BMKG: Musim kemarau 2026 di Indonesia datang awal, El Nino picu cuaca lebih panas
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal di Indonesia. Peluang munculnya El Nino meningkat dan berpotensi membuat cuaca lebih panas dan kering.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal dari biasanya. Kondisi ini berkaitan dengan berakhirnya fenomena La Nina serta meningkatnya peluang munculnya El Nino pada pertengahan tahun yang berpotensi memicu cuaca lebih panas dan kering di sejumlah wilayah.
Table Of Content
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim kemarau 2026 lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir (1991–2020).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 atau dalam kondisi netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.
“Meski masih netral, peluang munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun ini dengan probabilitas sekitar 50–60 persen,” kata Faisal dalam konferensi pers prakiraan musim kemarau 2026 di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
BMKG juga memprediksi kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) tetap berada pada fase netral sepanjang tahun.
Kapan musim kemarau mulai terjadi?
BMKG menjelaskan bahwa awal musim kemarau biasanya ditandai oleh peralihan angin baratan (Monsun Asia) menjadi angin timuran (Monsun Australia).
Berdasarkan pemantauan BMKG:
- 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah diperkirakan mulai memasuki kemarau pada April 2026
- 184 ZOM (26,3 persen wilayah) diprediksi menyusul pada Mei 2026
- 163 ZOM (23,3 persen wilayah) diperkirakan memasuki kemarau pada Juni 2026
Wilayah yang diperkirakan lebih dulu mengalami kemarau antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Pergerakan awal musim kemarau diprakirakan berawal dari wilayah Nusa Tenggara dan bergerak ke arah barat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Hampir separuh wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih cepat
Dari total 699 zona musim di Indonesia, BMKG mencatat:
- 325 ZOM (46,5 persen) diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari normal
- 173 ZOM (24,7 persen) mengalami awal kemarau normal
- 72 ZOM (10,3 persen) diperkirakan mengalami kemarau lebih lambat
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan percepatan awal musim kemarau ini dapat membuat durasi kemarau menjadi lebih panjang di sejumlah wilayah.
“Kesimpulan umum dari musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini, kita prediksi maju atau lebih awal. Sehingga pada banyak tempat durasinya juga menjadi lebih panjang,” ujar Ardhasena.
Wilayah yang diprediksi mengalami kemajuan awal musim kemarau meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.
Puncak musim kemarau diperkirakan Agustus 2026
BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Agustus 2026, mencakup sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah.
Sementara itu:
- 12,6 persen wilayah diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli
- 14,3 persen wilayah pada September
Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Juli meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil wilayah Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Papua.
Potensi kemarau lebih kering
BMKG juga mencatat musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dari kondisi normal. Sebanyak 451 zona musim atau 64,5 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau.
“Kondisinya kemaraunya tidak seperti tahun 2025. Untuk tahun 2026 ini, kondisinya keringnya di bawah normal dan normal,” kata Ardhasena.
BMKG mengimbau informasi prakiraan musim ini dapat dimanfaatkan sebagai peringatan dini oleh pemerintah daerah dan sektor strategis.
“Informasi ini diharapkan menjadi early warning agar para pemangku kepentingan dapat melakukan aksi dini (early action),” ujar Ardhasena.
Langkah antisipasi dinilai penting terutama pada sektor pertanian, sumber daya air, energi, lingkungan, serta kebencanaan, guna meminimalkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pada 2026.



[…] Baca juga: BMKG: Musim kemarau 2026 di Indonesia datang awal, El Nino picu cuaca lebih panas […]