
Menurutnya, sebagian besar alat kesehatan yang digunakan di Indonesia masih berasal dari luar negeri.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada harga alat kesehatan yang relatif mahal, tetapi juga pada kesesuaian produk dengan kondisi masyarakat Indonesia.
“Alat kesehatan yang ada di Indonesia itu sebagian besar masih impor. Masalahnya bukan hanya harganya mahal, tetapi juga belum tentu cocok dengan kondisi orang Indonesia,” jelasnya.
Ia mencontohkan bahwa perbedaan tersebut bisa terlihat dari berbagai aspek, mulai dari ukuran alat, material yang digunakan, hingga desain yang belum tentu sesuai dengan karakteristik tubuh masyarakat Indonesia.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 285 juta jiwa, kebutuhan alat kesehatan di dalam negeri pun sangat besar.
Kondisi ini juga berkaitan dengan pembiayaan layanan kesehatan nasional melalui BPJS Kesehatan, yang harus menanggung layanan kesehatan bagi sebagian besar masyarakat.
Rini menegaskan, pengembangan inovasi alat kesehatan dalam negeri menjadi salah satu langkah penting untuk menekan biaya layanan kesehatan sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap teknologi medis.
Pendekatan multidisiplin
Dalam pengembangannya, teknik biomedis tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu disiplin ilmu.
Rini menjelaskan bahwa bidang ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin yang melibatkan berbagai bidang keilmuan, mulai dari insinyur, dokter, hingga peneliti.
Sebagai contoh, dalam pengembangan stent jantung, para insinyur tidak hanya merancang bentuk dan kekuatan material. Mereka juga harus bekerja sama dengan dokter untuk memahami karakteristik pembuluh darah manusia serta kebutuhan klinis pasien.
Selain itu, teknologi medis yang dikembangkan juga harus melalui berbagai tahap pengujian sebelum dapat digunakan pada manusia, termasuk uji klinis pada hewan.
“Untuk membuat alat kesehatan tidak cukup hanya dari sisi teknik. Harus bekerja sama dengan dokter, peneliti, bahkan sampai tahap uji klinis sebelum digunakan pada pasien,” kata Rini.
Proses tersebut juga melibatkan berbagai pihak lain, seperti pelaku industri yang memproduksi alat kesehatan secara massal, serta lembaga regulator yang mengatur perizinan dan standar keamanan produk medis.
Perbedaan tempat studi
Selain dari pendekatan keilmuan, perbedaan antara teknik biomedis dan ilmu biomedis juga terlihat dari tempat studi di perguruan tinggi.
Rini menjelaskan bahwa ilmu biomedis umumnya berada di bawah fakultas kedokteran karena fokus kajiannya berkaitan langsung dengan ilmu medis.
Sementara itu, teknik biomedis biasanya berada di lingkungan fakultas teknik atau program studi multidisiplin, karena menggabungkan berbagai ilmu keteknikan dengan kebutuhan di bidang kesehatan.
“Ilmu biomedis biasanya masuk di fakultas kedokteran. Sedangkan teknik biomedis berada di bidang teknik atau program multidisiplin karena menggabungkan ilmu engineering dengan kebutuhan medis,” ujarnya.
Peran bagi masa depan kesehatan
Menurut Rini, pengembangan teknik biomedis memiliki peran strategis dalam mendukung kemandirian teknologi kesehatan di Indonesia.
Dengan kebutuhan alat kesehatan yang terus meningkat, Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang mampu merancang dan mengembangkan inovasi teknologi medis secara mandiri.
“Dengan kebutuhan yang sangat besar, teknik biomedis menjadi bidang yang penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi kesehatan di Indonesia,” kata Rini.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari bidang ini agar Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada alat kesehatan impor sekaligus memperkuat industri kesehatan nasional.



No Comment! Be the first one.