98% alat kesehatan Indonesia masih impor, ilmu teknik biomedis jadi kunci kemandirian
Ketergantungan Indonesia terhadap alat kesehatan impor masih sangat tinggi. Ilmu teknik biomedis dinilai dapat menjadi jalan untuk menciptakan inovasi alat kesehatan yang lebih sesuai dengan...
Ketergantungan Indonesia terhadap alat kesehatan impor masih sangat tinggi.
Table Of Content
Diperkirakan sekitar 98 persen alat kesehatan yang digunakan di Indonesia berasal dari luar negeri, kondisi yang dinilai berdampak pada mahalnya biaya layanan kesehatan sekaligus belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Biomedis Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada (UGM), Rini Dharmastiti mengatakan tingginya ketergantungan impor tersebut tidak hanya berdampak pada harga alat kesehatan, tetapi juga pada kesesuaian produk dengan kondisi masyarakat Indonesia.
“Alat kesehatan yang ada di Indonesia sebagian besar masih impor. Masalahnya bukan hanya soal harga yang mahal, tetapi juga belum tentu cocok dengan kondisi orang Indonesia,” ujar Rini kepada tim Nalacitra beberapa waktu lalu.
Menurutnya, ketidaksesuaian tersebut dapat terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari ukuran alat, material yang digunakan, hingga desain yang tidak mempertimbangkan karakteristik tubuh masyarakat Indonesia.
Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 285 juta jiwa, kebutuhan alat kesehatan di Indonesia sangat besar.
Ini juga berkaitan erat dengan pembiayaan layanan kesehatan nasional melalui BPJS Kesehatan, yang harus menanggung biaya pelayanan kesehatan bagi sebagian besar masyarakat.
Impor mahal, biaya layanan meningkat

Jika alat kesehatan yang digunakan masih bergantung pada produk impor dengan harga tinggi, biaya layanan kesehatan pun berpotensi semakin meningkat.
Maka, pengembangan alat kesehatan dalam negeri menjadi penting untuk menjaga keterjangkauan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Rini mencontohkan penggunaan kaki palsu sebagai salah satu alat kesehatan yang berkaitan langsung dengan pembiayaan BPJS. Dalam sistem pembiayaan tersebut terdapat batas harga tertentu yang dapat ditanggung oleh BPJS.
“Kalau menggunakan produk dari luar negeri, sering kali tidak bisa ter-cover BPJS. Padahal masih banyak masyarakat yang membutuhkan alat kesehatan dengan biaya terjangkau,” katanya.
Dengan begitu, pengembangan teknologi alat kesehatan dalam negeri dinilai menjadi salah satu jalan untuk menekan biaya sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Indonesia punya potensi
Menurut Rini, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri alat kesehatan sendiri.
Selain memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk material, tidak semua alat kesehatan membutuhkan teknologi yang sangat kompleks untuk diproduksi.
Tantangannya, pengembangan teknologi kesehatan tidak dapat dilakukan oleh satu disiplin ilmu saja.
Dalam studi yang ia dalami, ilmu teknik biomedis membutuhkan kolaborasi multidisiplin, mulai dari insinyur, dokter, hingga peneliti.
Rini meyakini pengembangan ilmu teknik biomedis menjadi salah satu langkah strategis untuk menjawab kebutuhan Indonesia dalam mewujudkan kemandirian alat kesehatan.
Sebagai contoh, dalam pengembangan stent jantung, para insinyur tidak hanya merancang bentuk dan kekuatan material, tetapi juga harus bekerja sama dengan dokter untuk memahami karakteristik pembuluh darah manusia.
Sebelum digunakan pada pasien, teknologi tersebut juga harus melalui tahap uji klinis, termasuk uji pada hewan.
Selain itu, pengembangan alat kesehatan juga melibatkan berbagai pihak lain, seperti ahli bisnis yang dapat membawa inovasi dari tahap prototipe menuju produksi massal, serta proses perizinan dan standarisasi yang menjamin keamanan penggunaan alat pada pasien.
“Ilmu teknik biomedis itu pada dasarnya memadukan prinsip keteknikan dengan kebutuhan di bidang medis. Dari situ lahir inovasi alat kesehatan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung kemandirian teknologi kesehatan di Indonesia,” kata Rini.
Peluang karier di berbagai sektor
Ia menyebut alumni Prodi Teknik Biomedis memiliki peluang berkarier di berbagai sektor, mulai dari peneliti dan akademisi, lembaga riset, industri alat kesehatan, hingga menjadi wirausahawan yang mengembangkan teknologi kesehatan.
Selain itu, lulusan bidang ini juga dibutuhkan dalam lembaga pemerintah seperti Kementerian Kesehatan, badan standardisasi, hingga rumah sakit yang memerlukan tenaga ahli untuk pengelolaan teknologi medis.
Dengan kebutuhan alat kesehatan yang terus meningkat, pengembangan sumber daya manusia di bidang teknik biomedis dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong kemandirian industri kesehatan Indonesia.



[…] 98% alat kesehatan Indonesia masih impor, ilmu teknik biomedis jadi kunci kemandirian […]