Jika roti MBG berjamur, apa masih boleh dikonsumsi?
Konsumsi roti MBG berjamur akan menyebabkan penyakit di dalam tubuh. Sekecil apapun jamurnya, lebih baik dikembalikan ke SPPG.
Menemukan roti dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berjamur? Jangan dimakan ya, Sobat Nalacitra.
Table Of Content
Guru Besar bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zullies Ikawati menjelaskan mengonsumsi roti berjamur dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan.
Pada sebagian orang, itu bisa menyebabkan gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare.
Untuk beberapa individu yang sensitif, jamur bisa memicu reaksi alergi.
Bahkan, jika makanan yang terkontaminasi mengandung mikotoksin dalam jumlah tertentu, dalam jangka panjang, dapat berdampak lebih serius, misalnya gangguan hati atau efek toksik lainnya.
“Pada anak-anak, yang sistem imunnya masih berkembang, risiko efek kesehatan bisa lebih besar dibandingkan orang dewasa,” ucap Zullies, Jumat (6/3/2026).
Roti MBG berjamur bukan karena kedaluwarsa
Zullies menjelaskan, roti berjamur tak selalu melewati masa kedaluwarsa. Bisa saja, roti yang belum melewati tanggal kedaluwarsa sudah berjamur.
Hal ini terjadi karena perlakuan penyimpanan yang tidak baik seperti di tempat yang terlalu lembap atau suhu terlalu hangat.
Dia mengatakan, jamur tumbuh lebih cepat dalam kondisi tersebut. Maka dari itu, roti yang sudah berjamur, sebaiknya tidak dikonsumsi.
Ada beberapa ciri fisik yang menandakan roti tidak layak dikonsumsi. Zullies menyebut diantaranya muncul bintik atau bercak jamur, biasanya berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan.
Roti berbau apek atau asam yang tidak biasa, tekstur menjadi lembab berlebihan atau berlendir, dan adanya perubahan warna pada permukaan roti.
“Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya roti tidak dikonsumsi,” paparnya menyarankan.
Pengawasan kualitas pangan diperketat
Agar tidak terulang kembali, iapun berharap kepada pihak terkait melakukan pengawasan kualitas pangan secara lebih ketat, mulai dari produksi hingga distribusi.
Melakukan kontrol masa simpan dan tanggal produksi pada setiap produk yang didistribusikan, dan melakukan penyimpanan yang sesuai, misalnya pada suhu yang tepat dan lingkungan yang tidak lembap.
Tidak ketinggalan melakukan sistem pemeriksaan sebelum distribusi ke sekolah, sehingga makanan yang tidak layak bisa terdeteksi lebih awal.
“Jika perlu dilakukan pelatihan terkait keamanan pangan bagi pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan sekolah, dan saya kira dengan sistem pengawasan yang baik, risiko kontaminasi pangan seperti ini sebenarnya dapat diminimalkan,” terangnya.
Pemerintah perlu perhatikan serius
Ratusan roti MBG berjamur ditemukan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang kemudian dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Meski dinilai praktis dalam penyimpanan dan distribusi, program MBG yang diwujudkan dalam bentuk roti oleh sejumlah pihak sebaiknya tetap tidak mengabaikan mutu dan kelayakan konsumsi.
Zullies menilai, meski program ini bertujuan meningkatkan asupan gizi untuk anak sekolah namun aspek keamanan pangan harus tetap menjadi prioritas utama.
Sebagai pakar bidang bidang farmakologi dan farmasi klinik, Zullies menjelaskan roti yang berjamur biasanya ditumbuhi oleh kapang (mold) seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus.
Selain pertumbuhan jamurnya sendiri, beberapa jenis kapang, disebutnya, dapat menghasilkan mikotoksin, yaitu senyawa toksik yang dihasilkan oleh jamur.
“Contohnya adalah aflatoksin, ochratoxin, atau toksin lainnya, dan itu tergantung jenis kapangnya. Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, secara prinsip makanan yang sudah berjamur tidak boleh dikonsumsi, karena secara awam kita tidak bisa memastikan jenis jamur yang tumbuh dan apakah sudah menghasilkan toksin atau belum,” jelasnya.



No Comment! Be the first one.